CERITA BERGAMBARTono si Kura-Kura dan Piknik yang Berguling
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Tono si Kura-Kura dan Piknik yang Berguling

Tono si kura-kura suka membawa barang. Ia membawa apel di keranjang di atas tempurungnya dan batu-batu halus di sakunya. Pernah ia membawa pulang tiga biji ek untuk Riri, padahal Riri tidak memintanya.
Hari Sabtu itu, semua hewan akan piknik di Bukit Semanggi. Tono memasukkan keju, biskuit, kain merah, sebotol selai beri, dua buah pir, dan satu sendok yang sangat besar ke dalam keranjang. “Aku bisa membawa semua makanan piknik!” katanya.
Di kaki bukit, Riri terbang turun di sampingnya. “Keranjangmu penuh sekali.”
“Tidak apa-apa,” kata Tono sambil menggembungkan pipinya. Ia melangkah pelan, satu langkah, lalu satu langkah lagi. Tupai berlari lewat membawa jus beri. Kelinci melompat-lompat dengan wortel di kedua kaki depannya. Tak lama kemudian, yang lain sudah di atas bukit, sedangkan Tono masih mendaki.

Lalu kaki Tono menginjak kerikil bulat. Buk! Keranjangnya miring. Keju menggelinding menuruni jalan. Biskuit meluncur ke rumput. Kain merah melayang melewati kepala Tono dan tersangkut di semak.

Tono menarik kepalanya ke dalam tempurung. “Aku ingin membawa semuanya,” katanya pelan.
Riri hinggap di atas tempurungnya. “Kamu tetap bisa membawa sesuatu,” katanya. “Hanya saja, tidak semuanya sekaligus.”

Riri menarik kain merah dari semak dan membawanya dengan paruhnya. Tupai mengumpulkan biskuit ke dalam kantong kertas kecil. Kelinci menaruh keju di atas daun wortel.
Tono memungut kerikil bulat itu dan memasukkannya ke sakunya, supaya tidak ada yang tersandung. Lalu mereka mendaki bukit bersama-sama.

Di atas bukit, hewan-hewan lain bersorak saat kain merah dibentangkan di rumput. Tono meletakkan keranjangnya yang kosong di tengah kain. Di dalamnya hanya ada kerikil bulat.
“Itu untuk apa?” tanya Kelinci.
Tono tersenyum. Ia meletakkan kerikil itu di samping biskuit. “Dia tamu pertama piknik ini,” katanya.

Semua tertawa. Mereka duduk di atas kain merah, saling mengoper makanan, dan melihat awan putih bergulir di atas Bukit Semanggi.
Tono memang tidak membawa seluruh piknik. Namun saat matahari terbenam, ia membawa kerikil itu pulang, siapa tahu kerikil itu ingin bertualang lagi.