Semua ceritaTobi dan Mercusuar yang Mengantuk
Dari perahu birunya, Tobi melihat mercusuar yang sudah bangun mengirimkan berkas cahaya emas lebar melintasi pelabuhan. Beberapa perahu kecil mengikuti cahaya itu di atas air yang berkilau.DUNIA KECIL MENANTIMU
Dunia keajaiban

Tobi dan Mercusuar yang Mengantuk

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Tobi dan Mercusuar yang Mengantuk

Tobi berdiri di perahu biru di pelabuhan berkabut dan memandang mercusuar kecil berwarna gading dengan mata mengantuk terpejam, lampu gelap, dan pintu merah tertutup. Perahu-perahu nelayan yang samar menunggu di air di belakangnya.

Pada suatu pagi yang berkabut, Tobi menemukan mercusuar kecil sedang tidur.

Mercusuar itu berdiri di ujung dinding pelabuhan. Lampunya gelap. Pintunya yang merah tertutup. Dari dalam terdengar dengkuran besar.

“Grrr-ruuum!” dengkur mercusuar.

Di air yang kelabu, perahu-perahu tidak bisa melihat jalan aman untuk pulang.

Tobi mengulurkan tangan ke pintu merah mercusuar yang sedang tidur, sementara tiga burung laut abu-abu perak terbang di atasnya, masing-masing membawa setetes cahaya emas di paruhnya.

Tobi tinggal di perahu biru bersama Nenek. Ia membunyikan bel mercusuar.

“Ding-ding!”

Ia mengetuk pintu merah itu.

“Tok-tok!”

Mercusuar itu malah mendengkur makin keras.

Lalu Tobi melihat tiga burung perak berputar-putar di atas atap. Masing-masing membawa setetes cahaya pagi yang terang di paruhnya.

Tobi dan Nenek memegang cermin kecil berwarna kuning di anak tangga pelabuhan. Cermin itu memantulkan seberkas sinar matahari emas ke lampu mercusuar.

“Lampunya butuh sinar matahari,” kata Tobi.

Ia menaiki anak tangga batu yang pendek menuju pintu merah. Nenek datang di sampingnya sambil membawa cermin kecil berwarna kuning dari perahu mereka.

Bersama-sama, mereka memiringkan cermin itu ke arah langit pucat. Seberkas sinar matahari menyelinap melewati kabut, memantul di cermin, lalu masuk melalui jendela bulat mercusuar.

Di dalam ruang lampu mercusuar, Tobi mengangkat cermin kuning saat tiga burung perak menjatuhkan cahaya bercahaya ke lampu besar. Lampu itu bersinar emas terang.

Di dalam, lampu itu berkedip sekali.

Tobi memutar cerminnya sedikit.

Kedip! Kedip!

Burung-burung perak menukik turun. Plip! Plip! Plip! Mereka menjatuhkan titik-titik cahaya ke lampu itu.

Sekejap kemudian, lampu itu menyala kuning keemasan dan hangat.

Dari perahu birunya, Tobi melihat mercusuar yang sudah bangun mengirimkan berkas cahaya emas lebar melintasi pelabuhan. Beberapa perahu kecil mengikuti cahaya itu di atas air yang berkilau.

Mercusuar itu terbangun dengan cegukan kaget.

“Lho! Sudah pagi, ya?”

Lampunya mulai berputar—menyapu air kelabu, dinding pelabuhan, lalu mengarah ke perahu-perahu yang menunggu. Satu demi satu, perahu mengikuti cahaya emas itu pulang.

Tobi berdiri di dermaga di samping perahu birunya, menyimpan cermin kuning kecil di bawah jaketnya dan melambaikan tangan kepada mercusuar. Mercusuar yang sudah bangun memancarkan cahaya emas ceria melintasi pelabuhan yang terang.

Saat perahu terakhir sudah tertambat aman di dermaga, Tobi melambaikan tangan kepada mercusuar.

“Terima kasih sudah membangunkanku,” panggil mercusuar.

Tobi menyelipkan cermin kuning kecil itu ke bawah jaketnya. “Lain kali,” katanya, “sarapan dulu, ya.”

Jauh di atas, mercusuar mengirimkan seberkas cahaya cerah, seolah-olah setuju.