DUNIA KECIL MENANTIMUTobi dan Mercusuar yang Mengantuk
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Tobi dan Mercusuar yang Mengantuk

Pada suatu pagi yang berkabut, Tobi menemukan mercusuar kecil sedang tidur.
Mercusuar itu berdiri di ujung dinding pelabuhan. Lampunya gelap. Pintunya yang merah tertutup. Dari dalam terdengar dengkuran besar.
“Grrr-ruuum!” dengkur mercusuar.
Di air yang kelabu, perahu-perahu tidak bisa melihat jalan aman untuk pulang.

Tobi tinggal di perahu biru bersama Nenek. Ia membunyikan bel mercusuar.
“Ding-ding!”
Ia mengetuk pintu merah itu.
“Tok-tok!”
Mercusuar itu malah mendengkur makin keras.
Lalu Tobi melihat tiga burung perak berputar-putar di atas atap. Masing-masing membawa setetes cahaya pagi yang terang di paruhnya.

“Lampunya butuh sinar matahari,” kata Tobi.
Ia menaiki anak tangga batu yang pendek menuju pintu merah. Nenek datang di sampingnya sambil membawa cermin kecil berwarna kuning dari perahu mereka.
Bersama-sama, mereka memiringkan cermin itu ke arah langit pucat. Seberkas sinar matahari menyelinap melewati kabut, memantul di cermin, lalu masuk melalui jendela bulat mercusuar.

Di dalam, lampu itu berkedip sekali.
Tobi memutar cerminnya sedikit.
Kedip! Kedip!
Burung-burung perak menukik turun. Plip! Plip! Plip! Mereka menjatuhkan titik-titik cahaya ke lampu itu.
Sekejap kemudian, lampu itu menyala kuning keemasan dan hangat.

Mercusuar itu terbangun dengan cegukan kaget.
“Lho! Sudah pagi, ya?”
Lampunya mulai berputar—menyapu air kelabu, dinding pelabuhan, lalu mengarah ke perahu-perahu yang menunggu. Satu demi satu, perahu mengikuti cahaya emas itu pulang.

Saat perahu terakhir sudah tertambat aman di dermaga, Tobi melambaikan tangan kepada mercusuar.
“Terima kasih sudah membangunkanku,” panggil mercusuar.
Tobi menyelipkan cermin kuning kecil itu ke bawah jaketnya. “Lain kali,” katanya, “sarapan dulu, ya.”
Jauh di atas, mercusuar mengirimkan seberkas cahaya cerah, seolah-olah setuju.