CERITA BERGAMBARTibi si Payung dan Parade Genangan
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Tibi si Payung dan Parade Genangan

Tibi adalah payung merah kecil di tempat payung dekat pintu depan. Saat hujan, Ayah membawa payung biru yang tinggi, dan Nenek membawa payung kuning. Tibi sering tinggal di rumah.
Suatu Selasa yang gerimis, Nara turun dengan sepatu bot hijau mengilap. “Aku mau menciprat sampai ke toko roti!”
“Bawa Tibi,” kata Ayah. “Ukurannya pas untukmu.”

Di luar, hujan mengetuk atap merah Tibi. Nara memegang gagangnya yang melengkung, lalu mereka berjalan di trotoar.
Di genangan pertama, Nara melompat. Byur! Setetes air bundar memantul ke Tibi.
“Kamu lihat itu?” seru Tibi.
Setiap lompatan membuat tetes-tetes lain memantul naik. Di tikungan, tetes-tetes itu berputar-putar di atas Tibi, makin cepat—parade air kecil.

“Mereka mau ke mana?” tanya Nara.
Tetes-tetes itu bergulir ke tepi Tibi, lalu menunjuk lubang selokan. Daun cokelat yang basah menutupinya. Air berkumpul di sekeliling daun, membuat genangan makin lebar.
Seorang pesepeda berhenti. “Genangannya makin besar.”
Nara tidak bisa meraih daun itu tanpa masuk ke air yang dalam. Tibi bergoyang kecil dengan berani. “Boleh pakai aku?”

Nara memegang Tibi rendah-rendah pada gagangnya. Atap merah Tibi mendorong daun itu pelan hingga bergeser.
Gluk, gluk! Air berputar masuk ke selokan yang terbuka.
Genangannya mengecil. Parade air berputar sekali di atas Tibi, lalu turun berpercik seperti tepuk tangan riang.

Di toko roti, Nara memilih roti kismis hangat. Tibi berdiri di samping meja dan menetes rapi ke dalam baki.
“Kamu membuat kami tetap kering,” kata Nara.
Kain merah Tibi mengembang bangga. “Dan kita membantu genangan menemukan jalannya.”
Saat pulang, Nara hanya melompat di genangan yang dangkal. Setiap kali, Tibi mendengarkan bunyi: pling, pling, pling.