Semua ceritaTari dan Bukit yang Berdengung
Tari berdiri hati-hati di punggung kambing krem yang berlutut dan menarik pita biru pada kincir angin, sementara kambing itu berdiri teguh di bawahnya.CERITA BERGAMBAR
Dunia keajaiban

Tari dan Bukit yang Berdengung

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Tari dan Bukit yang Berdengung

Tari duduk di meja kecil dekat jendela terbuka, memegang roti panggang dan berdengung ke arah bukit hijau di luar. Ada cangkir dan piring di atas meja.

Tari tinggal di rumah kuning di kaki bukit berumput. Setiap pagi, bukit itu berbunyi pelan, “Dengung... dengung... dengung.” Sambil makan roti panggang, Tari selalu ikut berdengung.

Tari berjongkok di bukit berumput sambil melihat kincir angin enam baling-baling yang diam dan terlilit pita biru panjang.

Namun, pada suatu pagi yang berangin, bukit itu sunyi. Tidak ada dengung masuk lewat jendela Tari. Ia segera memakai sepatu bot merahnya dan berlari keluar.

Di bukit, Tari menempelkan telinganya ke rumput. Tetap tidak ada suara. Ia menaiki jalan setapak, melewati tiga bunga daisy dan sebuah batu abu-abu yang licin. Di puncaknya berdiri kincir angin kayu tua. Enam baling-balingnya yang dicat warna-warni diam saja.

“Apa kamu yang membuat bukit ini berdengung?” tanya Tari.

Kincir itu berderit kecil. Pita biru panjang melilit erat di bagian tengahnya. Angin tidak bisa memutar baling-balingnya.

Tari berdiri hati-hati di punggung kambing krem yang berlutut dan menarik pita biru pada kincir angin, sementara kambing itu berdiri teguh di bawahnya.

Tari menarik pita itu, tetapi pita itu tidak bergeser. Ia mencoba meraih simpulnya, tetapi terlalu tinggi. Lalu ia melihat seekor kambing ramah sedang mengunyah semanggi di dekat sana.

“Boleh bantu aku mencapai simpul itu?” tanya Tari.

Kambing itu berlutut. Tari naik hati-hati ke punggungnya yang lebar, lalu memegang simpulnya. Tarik, tarik, tarik! Akhirnya pita itu terlepas.

Kincir angin kayu yang warna-warni berputar ditiup angin, sementara pita biru yang sudah lepas melayang melintasi bukit berumput.

Angin berembus kencang melintasi bukit. Wusss! Baling-baling mulai berputar. Pita biru itu terbang bebas dan menari-nari di atas rumput.

“Dengung... dengung... dengung!” Bukit itu bernyanyi lagi, lebih dalam dan lebih terang dari sebelumnya.

Tari dan kambing krem berdiri bersama di bukit, tersenyum melihat kincir angin warna-warni yang berputar.

Tari tertawa. Kambing itu mengembik senang. Mereka memandangi kincir angin yang berputar di bawah langit biru yang luas.

Seekor kambing krem berlari kecil di antara semanggi dengan pita biru terikat di kalungnya dan berkibar di belakangnya. Tari melihat dari dekat rumah kuningnya.

Lalu Tari mengikatkan pita biru itu pada kalung kambing. Pita itu berkibar di belakangnya seperti bendera kecil saat ia berlari-lari di antara semanggi. Sepanjang sore, dari rumah kuningnya, Tari masih bisa mendengar bukit itu berdengung.