CERITA BERGAMBARTari dan Bukit yang Berdengung
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Tari dan Bukit yang Berdengung

Tari tinggal di rumah kuning di kaki bukit berumput. Setiap pagi, bukit itu berbunyi pelan, “Dengung... dengung... dengung.” Sambil makan roti panggang, Tari selalu ikut berdengung.

Namun, pada suatu pagi yang berangin, bukit itu sunyi. Tidak ada dengung masuk lewat jendela Tari. Ia segera memakai sepatu bot merahnya dan berlari keluar.
Di bukit, Tari menempelkan telinganya ke rumput. Tetap tidak ada suara. Ia menaiki jalan setapak, melewati tiga bunga daisy dan sebuah batu abu-abu yang licin. Di puncaknya berdiri kincir angin kayu tua. Enam baling-balingnya yang dicat warna-warni diam saja.
“Apa kamu yang membuat bukit ini berdengung?” tanya Tari.
Kincir itu berderit kecil. Pita biru panjang melilit erat di bagian tengahnya. Angin tidak bisa memutar baling-balingnya.

Tari menarik pita itu, tetapi pita itu tidak bergeser. Ia mencoba meraih simpulnya, tetapi terlalu tinggi. Lalu ia melihat seekor kambing ramah sedang mengunyah semanggi di dekat sana.
“Boleh bantu aku mencapai simpul itu?” tanya Tari.
Kambing itu berlutut. Tari naik hati-hati ke punggungnya yang lebar, lalu memegang simpulnya. Tarik, tarik, tarik! Akhirnya pita itu terlepas.

Angin berembus kencang melintasi bukit. Wusss! Baling-baling mulai berputar. Pita biru itu terbang bebas dan menari-nari di atas rumput.
“Dengung... dengung... dengung!” Bukit itu bernyanyi lagi, lebih dalam dan lebih terang dari sebelumnya.

Tari tertawa. Kambing itu mengembik senang. Mereka memandangi kincir angin yang berputar di bawah langit biru yang luas.

Lalu Tari mengikatkan pita biru itu pada kalung kambing. Pita itu berkibar di belakangnya seperti bendera kecil saat ia berlari-lari di antara semanggi. Sepanjang sore, dari rumah kuningnya, Tari masih bisa mendengar bukit itu berdengung.