CERITA BERGAMBARRani dan Ruang Bunyi Pelan
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Rani dan Ruang Bunyi Pelan

Di kamar Rani ada satu papan lantai yang longgar. Setiap malam, papan itu berbunyi cit-sit saat Rani naik ke tempat tidur.
Namun, pada suatu malam berangin, papan itu tidak berbunyi cit-sit. “Sst, Rani,” bisiknya.
Rani berlutut di sampingnya. Garis emas tipis menyala di sekeliling papan. Saat Rani mengangkatnya, tampak tangga kecil melingkar turun seperti cangkang siput.

Di dasar tangga ada ruangan penuh toples. Satu toples menyimpan bunyi cegukan. Toples lain menyimpan bunyi roti panggang yang meletup. Toples ketiga kosong, berlabel GEMERISIK.
Seorang perempuan mungil berjaket tambal-sulam bergegas menghampiri. “Aduh! Bunyi gemerisiknya kabur!”
“Gemerisik yang mana?” tanya Rani.
“Gemerisik sebelum tidur,” kata perempuan itu. “Ia merapikan selimut, membalik halaman buku, dan membantu anak yang lelah segera tenang.”

Sesuatu melesat di dekat telinga Rani. Srek-srek! Bunyi itu menyelinap ke belakang toples tinggi berisi suara hujan.
“Itu dia!” seru Rani. Ia meraih ke belakang toples, tetapi gemerisik itu lolos ke bawah meja dan membuat label-label kertas berkibar.
Rani melihat keranjang berisi benda lembut: sarung tangan wol, bulu halus, daun kering, dan kantong kertas yang berkeresek. “Ia suka benda-benda ini?” tanyanya.
“Ia suka apa saja yang berbunyi pelan,” kata perempuan mungil itu.

Rani menyebarkan daun-daun kering menjadi jalan kecil di lantai. Srek-srek. Gemerisik itu berhenti di sampingnya.
Lalu Rani meletakkan bulu halus di ujung jalan. Gemerisik itu melayang di atas daun, menggelitik bulu, lalu menggulung menjadi kepulan kecil berwarna perak.

Cepat-cepat, perempuan mungil itu membuka toples kosong. Rani mengangkat bulu di depan mulut toples. Srek! Kepulan perak itu mengikuti bulu dan masuk ke dalam.
Perempuan itu menutup rapat toplesnya. Seketika ruangan menjadi tenang, dan bunyi-bunyi pelan kembali diam di dalam toples mereka.
“Terima kasih,” kata perempuan mungil itu. Ia memberi Rani papan lantai baru, halus dan hangat seperti madu.

Kembali di kamarnya, Rani memasang papan baru itu pada celah lantai lalu naik ke tempat tidur.
Papan itu berbunyi cit-sit riang. Selimutnya bergemerisik lembut saat Rani menariknya sampai ke bawah dagu.
Rani tersenyum dalam gelap. “Selamat malam, bunyi-bunyi kecil,” bisiknya.