Semua ceritaRani dan Lonceng Kecil
Di atas atap, Rani memegang lonceng kuningan kecil di bawah awan abu-abu saat setetes hujan jatuh ke dalamnya.CERITA BERGAMBAR
Dunia keajaiban

Rani dan Lonceng Kecil

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Rani dan Lonceng Kecil

Rani membungkuk dari jendela lantai atas ke arah awan abu-abu besar yang berada di atas cerobong. Setetes air ada di ambang jendela.

Rani tinggal di lantai atas sebuah toko roti yang ramai. Setiap pagi, harum roti hangat naik lewat tangga sampai ke jendelanya. Di rak dekat tempat tidur ada lonceng kuningan kecil. Lonceng itu tidak punya pemukul, jadi belum pernah berbunyi.

Pada suatu pagi yang hujan, Rani melihat setetes air perak menggelinding di ambang jendela. Di atas cerobong, awan abu-abu tersangkut. Tetes-tetes kecil jatuh dari bawahnya.

“Tolong aku,” embus awan itu. “Hujanku jatuh entah ke mana. Aku tidak bisa mendengar tempatnya mendarat.”

Di atas atap, Rani memegang lonceng kuningan kecil di bawah awan abu-abu saat setetes hujan jatuh ke dalamnya.

Rani membawa lonceng kecilnya ke luar. Ia menahannya di bawah tepi awan yang menetes. Pling! Setetes hujan jatuh ke dalam lonceng. Ding! Terdengar bunyi kecil yang jernih.

Rani tersenyum. “Kamu perlu bunyi untuk diikuti.”

Ia meletakkan lonceng itu di atas cerobong. Pling, ding. Pling, ding. Awan itu mendengarkan, lalu menurunkan hujan tipis ke kotak-kotak bunga yang kering di bawah.

Rani berjongkok di dekat kucing oranye yang mengantuk. Kucing itu menyentuh lonceng kuningan kecil di dekat nampan roti bulat, sementara awan abu-abu melayang di atas mereka.

Tiba-tiba angin menerpa atap. Lonceng itu memantul menuruni genting dan menggelinding ke halaman toko roti.

Rani bergegas turun. Loncengnya berhenti di dekat nampan berisi roti bulat. Seekor kucing oranye yang mengantuk meringkuk di sebelahnya.

“Boleh aku mengambil loncengku?” tanya Rani.

Kucing itu membuka sebelah mata. Lalu ia menyentuh lonceng dengan cakarnya. Ding! Dari atas, awan itu bergemuruh pelan seperti senang.

Dalam hujan lembut, Rani dan kucing oranye menaruh lonceng kecil ke dalam mangkuk di atas cerobong. Kotak-kotak bunga ada di atap di bawah mereka.

Rani mengambil loncengnya dan berlari naik tangga. Kucing itu mengikuti di belakangnya. Bersama-sama, mereka menaruh lonceng itu di dalam mangkuk di atas cerobong, jauh dari genangan air.

Pling, ding. Pling, ding. Awan itu menurunkan hujan lembut ke seluruh atap. Hujan menyiram kotak bunga, membasuh daun-daun berdebu, dan mengisi mangkuk kecil untuk si kucing.

Rani berdiri di samping cerobong yang memiliki mangkuk di atasnya, sementara awan abu-abu melayang bebas di atas.

Tak lama kemudian, langit menjadi biru. Awan itu terlepas dari cerobong dan melayang pergi. “Terima kasih!” serunya.

Rani duduk di tempat tidurnya dan memandang jendela yang hujan. Lonceng kuningan kecil berada di rak di sebelahnya.

Rani mengembalikan lonceng kecil itu ke raknya. Lonceng itu diam lagi. Namun setiap hujan mengetuk jendelanya, Rani mendengarkan bunyi ding kecil yang ramah.