Semua ceritaRani dan Kereta Kebun Malam
Rani membungkuk melihat kereta kecil berwarna jingga yang terbuat dari pot bunga. Seekor siput bertopi biru duduk di lokomotif, di dekat stasiun kecil dan tanaman rambat.DUNIA KECIL MENANTIMU
Dunia keajaiban

Rani dan Kereta Kebun Malam

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Rani dan Kereta Kebun Malam

Rani berdiri di peron stasiun kecil pada malam hari, memandang rel kereta yang kosong di bawah bulan. Sapu bersandar di dekat bangunan stasiun dan lampu.

Rani tinggal di atas sebuah stasiun kereta kecil. Kereta terakhir tiba saat matahari terbenam. Setiap sore, Rani membantu Ayah menyapu peron. Setelah itu, ia memandangi rel-rel kosong yang berkilau di bawah bulan.

Rani membungkuk melihat kereta kecil berwarna jingga yang terbuat dari pot bunga. Seekor siput bertopi biru duduk di lokomotif, di dekat stasiun kecil dan tanaman rambat.

Pada suatu malam, terdengar bunyi pelan dari kebun stasiun. “Cuf... cuf... cuf.” Di belakang loket tiket ada kereta kecil dari pot-pot bunga. Roda-rodanya terbuat dari irisan tomat. Di kursi masinis duduk seekor siput memakai topi biru.

“Kereta kebunku tidak bisa jalan,” kata siput itu. “Bunga bulan masih tidur. Sulurnya menutupi rel.”

Rani mengangkat tangan untuk mengikat syal merah pada lampu stasiun hingga cahayanya bersinar lembut. Siput bertopi biru melihat di dekat bunga putih dan rel kecil.

Rani membungkuk. Sulur-sulur pucat melingkar di atas rel kecil. Kuncup bunga putihnya tertutup rapat. “Sudah gelap,” kata Rani. “Kenapa mereka belum bangun?”

Siput itu menunjuk dengan satu sungutnya. Sebuah lampu stasiun yang terang menyinari kebun. “Lampu itu terlalu terang,” katanya.

Rani mencari di kotak barang hilang. Di dalamnya ada syal merah tua. Ia mengikatkannya pelan di sekeliling lampu, tetapi menyisakan celah agar orang masih bisa melihat peron. Cahaya lampu berubah lembut dan kemerahan.

Kereta pot bunga menunggu di rel kecil di antara sulur-sulur tinggi dan bunga bulan putih yang besar. Siput masinis bertopi biru mengintip dari lokomotif.

Pelan-pelan, satu bunga bulan membuka kelopaknya. Lalu bunga yang lain. Sulur-sulur itu terangkat dari rel, seperti baru bangun tidur.

“Semua naik!” seru si siput.

Rani berlutut di dekat rel kecil dan meletakkan biji ek dekat kereta pot bunga. Siput mengemudikan kereta melewati batu berlumut, tanaman berdaun, dan genangan yang memantulkan bintang.

Rani meletakkan sebuah biji ek yang jatuh di samping rel. Kereta kecil itu berguncang melewatinya, lalu melaju di kebun. Kereta itu melewati daun-daun keperakan, batu berlumut, dan genangan yang memantulkan bintang-bintang.

Di ujung kebun, kereta berhenti di dekat sebidang tanah berisi biji-biji kecil. Siput itu mengangkat topi birunya. “Untuk penumpang besok,” katanya.

Rani berjongkok di dekat barisan rapi tunas hijau baru. Di seberang kebun tampak stasiun kecil, rel, lampu berbalut syal merah, dan kotak barang hilang.

Rani membantu menekan biji-biji itu ke tanah yang lembap. Pagi harinya, syal merah sudah kembali ke kotak barang hilang. Di samping rel, tumbuh barisan rapi tunas hijau yang mengarah ke stasiun—siap untuk kereta malam berikutnya.