DUNIA KECIL MENANTIMURani dan Kereta Kebun Malam
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Rani dan Kereta Kebun Malam

Rani tinggal di atas sebuah stasiun kereta kecil. Kereta terakhir tiba saat matahari terbenam. Setiap sore, Rani membantu Ayah menyapu peron. Setelah itu, ia memandangi rel-rel kosong yang berkilau di bawah bulan.

Pada suatu malam, terdengar bunyi pelan dari kebun stasiun. “Cuf... cuf... cuf.” Di belakang loket tiket ada kereta kecil dari pot-pot bunga. Roda-rodanya terbuat dari irisan tomat. Di kursi masinis duduk seekor siput memakai topi biru.
“Kereta kebunku tidak bisa jalan,” kata siput itu. “Bunga bulan masih tidur. Sulurnya menutupi rel.”

Rani membungkuk. Sulur-sulur pucat melingkar di atas rel kecil. Kuncup bunga putihnya tertutup rapat. “Sudah gelap,” kata Rani. “Kenapa mereka belum bangun?”
Siput itu menunjuk dengan satu sungutnya. Sebuah lampu stasiun yang terang menyinari kebun. “Lampu itu terlalu terang,” katanya.
Rani mencari di kotak barang hilang. Di dalamnya ada syal merah tua. Ia mengikatkannya pelan di sekeliling lampu, tetapi menyisakan celah agar orang masih bisa melihat peron. Cahaya lampu berubah lembut dan kemerahan.

Pelan-pelan, satu bunga bulan membuka kelopaknya. Lalu bunga yang lain. Sulur-sulur itu terangkat dari rel, seperti baru bangun tidur.
“Semua naik!” seru si siput.

Rani meletakkan sebuah biji ek yang jatuh di samping rel. Kereta kecil itu berguncang melewatinya, lalu melaju di kebun. Kereta itu melewati daun-daun keperakan, batu berlumut, dan genangan yang memantulkan bintang-bintang.
Di ujung kebun, kereta berhenti di dekat sebidang tanah berisi biji-biji kecil. Siput itu mengangkat topi birunya. “Untuk penumpang besok,” katanya.

Rani membantu menekan biji-biji itu ke tanah yang lembap. Pagi harinya, syal merah sudah kembali ke kotak barang hilang. Di samping rel, tumbuh barisan rapi tunas hijau yang mengarah ke stasiun—siap untuk kereta malam berikutnya.