Semua ceritaRaka dan Peta Genangan
Raka menyeimbangkan diri dengan sepatu bot kuning di batu pijakan tengah dari tiga batu yang melintasi genangan lebar, sementara Ayah berdiri dekat di belakangnya dengan tangan siap membantu.DUNIA KECIL MENANTIMU
Langkah Kecil yang Berani

Raka dan Peta Genangan

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Raka dan Peta Genangan

Di pintu masuk rumah saat hujan, Raka berjas hujan koral memegang buku perpustakaan merah, sementara Ayah membuka lemari berisi sepatu bot kuning dan menawarkan selembar kertas kosong.

Hujan mengetuk jendela Raka. Ia menempelkan hidung ke kaca. Jalan setapak menuju perpustakaan kecil penuh genangan.

“Kita pergi lain hari saja,” kata Ayah.

Namun Raka harus mengembalikan buku berjudul *Perahu Merah yang Paling Besar*. “Aku mau mengembalikannya,” katanya. Lalu ia melihat jalan yang basah dan menggenggam tangan Ayah lebih erat.

Ayah membuka lemari. “Kita pakai sepatu bot. Kita juga bisa membuat peta genangan.”

Di gerbang depan, Raka menunjuk genangan kecil yang bundar, sementara Ayah berlutut di sampingnya dan menggambar lingkaran biru pada peta kertas mereka.

Di gerbang depan, Raka menunjuk genangan pertama. Genangan itu kecil dan bundar. Ayah menggambar lingkaran biru di selembar kertas.

“Kita melangkah aman di sampingnya,” kata Raka.

Raka menyeimbangkan diri dengan sepatu bot kuning di batu pijakan tengah dari tiga batu yang melintasi genangan lebar, sementara Ayah berdiri dekat di belakangnya dengan tangan siap membantu.

Genangan berikutnya membentang hampir menutup jalan. Raka berhenti. Sepatu bot kuningnya tampak kecil di tepi genangan itu.

“Mau pulang saja?” tanya Ayah.

Raka menggeleng. Di dekat tepi, ia melihat tiga batu pipih. “Batu, batu, rumput!” katanya.

Ayah berdiri di dekatnya. Raka menginjak batu pertama, lalu batu kedua, lalu batu ketiga. Akhirnya, ia sampai di rumput yang kering.

Di dekat aliran air dari pipa, Raka menggambar garis biru berkelok pada petanya saat Ayah menunjuk ke arah air dan daun cokelat mengapung lewat.

Lebih jauh lagi, air hujan mengalir deras dari pipa. Air itu membuat aliran mengilap melintas di trotoar. Raka melihat daun cokelat berlayar terbawa air.

“Yang ini terlalu banyak cipratannya,” katanya.

Mereka berjalan memutar di dekat pagar. Raka menambahkan garis biru berkelok pada petanya.

Di meja perpustakaan, Raka dengan bangga mengangkat peta genangannya untuk diperlihatkan kepada pustakawati yang tersenyum, sementara Ayah berdiri di sampingnya membawa buku merah dan tas kain.

Di pintu perpustakaan, sepatu bot Raka sudah berlumpur. Namun bukunya tetap kering di dalam tas Ayah. Pustakawati tersenyum. “Kalian datang saat hujan?”

Raka membentangkan petanya. Ada genangan bundar, genangan panjang, aliran berkelok, dan tiga batu kecil.

Raka tertawa saat satu sepatu bot kuningnya menciprat ke genangan kecil, sementara Ayah berlutut di sampingnya dan menggambar sepatu bot kuning kecil pada peta mereka.

Saat pulang, hujan tinggal berbunyi tik-tik. Raka berhenti di genangan kecil yang pertama.

Ia mengangkat satu sepatu bot kuning, lalu menginjak genangan itu. Ciprat!

“Genangan ini aman!” katanya sambil tertawa.

Ayah menggambar sepatu bot kuning kecil di samping lingkaran biru. Raka memegang petanya hati-hati saat mereka berjalan pulang.