DUNIA KECIL MENANTIMURaka dan Peta Genangan
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Raka dan Peta Genangan

Hujan mengetuk jendela Raka. Ia menempelkan hidung ke kaca. Jalan setapak menuju perpustakaan kecil penuh genangan.
“Kita pergi lain hari saja,” kata Ayah.
Namun Raka harus mengembalikan buku berjudul *Perahu Merah yang Paling Besar*. “Aku mau mengembalikannya,” katanya. Lalu ia melihat jalan yang basah dan menggenggam tangan Ayah lebih erat.
Ayah membuka lemari. “Kita pakai sepatu bot. Kita juga bisa membuat peta genangan.”

Di gerbang depan, Raka menunjuk genangan pertama. Genangan itu kecil dan bundar. Ayah menggambar lingkaran biru di selembar kertas.
“Kita melangkah aman di sampingnya,” kata Raka.

Genangan berikutnya membentang hampir menutup jalan. Raka berhenti. Sepatu bot kuningnya tampak kecil di tepi genangan itu.
“Mau pulang saja?” tanya Ayah.
Raka menggeleng. Di dekat tepi, ia melihat tiga batu pipih. “Batu, batu, rumput!” katanya.
Ayah berdiri di dekatnya. Raka menginjak batu pertama, lalu batu kedua, lalu batu ketiga. Akhirnya, ia sampai di rumput yang kering.

Lebih jauh lagi, air hujan mengalir deras dari pipa. Air itu membuat aliran mengilap melintas di trotoar. Raka melihat daun cokelat berlayar terbawa air.
“Yang ini terlalu banyak cipratannya,” katanya.
Mereka berjalan memutar di dekat pagar. Raka menambahkan garis biru berkelok pada petanya.

Di pintu perpustakaan, sepatu bot Raka sudah berlumpur. Namun bukunya tetap kering di dalam tas Ayah. Pustakawati tersenyum. “Kalian datang saat hujan?”
Raka membentangkan petanya. Ada genangan bundar, genangan panjang, aliran berkelok, dan tiga batu kecil.

Saat pulang, hujan tinggal berbunyi tik-tik. Raka berhenti di genangan kecil yang pertama.
Ia mengangkat satu sepatu bot kuning, lalu menginjak genangan itu. Ciprat!
“Genangan ini aman!” katanya sambil tertawa.
Ayah menggambar sepatu bot kuning kecil di samping lingkaran biru. Raka memegang petanya hati-hati saat mereka berjalan pulang.