DUNIA KECIL MENANTIMURaka dan Payung Aneka Warna
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Raka dan Payung Aneka Warna

Raka menemukan payung itu di lemari gantungan jaket di sekolah. Payungnya kecil sekali. Pegangannya berbentuk paruh bebek, tetapi kainnya abu-abu polos.
“Ini punya siapa?” tanya Raka. Tidak ada yang tahu. Hujan mengetuk-ngetuk jendela. Di luar, anak-anak bergegas pulang dengan payung warna-warni.
Raka membuka payung kecil itu. Pop! Muncul satu titik kuning di kainnya.
“Seperti matahari kecil,” kata Raka.

Di gerbang sekolah, Pak Reza, penjaga penyeberangan, mengejar topi hujan kuningnya yang tertiup angin ke dalam genangan. Raka mengambilkannya lalu menyerahkan topi itu.
“Terima kasih, Raka!” kata Pak Reza.
Pop! Garis kuning tumbuh di samping titik matahari.

Di halte bus, seorang bayi menangis karena kaus kakinya basah. Ibunya menemukan kain kering di tas. Saat ayahnya mengganti kaus kaki bayi itu, Raka memayungi mereka.
Pop! Pusaran biru muda muncul di samping garis kuning.

Tak jauh dari sana, Raka berbagi bangku halte dengan tetangga yang tampak lelah. Pop! Sebuah kotak merah muncul.
Raka melihat cacing meliuk-liuk di jalan setapak yang basah. Ia memindahkannya perlahan ke rumput. Pop! Sehelai daun hijau tumbuh di payung.
Lalu seekor anak anjing berlari lewat, tali penuntunnya terseret di belakang. Ketika sebuah keluarga datang dengan wajah cemas, Raka menunjuk ke arah toko roti. “Ia lari ke sana!”
Pop! Garis zigzag perak berkilat di kain payung.

Saat tiba di rumah, payung kecil itu sudah penuh warna. Seperti pawai di hari hujan. Tetapi sepatu Raka sendiri basah kuyup.
Ia berdiri di depan pintu dan menghela napas. “Andai kamu cukup besar untukku.”

Pegangan berbentuk paruh bebek itu berbunyi, “Kwek!” Payung pun memanjang, melebar, dan terbuka tinggi di atas Raka dan Ibu. Warnanya berkilau terkena hujan.
Raka tersenyum lebar di bawah payung terang itu. “Mungkin kamu tumbuh kalau ada yang membutuhkanmu,” katanya.
Keesokan paginya, lemari gantungan jaket di sekolah terbuka lagi. Di dalamnya ada sebuah payung kecil abu-abu, menunggu hujan datang.