CERITA BERGAMBARRaka dan Paus di Perpustakaan
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Raka dan Paus di Perpustakaan

Raka sedang menyusun buku bergambar di rak rendah perpustakaan ketika ia mendengar bersin basah.
“Haaacuuush!”
Setetes air keperakan jatuh di dekat sepatunya. Di bawah meja baca, di antara beanbag dan keranjang boneka tangan, ada paus biru mengilap sebesar sepeda.
“Kamu tidak bisa tinggal di sini,” bisik Raka. “Perpustakaan tidak punya laut.”
Paus kecil itu mengembuskan napas sedih. Pembatas buku kertas melayang dari lubang napasnya, lalu terbuka pada peta kota. Raka mengikuti garis biru dari perpustakaan, melewati toko roti, sampai ke air mancur tua di alun-alun.
“Kamu mau ke sana?”
Tap, tap, ekor paus itu menepuk.
Raka memanggil Bu Nara, penjaga perpustakaan. Bu Nara tidak berteriak. Ia hanya mengusap setetes air dari kacamatanya.
“Hmm,” katanya, “mari kita cari tahu kenapa paus datang meminjam lantai kita.”
Ia membuka pintu depan yang lebar. Paus itu meluncur menuruni jalan landai. Raka berjalan di sampingnya sambil memayungi kepalanya dengan payung merah. Jejak air kecil yang berkelok mengikuti mereka.
Di depan toko roti, paus itu mengangkat hidungnya. “Brrruu!” nyanyinya.
Seorang tukang roti keluar membawa roti hangat. “Suara itu! Air mancur sudah diam sejak pagi.”
Air mancur di alun-alun kering. Mulut ikan-ikan batunya terbuka, tetapi tidak ada air yang memancar.
Paus kecil itu mengelilinginya sekali, lalu menempelkan hidung pada ikan batu terbesar.
Klik.
Sebuah kancing biru bundar muncul dari mulut ikan itu. Kancing itu tersangkut di lubang pancuran.
“Itu menyumbat airnya!” kata Raka.
Bu Nara menarik kancing itu perlahan. Sesaat, semuanya diam.
Lalu air memancar dari setiap ikan batu dan jatuh ke kolam dengan bunyi cerah seperti tawa.
Paus itu melompat tinggi. Ekornya membuat pelangi di bawah matahari, dan tubuhnya membesar—lebih besar dari air mancur, lebih besar dari kanopi toko roti.
“Terima kasih,” nyanyinya. Suaranya seperti ombak di dalam kerang.
Lalu ia menyelam ke air mancur. Air berputar sekali, dua kali, lalu membawa paus itu pergi dalam lingkaran biru berkilau.
Raka masih menggenggam kancing biru itu. Di perpustakaan, ia mengikatkannya pada pembatas buku dengan pita merah. Pada hari hujan, anak-anak menemukannya di buku peta. Jika mendengarkan sangat saksama, mereka bisa mendengar bersin dari halaman buku itu.