Semua ceritaPita dan Bulan di Saku
Pita dan Pak Bima menatap ke atas saat bulan kecil menyatu dengan bulan purnama besar yang bercahaya. Balon merah mengapung di dekatnya, dan seekor kucing mengantuk beristirahat di kebun yang diterangi cahaya bulan.DUNIA KECIL MENANTIMU
Dunia keajaiban

Pita dan Bulan di Saku

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Pita dan Bulan di Saku

Pita berlutut di kamar tidurnya yang nyaman sambil tersenyum melihat bulan kecil bercahaya di telapak tangannya. Ia memakai mantel merah dengan kancing kepik yang mengintip dari saku.

Pita punya mantel dengan tujuh saku. Di satu saku ada biskuit yang mudah hancur. Di saku lain ada batu hijau yang licin. Saku yang paling kecil menyimpan kancing berbentuk kepik.

Suatu sore, ada sesuatu yang bulat dan hangat bergerak-gerak di saku terkecil Pita.

Pita merogoh sakunya. Ia mengeluarkan bulan kecil.

Bulan itu sebesar biskuitnya dan bercahaya kuning pucat di telapak tangannya. “Oh!” kata Pita. “Kamu pasti jatuh dari langit.”

Bulan kecil itu berkedip malu-malu.

Dilihat dari belakang, Pita memandang melewati pagar tanaman ke lingkaran perak besar yang kosong di langit malam sambil memegang bulan kecil bercahaya.

Di luar, langit sudah gelap. Di atas rumah-rumah tampak lingkaran perak besar yang kosong. Pita tahu tempat bulan kecil itu seharusnya berada.

Pita berdiri di atas bangku merah dan mengangkat cangkir teh berisi bulan kecil. Pak Bima membungkuk di atas pagar tanaman dekat kacang-kacangannya sambil memegang penyiram.

Ia meletakkan bulan itu pelan-pelan ke dalam cangkir teh, lalu membawanya ke kebun. Saat Pita mengangkat cangkir tinggi-tinggi, bulan itu hanya melayang sampai puncak pagar tanaman. Ia belum bisa mencapai langit.

Pita naik ke bangku merahnya. Bulan itu naik sampai pucuk pohon apel. Masih terlalu rendah.

Daun-daun di kebun sebelah berdesir. Pak Bima, tukang kebun yang tinggi, sedang menyiram kacang-kacangannya.

“Bulanku jatuh,” panggil Pita. “Pak Bima bisa bantu dia pulang?”

Pak Bima melihat ke dalam cangkir yang bercahaya. “Kita perlu alat yang sangat panjang,” katanya.

Pak Bima memegang tali panjang, sementara Pita mengulurkan tangan dengan penjepit kayu ke arah bulan kecil yang tergantung di bawah balon merah.

Mereka menemukan tali jemuran yang bersih, penjepit kayu, dan balon merah Pita. Pak Bima mengikat tali pada balon. Pita menjepit bulan kecil itu dengan lembut di bawah balon.

“Sudah siap?” tanya Pak Bima.

Pita membuka tangannya. Balon itu melompat naik—melewati pagar tanaman, melewati cerobong, lalu masuk ke langit malam yang sejuk.

Pita dan Pak Bima menatap ke atas saat bulan kecil menyatu dengan bulan purnama besar yang bercahaya. Balon merah mengapung di dekatnya, dan seekor kucing mengantuk beristirahat di kebun yang diterangi cahaya bulan.

Bulan kecil itu melayang di sampingnya, makin lama makin terang. Saat sampai di lingkaran perak yang kosong, ia masuk ke tempatnya. Pop! Cahaya lembut menyala.

Sekejap kemudian, kebun menjadi keperakan. Daun apel berkilau. Kumis kucing yang mengantuk ikut berkelap-kelip. Bahkan bangku merah Pita punya tepi yang terang terkena cahaya bulan.

Balon yang kosong melayang turun. Pita menangkap talinya.

Pita duduk di samping Pak Bima di kebun kacang, memegang tali balon merah di bawah bulan purnama yang terang.

Jauh di atas sana, bulan bulat itu mengedipkan cahaya emas yang hangat.

Pita memasukkan kembali kancing kepik ke saku terkecilnya. “Saku ini untuk barang penting,” katanya.

Lalu Pita dan Pak Bima duduk di bawah bulan sampai kacang-kacangan selesai minum.