DUNIA KECIL MENANTIMUPita dan Bulan di Saku
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Pita dan Bulan di Saku

Pita punya mantel dengan tujuh saku. Di satu saku ada biskuit yang mudah hancur. Di saku lain ada batu hijau yang licin. Saku yang paling kecil menyimpan kancing berbentuk kepik.
Suatu sore, ada sesuatu yang bulat dan hangat bergerak-gerak di saku terkecil Pita.
Pita merogoh sakunya. Ia mengeluarkan bulan kecil.
Bulan itu sebesar biskuitnya dan bercahaya kuning pucat di telapak tangannya. “Oh!” kata Pita. “Kamu pasti jatuh dari langit.”
Bulan kecil itu berkedip malu-malu.

Di luar, langit sudah gelap. Di atas rumah-rumah tampak lingkaran perak besar yang kosong. Pita tahu tempat bulan kecil itu seharusnya berada.

Ia meletakkan bulan itu pelan-pelan ke dalam cangkir teh, lalu membawanya ke kebun. Saat Pita mengangkat cangkir tinggi-tinggi, bulan itu hanya melayang sampai puncak pagar tanaman. Ia belum bisa mencapai langit.
Pita naik ke bangku merahnya. Bulan itu naik sampai pucuk pohon apel. Masih terlalu rendah.
Daun-daun di kebun sebelah berdesir. Pak Bima, tukang kebun yang tinggi, sedang menyiram kacang-kacangannya.
“Bulanku jatuh,” panggil Pita. “Pak Bima bisa bantu dia pulang?”
Pak Bima melihat ke dalam cangkir yang bercahaya. “Kita perlu alat yang sangat panjang,” katanya.

Mereka menemukan tali jemuran yang bersih, penjepit kayu, dan balon merah Pita. Pak Bima mengikat tali pada balon. Pita menjepit bulan kecil itu dengan lembut di bawah balon.
“Sudah siap?” tanya Pak Bima.
Pita membuka tangannya. Balon itu melompat naik—melewati pagar tanaman, melewati cerobong, lalu masuk ke langit malam yang sejuk.

Bulan kecil itu melayang di sampingnya, makin lama makin terang. Saat sampai di lingkaran perak yang kosong, ia masuk ke tempatnya. Pop! Cahaya lembut menyala.
Sekejap kemudian, kebun menjadi keperakan. Daun apel berkilau. Kumis kucing yang mengantuk ikut berkelap-kelip. Bahkan bangku merah Pita punya tepi yang terang terkena cahaya bulan.
Balon yang kosong melayang turun. Pita menangkap talinya.

Jauh di atas sana, bulan bulat itu mengedipkan cahaya emas yang hangat.
Pita memasukkan kembali kancing kepik ke saku terkecilnya. “Saku ini untuk barang penting,” katanya.
Lalu Pita dan Pak Bima duduk di bawah bulan sampai kacang-kacangan selesai minum.