Semua ceritaNila dan Bulan Lentera
Nila memegang satu ujung pita merah, sementara tiga kunang-kunang bercahaya dan angin hijau mint membantu mengangkat pita itu dari ujung bawah bulan yang runcing.CERITA BERGAMBAR
Dunia keajaiban

Nila dan Bulan Lentera

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Nila dan Bulan Lentera

Nila, awan kecil berwarna biru, menatap bulan perak yang besar. Sebuah bulatan cahaya bulan kuning terang berada di antara mereka, bukannya menerangi langit.

Nila adalah awan kecil berwarna biru yang tinggal di dekat bulan bulat berwarna perak. Setiap malam, ia mengembungkan tubuhnya lebar-lebar untuk membuat tempat tidur lembut bagi cahaya bulan.

Namun suatu malam, cahaya bulan tidak menyebar ke langit. Cahaya itu hanya menjadi satu bulatan terang di samping Nila.

“Aduh!” kata Nila. “Bulan lentera padam!”

Nila melayang di dekat bulan perak, tempat pita merah panjang tersimpul di ujung bawahnya yang runcing. Seorang anak perempuan mengangkat lentera di atas kota gelap di bawahnya.

Jauh di bawah, kota menjadi gelap. Seekor rubah menabrak penyiram tanaman. Dua burung hantu berdesakan di satu dahan karena tak bisa melihat dahan lain. Di atas bukit, seorang anak perempuan mengangkat lentera kosongnya dan menatap langit.

Nila mendekat ke bulan. Ternyata pita merah panjang melilit bagian bawah bulan. Pita itu terbang dari pesta layang-layang di awan, lalu tersimpul kencang.

Nila mengembungkan tubuhnya menjadi awan biru yang sangat besar ke arah bulan. Bulan bergoyang di atasnya, sementara pita merah tetap terikat di ujung bawah bulan.

Nila menarik pita itu pelan dengan kabutnya. Simpulnya tidak bergerak.

Ia mengembungkan tubuh lebih besar. “Wuusss!” Bulan bergoyang, dan Nila ikut bergoyang.

“Wah, itu terlalu besar,” katanya sambil meringkuk menjadi awan kecil yang cemas.

Nila dan bulan perak saling berhadapan di atas awan putih. Tiga kunang-kunang bercahaya melayang dekat simpul pita merah, sementara angin hijau mint melengkung dari kanan.

Lalu Nila melihat tiga kunang-kunang berkedip di dekat bintang. “Bisa bantu aku melihat simpulnya?” panggilnya.

Kunang-kunang itu terbang mendekat dan menyalakan lampu kuning kecil mereka. Nila melihat satu lilitan pita tersangkut pada batu tajam di bulan.

“Aku perlu angin yang lembut,” kata Nila.

Angin malam yang lewat mendengarnya. “Aku bisa berembus pelan,” bisiknya.

Nila memegang satu ujung pita merah, sementara tiga kunang-kunang bercahaya dan angin hijau mint membantu mengangkat pita itu dari ujung bawah bulan yang runcing.

Nila memegang ujung pita yang longgar. Kunang-kunang berkedip terang, dan angin malam berembus lembut. Bersama-sama, mereka mengangkat lilitan itu ke atas, melewati batu bulan, lalu melepaskannya.

Pop! Simpulnya terbuka.

Bulan perak memancarkan sinar kuning lebar ke kota di bukit. Nila melayang di dalam cahaya itu, sementara seorang anak dengan lentera, seekor rubah, dua burung hantu, dan dua burung biru kecil melihatnya; pita merah melengkung pergi.

Pita merah itu melingkar pergi di langit. Seketika, cahaya bulan mengalir ke atap-atap rumah, pohon-pohon, dan bukit. Rubah menemukan jalannya. Burung-burung hantu terbang ke dahan masing-masing. Lentera anak perempuan itu berkilau perak, meski tanpa api.

Nila membuat tempat tidur cahaya bulan menjadi ekstra empuk. Di atasnya, bulan lentera bersinar terang agar semua orang dapat melihatnya.