CERITA BERGAMBARNaya dan Kereta Cangkir Teh Malam Hari
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Naya dan Kereta Cangkir Teh Malam Hari

Naya tidak bisa tidur. Cahaya bulan mengetuk jendelanya—tik, tik, tik—lalu membuat kotak perak di lantai.
Sesuatu yang kecil meluncur melintasinya: cangkir teh biru beroda empat, mengepulkan uap. “Semua naik!” terdengar suara memanggil.
Di atas tatakannya berdiri kondektur gula batu bertopi merah. Di ambang jendela menunggu kereta cangkir: ada yang belang, ada yang berbentuk stroberi, dan satu lagi berisi tikus kecil yang mengintip sambil menguap.

“Kalian mau ke mana?” bisik Naya.
“Ke Piknik Tengah Malam,” kata kondektur. “Tapi cangkir terakhir kami kosong. Tanpa satu penumpang lagi, bel kereta tidak bisa berbunyi.”
Naya naik ke cangkir biru yang hangat dan harum mint. Ting! Bel kecil berbunyi, lalu kereta cangkir meluncur turun lewat cahaya bulan dari jendelanya.
Kereta melewati pagar kebun, menyelinap di bawah daun, dan melaju di jejak siput yang mengilap sampai ke bukit bundar berpintu biskuit.

Di dalam bukit, lampu-lampu kecil menyala di bawah langit dari kain taplak. Kereta berhenti di dekat tikar piknik dengan remah-remah, buah beri, dan sepotong keju yang sangat besar.
Tapi belum ada yang makan. Tikus bulan yang bulat duduk di samping keju sambil mengendus sedih.
“Bintang-bintang bersembunyi,” katanya. “Piknik kami butuh cahayanya.”
Naya memandang awan gelap di atas. Lalu ia melihat cangkir-cangkir kosong. “Bagaimana kalau kita pakai uapnya?” tanyanya.

Kondektur mengangguk. Semua cangkir mengepulkan uap hangat ke udara. Naya mengayunkan sendoknya seperti dayung kecil. Bersama-sama, mereka mendorong uap itu ke arah awan.
Awan pun bergeser. Satu bintang berkedip, lalu sepuluh. Tak lama kemudian, seluruh langit berkilau di atas bukit.

Tikus bulan bertepuk tangan. Akhirnya semua makan keju dan buah beri, sementara cangkir stroberi menuangkan limun merah muda berbuih.

Saat Naya memanjat kembali lewat jendelanya, kereta cangkir biru itu membunyikan peluit pelan.
Paginya, ada sebutir gula batu di atas bantalnya. Gula itu memakai topi merah, kecil sebesar ibu jarinya.