Semua ceritaNara dan Gua Bergema
Di luar gua bundar yang gelap, Nara melambaikan tangan sementara Saka tersenyum dan kambing itu berlari kecil menaiki bukit hijau dengan kalung biru dan loncengnya.DUNIA KECIL MENANTIMU
Langkah Kecil yang Berani

Nara dan Gua Bergema

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit5 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Nara dan Gua Bergema

Nara memegang tangan Saka di pintu gua yang besar dan gelap, sementara Saka menangkupkan tangan untuk memanggil ke dalam.

Nara tinggal di dekat bukit kecil. Di bukit itu ada gua bundar yang gelap. Setiap hari, Nara mendengar suara dari dalam. Tik. Plik. Tik.

“Gua Bergema sedang bicara,” kata Nara.

Kakaknya, Saka, suka memanggil ke dalam gua. “Halo!” teriaknya.

“Halo!” sahut gua itu.

Nara tidak ikut berteriak. Ia berdiri di pintu gua sambil memegang tangan Saka. Di dalam gua terasa sejuk dan gelap. Suara gema terdengar sangat besar.

Saka menunjuk ke arah gua saat Nara melihat kambing krem berkalung biru dengan lonceng perak berjalan masuk ke pintu gua yang gelap.

Pada suatu pagi yang cerah, Nara melihat lonceng perak kecil yang berkilau pada kalung biru seekor kambing. Tak jauh dari sana, kambing itu sedang mengunyah daun.

“Loncengmu cantik!” panggil Nara.

Kambing itu mengangkat kepala, lalu berlari kecil masuk ke Gua Bergema.

Kling, kling, kling. Bunyi lonceng makin lama makin pelan.

Saka cepat-cepat pergi ke pintu gua. “Aku masih bisa melihat kambingnya,” katanya. “Ia ada di balik belokan.”

Nara mengintip ke dalam. Ia ingin membantu kambing itu. Tetapi kakinya diam saja.

Di dalam gua abu-abu, Nara melangkah dengan hati-hati sambil memegang tangan Saka dan salah satu ujung tongkat panjang.

Saka mengambil tongkat jalan yang panjang. “Kita masuk bersama,” katanya. “Kakak pegang ujung ini, kamu pegang ujung satunya.”

Nara menarik napas. Satu tangannya memegang tongkat, tangan lainnya memegang tangan Saka.

Satu langkah kecil.

“Langkah kecil,” kata gua.

Nara tersenyum sedikit. “Gua itu meniru aku.”

Mereka berjalan melewati dinding abu-abu yang licin. Tetes air berkilau seperti manik-manik kecil. Lalu Nara mendengar lonceng itu lagi.

Kling! Kling!

Nara berjongkok di samping kambing krem dekat batu rendah dan genangan air, sambil memegang kalung birunya dengan lonceng perak yang sudah lepas.

Di balik belokan, kambing itu berdiri di samping genangan air yang dangkal. Kalung birunya tersangkut pada batu rendah. Lonceng peraknya terjepit di bawah batu.

“Aku coba, ya,” kata Nara.

Ia berjongkok di samping kambing. Pelan-pelan, ia mengangkat kalung itu melewati batu.

Kling! Loncengnya lepas.

Kambing itu mengembik riang. Hidungnya yang lembut menyentuh lengan baju Nara.

Di luar gua bundar yang gelap, Nara melambaikan tangan sementara Saka tersenyum dan kambing itu berlari kecil menaiki bukit hijau dengan kalung biru dan loncengnya.

Di luar, matahari terasa hangat di pipi Nara. Nara memastikan lonceng itu tergantung kuat pada kalung biru si kambing.

Kambing itu berlari kecil naik ke bukit. Kling, kling, kling.

Saka tersenyum lebar. “Kamu masuk ke Gua Bergema.”

Nara memandang pintu gua yang bundar dan gelap. “Iya,” katanya.

Lalu ia memanggil, tidak terlalu keras, “Dadah!”

“Dadah!” sahut gua.

Kali ini, Nara melambaikan tangan.