DUNIA KECIL MENANTIMUNara dan Gua Bergema
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Nara dan Gua Bergema

Nara tinggal di dekat bukit kecil. Di bukit itu ada gua bundar yang gelap. Setiap hari, Nara mendengar suara dari dalam. Tik. Plik. Tik.
“Gua Bergema sedang bicara,” kata Nara.
Kakaknya, Saka, suka memanggil ke dalam gua. “Halo!” teriaknya.
“Halo!” sahut gua itu.
Nara tidak ikut berteriak. Ia berdiri di pintu gua sambil memegang tangan Saka. Di dalam gua terasa sejuk dan gelap. Suara gema terdengar sangat besar.

Pada suatu pagi yang cerah, Nara melihat lonceng perak kecil yang berkilau pada kalung biru seekor kambing. Tak jauh dari sana, kambing itu sedang mengunyah daun.
“Loncengmu cantik!” panggil Nara.
Kambing itu mengangkat kepala, lalu berlari kecil masuk ke Gua Bergema.
Kling, kling, kling. Bunyi lonceng makin lama makin pelan.
Saka cepat-cepat pergi ke pintu gua. “Aku masih bisa melihat kambingnya,” katanya. “Ia ada di balik belokan.”
Nara mengintip ke dalam. Ia ingin membantu kambing itu. Tetapi kakinya diam saja.

Saka mengambil tongkat jalan yang panjang. “Kita masuk bersama,” katanya. “Kakak pegang ujung ini, kamu pegang ujung satunya.”
Nara menarik napas. Satu tangannya memegang tongkat, tangan lainnya memegang tangan Saka.
Satu langkah kecil.
“Langkah kecil,” kata gua.
Nara tersenyum sedikit. “Gua itu meniru aku.”
Mereka berjalan melewati dinding abu-abu yang licin. Tetes air berkilau seperti manik-manik kecil. Lalu Nara mendengar lonceng itu lagi.
Kling! Kling!

Di balik belokan, kambing itu berdiri di samping genangan air yang dangkal. Kalung birunya tersangkut pada batu rendah. Lonceng peraknya terjepit di bawah batu.
“Aku coba, ya,” kata Nara.
Ia berjongkok di samping kambing. Pelan-pelan, ia mengangkat kalung itu melewati batu.
Kling! Loncengnya lepas.
Kambing itu mengembik riang. Hidungnya yang lembut menyentuh lengan baju Nara.

Di luar, matahari terasa hangat di pipi Nara. Nara memastikan lonceng itu tergantung kuat pada kalung biru si kambing.
Kambing itu berlari kecil naik ke bukit. Kling, kling, kling.
Saka tersenyum lebar. “Kamu masuk ke Gua Bergema.”
Nara memandang pintu gua yang bundar dan gelap. “Iya,” katanya.
Lalu ia memanggil, tidak terlalu keras, “Dadah!”
“Dadah!” sahut gua.
Kali ini, Nara melambaikan tangan.