Semua ceritaMela dan Cangkir Cahaya Bulan
Di toko roti yang terang, Mela berdiri dekat anak burung gereja yang berbulu lembut, sementara induknya terbang masuk membawa jerami dan Pak Bima datang membawa keranjang.DUNIA KECIL MENANTIMU
Dunia keajaiban

Mela dan Cangkir Cahaya Bulan

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

4 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Mela dan Cangkir Cahaya Bulan

Di toko roti yang gelap dan hujan, Mela, cangkir kecil berwarna biru dengan bintang emas di dalamnya, memegang sendok di rak kayu saat cahaya bulan dari jendela menyinari cangkirnya.

Mela adalah cangkir teh kecil berwarna biru. Di dalamnya ada bintang emas yang dilukis rapi. Ia tinggal di rak paling tinggi di toko roti milik Pak Bima. Setiap pagi, orang dewasa minum teh dari cangkir-cangkir lain. Mela hanya memegang sendok kecil untuk toples kayu manis milik Pak Bima. “Suatu hari nanti, aku juga akan berguna,” katanya.

Pada suatu malam yang hujan, rintik hujan berdendang di atap toko roti. Pak Bima mengunci pintu lalu naik ke atas. Ruangan menjadi gelap dan sunyi. Lalu seberkas cahaya bulan berwarna perak menyelinap dari jendela dan jatuh tepat pada bintang emas Mela.

Mela mengintip dari rak tinggi saat remah emas kecil yang bercahaya menggelinding di lantai toko roti berwarna biru, di bawah meja kerja.

Pling! Setetes cahaya bulan yang hangat dan terang jatuh ke dalam cangkirnya. Dari dalam Mela terdengar bunyi kecil. “Cip!”

Mela memiringkan tubuhnya pelan-pelan. Di atas tatakannya ada remah bulat yang bercahaya. Remah itu memantul sekali. Memantul dua kali. Lalu menggelinding ke bawah meja.

Mela meluncur menuruni kain lap dapur panjang bergaris biru-putih yang menggantung dari rak menuju lantai toko roti.

“Tunggu!” panggil Mela. Ia bergoyang ke tepi rak. Jarak ke lantai sangat jauh. Namun, ada kain lap bergaris yang menggantung di kait dekatnya. Mela meluncur di lipatan kain yang lembut dan mendarat dengan bunyi klink pelan.

Di bawah meja pada lantai, Mela melihat remah bercahaya di dekat celah papan lantai, tempat seekor anak burung gereja kecil yang ketakutan bersembunyi.

Di bawah meja, remah bercahaya itu berhenti di dekat celah lantai. Dari dalam celah terdengar bunyi lain. “Cip, cip!”

Mela mengintip. Seekor anak burung gereja terselip di antara dua papan yang renggang. Hujan telah menerbangkan sarangnya dari atas jendela toko roti. Anak burung itu kedinginan dan tubuhnya gemetar.

Di toko roti yang terang, Mela berdiri dekat anak burung gereja yang berbulu lembut, sementara induknya terbang masuk membawa jerami dan Pak Bima datang membawa keranjang.

Mela bergegas ke dekat oven yang masih hangat. Ia mengisi tubuhnya dengan air hangat dari ketel yang sedang mendingin. Lalu ia membawanya kembali, berjalan pelan dan bergoyang agar tidak ada setetes pun yang tumpah.

Anak burung gereja itu merapat ke sisi Mela yang hangat. Tak lama kemudian, induknya terbang masuk lewat jendela terbuka sambil membawa jerami di paruhnya. Ciapannya membangunkan Pak Bima. Pak Bima turun, menemukan sarangnya, lalu menaruhnya dengan aman di dalam keranjang dekat jendela.

Pak Bima tersenyum saat menuangkan teh dari teko biru-putih ke dalam Mela, sementara bintang emas di dalam cangkirnya bersinar.

Pagi harinya, Pak Bima menuangkan teh ke dalam Mela. “Cangkir ini terasa hangat sekali hari ini,” katanya.

Di dasar teh Mela, bintang emasnya berkilau kecil. Kini Mela tidak keberatan lagi memegang sendok. Ia tahu, cangkir kecil pun bisa membawa sesuatu yang sedang dibutuhkan.