DUNIA KECIL MENANTIMUMara dan Kantong Cahaya Bulan
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Mara dan Kantong Cahaya Bulan

Mara punya mantel biru dengan satu kantong yang dalam. Setiap malam sebelum tidur, ia memasukkan satu harta kecil ke dalamnya: kerikil licin, daun merah, atau bulu mungil dari kebun. “Selamat malam, harta kecil,” bisiknya.

Pada suatu sore hujan, di samping anak tangga teras, Mara menemukan lonceng perak sebesar ibu jarinya. Lonceng itu tidak berbunyi saat digoyangkan. Tetapi lonceng itu bercahaya lembut, seperti cahaya bulan di atas sendok.

Mara memasukkannya ke kantong. Saat berjalan menuju kamar, cahayanya makin terang. Cahaya itu menunjuk ke jendela yang terbuka di ujung lorong. Di luar, seekor ngengat putih kecil terbang berputar-putar di dekat semak mawar yang basah.

“Kamu mencari ini?” tanya Mara. Ia mengulurkan lonceng itu. Ngengat kecil hinggap di atasnya. Ting! Lonceng berbunyi, lalu jalan cahaya pucat terbentang di atas rumput menuju pintu bulat kecil di bawah pohon tua.

Mara ingin mengikuti jalan cahaya itu. Tetapi air hujan masih menetes dari daun-daun, dan ngengat itu tampak kedinginan. Mara membawanya pelan-pelan dengan kedua tangan ke teras yang kering. Lalu ia meletakkan lonceng di sampingnya.

Ngengat itu membuka sayapnya. Ting! Pintu kecil itu terbuka. Cahaya emas yang hangat bersinar dari dalam pohon. Ngengat-ngengat putih lain melayang keluar, pelan dan lembut seperti kepingan salju. Mereka mengitari Mara sekali, lalu mengikuti teman mereka masuk melalui pintu.
Sebelum tidur, Mara memasukkan lonceng yang kini diam ke dalam kantong mantel birunya, di samping kerikil licin. Lonceng itu bukan miliknya untuk disimpan. Besok, ia akan mengembalikannya ke pohon. Di bawah selimut, Mara mendengar satu bunyi kecil dari kebun: ting. Mara tersenyum lalu memejamkan mata.