Semua ceritaMara dan Kantong Cahaya Bulan
Mara memandangi ngengat-ngengat putih berkumpul di sekitar cahaya emas hangat dari pintu bulat yang terbuka di pohon tua.DUNIA KECIL MENANTIMU
Dunia keajaiban

Mara dan Kantong Cahaya Bulan

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menitUsia 3+6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Mara dan Kantong Cahaya Bulan

Mara berdiri di samping tempat tidurnya pada sore hujan, memasukkan kerikil, daun merah, dan bulu ke dalam kantong dalam mantel birunya.

Mara punya mantel biru dengan satu kantong yang dalam. Setiap malam sebelum tidur, ia memasukkan satu harta kecil ke dalamnya: kerikil licin, daun merah, atau bulu mungil dari kebun. “Selamat malam, harta kecil,” bisiknya.

Di teras saat hujan, Mara berlutut dan memandangi lonceng perak kecil yang bercahaya di tangannya.

Pada suatu sore hujan, di samping anak tangga teras, Mara menemukan lonceng perak sebesar ibu jarinya. Lonceng itu tidak berbunyi saat digoyangkan. Tetapi lonceng itu bercahaya lembut, seperti cahaya bulan di atas sendok.

Mara berjalan di lorong gelap dengan cahaya dari kantong mantelnya, sementara ngengat putih kecil beterbangan di luar jendela terbuka dekat mawar basah.

Mara memasukkannya ke kantong. Saat berjalan menuju kamar, cahayanya makin terang. Cahaya itu menunjuk ke jendela yang terbuka di ujung lorong. Di luar, seekor ngengat putih kecil terbang berputar-putar di dekat semak mawar yang basah.

Mara mengulurkan lonceng perak kepada ngengat putih di kebun yang basah, sementara jalan cahaya pucat menuju pintu bulat di pohon tua.

“Kamu mencari ini?” tanya Mara. Ia mengulurkan lonceng itu. Ngengat kecil hinggap di atasnya. Ting! Lonceng berbunyi, lalu jalan cahaya pucat terbentang di atas rumput menuju pintu bulat kecil di bawah pohon tua.

Mara duduk di teras yang kering dan melindungi ngengat putih kecil dengan kedua tangannya, dengan lonceng bercahaya di sampingnya.

Mara ingin mengikuti jalan cahaya itu. Tetapi air hujan masih menetes dari daun-daun, dan ngengat itu tampak kedinginan. Mara membawanya pelan-pelan dengan kedua tangan ke teras yang kering. Lalu ia meletakkan lonceng di sampingnya.

Mara memandangi ngengat-ngengat putih berkumpul di sekitar cahaya emas hangat dari pintu bulat yang terbuka di pohon tua.

Ngengat itu membuka sayapnya. Ting! Pintu kecil itu terbuka. Cahaya emas yang hangat bersinar dari dalam pohon. Ngengat-ngengat putih lain melayang keluar, pelan dan lembut seperti kepingan salju. Mereka mengitari Mara sekali, lalu mengikuti teman mereka masuk melalui pintu.

Sebelum tidur, Mara memasukkan lonceng yang kini diam ke dalam kantong mantel birunya, di samping kerikil licin. Lonceng itu bukan miliknya untuk disimpan. Besok, ia akan mengembalikannya ke pohon. Di bawah selimut, Mara mendengar satu bunyi kecil dari kebun: ting. Mara tersenyum lalu memejamkan mata.