CERITA BERGAMBARKereta Kecil di Atas Awan
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Kereta Kecil di Atas Awan

Pada suatu sore hujan, Lila menemukan rel kereta kecil di loteng gedung apartemennya. Rel itu melingkar di antara kardus tua dan lampu berdebu. Di depan rel, ada kereta hijau dengan satu gerbong kosong.
Di atapnya tergantung papan kertas: “PERJALANAN TERAKHIR SEBELUM PELANGI.”
“Tapi pelanginya ada di luar,” kata Lila.
Kereta kecil itu berbunyi, “Tuutt!” Pintu gerbongnya terbuka sendiri.

Lila naik. Kereta itu melaju di lantai loteng, lalu mendaki jalur kayu yang belum pernah ia lihat. Makin tinggi, makin tinggi—melewati jendela bundar, lalu masuk ke awan abu-abu yang besar.
Di dalam awan, semuanya putih dan basah. Tetes hujan berbunyi tik-tik di atap kereta. Pelangi tidak terlihat di mana-mana.
Lalu Lila mendengar isakan kecil. Di samping rel duduk seekor burung jingga. Bulunya basah dan lepek.
“Angin kencang menerbangkan buluku yang paling cerah,” kata burung itu. “Bulu itu membuat sarangku tampak cerah seperti kena matahari.”

Lila memandang sepanjang rel di atas awan. Di celah sempit antara dua bukit awan yang gembung, tampak kilatan jingga.
“Aku melihatnya!” seru Lila.
Kereta itu tidak muat masuk ke celah. Lila turun sambil memegang pegangan perak kereta. Awan di bawah sepatu kuningnya terasa kokoh, tetapi lembut seperti bantal.
Ia menyelip di antara bukit-bukit awan. Bulu jingga itu terjepit di bawah setetes hujan bening, bulat seperti kelereng.

Lila mendorong tetes hujan itu. Tidak bergerak. Ia menempelkan kedua tangan, lalu mendorong lagi.
Pelan-pelan, tetes hujan itu menggelinding menuruni lereng awan sambil membawa bulu jingga.
“Tangkap!” panggil Lila.
Burung itu mengepak mengejarnya. Bulu jingga jatuh tepat ke paruhnya. Burung itu mengibaskan sayap hingga tetes air beterbangan. Bulunya kembali mengembang, cerah, dan hangat.

“Terima kasih,” ciap burung itu. “Sekarang lihat ke belakang.”
Lila berbalik. Awan abu-abu itu terbuka seperti tirai. Pelangi lebar membentang di langit, dan salah satu ujungnya tepat di samping rel kereta.

Kereta hijau kecil itu berbunyi, “Tuutt!” lagi. Lila dan burung jingga naik ke gerbong, lalu melaju di atas pelangi sampai jendela loteng terlihat dekat.
Kembali di loteng, kereta itu kecil dan diam. Namun, di kursi gerbong yang kosong terbaring sehelai bulu jingga, berkilau dalam cahaya berdebu.