CERITA BERGAMBARKantor Pos di Tangga Rumah Rani
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Kantor Pos di Tangga Rumah Rani

Rani tinggal di lantai enam sebuah gedung bata yang tinggi. Setiap Sabtu, Rani menulis surat kecil di meja dapur: “Terima kasih untuk tanamannya.” “Supmu harum sekali.”
Rani memasukkan surat-surat itu ke gerobak mainan merah, lalu menariknya ke lift. Ada satu surat istimewa untuk keluarga baru di lantai satu. Rani menggambar matahari kuning cerah di sampulnya.
Namun, pintu lift tidak mau terbuka. Di sana ada tulisan: “LIFT RUSAK.”

Rani melihat ke bawah tangga. Enam lantai anak tangga melingkar sampai ke bawah. Gerobak merahnya membentur anak tangga pertama. “Buk-buk-buk. Wah, tangganya banyak sekali!”
Pak Iwan membuka pintu rumahnya di lantai lima. “Mau ke mana, Bu Tukang Pos?” tanyanya.
“Ke lantai satu. Tapi gerobakku tidak bisa turun lewat semua tangga ini.”
Pak Iwan mengulurkan keranjang biru. “Kalau keranjang, bisa dibawa dengan tangan.”

Rani memindahkan surat-surat itu ke keranjang. Di lantai empat, Sari sedang menyiram pakis. “Boleh aku ikut membawa surat?” tanyanya.
“Boleh, tolong ya,” kata Rani.
Saat sampai di lantai tiga, keranjangnya terasa berat. Tangan Rani mulai gemetar. “Kita istirahat di sini,” kata Sari. Mereka duduk di dekat jendela dan melihat titik hujan meluncur di kaca.

Lalu sebuah pintu terbuka. Pak Chen mengintip. “Ada surat?” tanyanya.
“Surat ramah,” kata Rani.
Pak Chen tersenyum dan memasukkan secarik surat ke keranjang. “Untuk keluarga baru. Tulisannya, ‘Aku pandai membuat panekuk.’”
Saat Rani dan Sari turun, pintu-pintu lain ikut terbuka. Seorang tetangga memasukkan gambar bunga ungu. Tetangga lain memasukkan bintang kertas. Tak lama kemudian, keranjang biru itu penuh surat ceria.

Akhirnya Rani sampai di lantai satu. Pintu keluarga baru terbuka sedikit. Seorang anak perempuan berkacamata bulat mengintip dari balik pintu.
“Selamat datang,” kata Rani sambil mengulurkan surat bergambar matahari kuning.
Anak itu menerimanya, lalu melihat semua surat lain. Senyumnya melebar. “Semua ini untuk kami?”
“Dari seluruh tangga,” kata Rani.

Sore itu, lift sudah diperbaiki. Rani naik kembali dengan keranjang biru yang kosong.
Di setiap lantai, ada orang yang melambaikan tangan. Rani membalas lambaian mereka dan berdiri tegak di dalam lift. Rasanya ia setinggi gedung itu.