Semua ceritaKantor Pos di Tangga Rumah Rani
Rani berlutut di dekat keranjang biru berisi surat dan memberikan surat bergambar matahari kuning kepada seorang anak perempuan berkacamata bulat di pintu yang terbuka sedikit.CERITA BERGAMBAR
Persahabatan dan Kebaikan

Kantor Pos di Tangga Rumah Rani

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Kantor Pos di Tangga Rumah Rani

Rani berdiri di samping gerobak merah penuh surat di depan lift biru bertuliskan “LIFT RUSAK,” sambil memegang surat bergambar matahari.

Rani tinggal di lantai enam sebuah gedung bata yang tinggi. Setiap Sabtu, Rani menulis surat kecil di meja dapur: “Terima kasih untuk tanamannya.” “Supmu harum sekali.”

Rani memasukkan surat-surat itu ke gerobak mainan merah, lalu menariknya ke lift. Ada satu surat istimewa untuk keluarga baru di lantai satu. Rani menggambar matahari kuning cerah di sampulnya.

Namun, pintu lift tidak mau terbuka. Di sana ada tulisan: “LIFT RUSAK.”

Di bordes tangga, Pak Iwan menawarkan keranjang biru kepada Rani, sementara gerobak merah berisi surat milik Rani berada di puncak tangga.

Rani melihat ke bawah tangga. Enam lantai anak tangga melingkar sampai ke bawah. Gerobak merahnya membentur anak tangga pertama. “Buk-buk-buk. Wah, tangganya banyak sekali!”

Pak Iwan membuka pintu rumahnya di lantai lima. “Mau ke mana, Bu Tukang Pos?” tanyanya.

“Ke lantai satu. Tapi gerobakku tidak bisa turun lewat semua tangga ini.”

Pak Iwan mengulurkan keranjang biru. “Kalau keranjang, bisa dibawa dengan tangan.”

Rani dan Sari duduk di tangga dekat jendela berhujan, beristirahat bersama keranjang biru berisi surat dan penyiram tanaman merah.

Rani memindahkan surat-surat itu ke keranjang. Di lantai empat, Sari sedang menyiram pakis. “Boleh aku ikut membawa surat?” tanyanya.

“Boleh, tolong ya,” kata Rani.

Saat sampai di lantai tiga, keranjangnya terasa berat. Tangan Rani mulai gemetar. “Kita istirahat di sini,” kata Sari. Mereka duduk di dekat jendela dan melihat titik hujan meluncur di kaca.

Pak Chen memasukkan surat ke keranjang biru Rani yang penuh, sementara Sari berdiri di sebelah Rani; gambar bunga dan bintang kertas ditawarkan dari pintu-pintu di dekat mereka.

Lalu sebuah pintu terbuka. Pak Chen mengintip. “Ada surat?” tanyanya.

“Surat ramah,” kata Rani.

Pak Chen tersenyum dan memasukkan secarik surat ke keranjang. “Untuk keluarga baru. Tulisannya, ‘Aku pandai membuat panekuk.’”

Saat Rani dan Sari turun, pintu-pintu lain ikut terbuka. Seorang tetangga memasukkan gambar bunga ungu. Tetangga lain memasukkan bintang kertas. Tak lama kemudian, keranjang biru itu penuh surat ceria.

Rani berlutut di dekat keranjang biru berisi surat dan memberikan surat bergambar matahari kuning kepada seorang anak perempuan berkacamata bulat di pintu yang terbuka sedikit.

Akhirnya Rani sampai di lantai satu. Pintu keluarga baru terbuka sedikit. Seorang anak perempuan berkacamata bulat mengintip dari balik pintu.

“Selamat datang,” kata Rani sambil mengulurkan surat bergambar matahari kuning.

Anak itu menerimanya, lalu melihat semua surat lain. Senyumnya melebar. “Semua ini untuk kami?”

“Dari seluruh tangga,” kata Rani.

Rani naik di dalam lift biru sambil membawa keranjang kosong dan melambaikan tangan kepada para tetangga di bordes-bordes tangga.

Sore itu, lift sudah diperbaiki. Rani naik kembali dengan keranjang biru yang kosong.

Di setiap lantai, ada orang yang melambaikan tangan. Rani membalas lambaian mereka dan berdiri tegak di dalam lift. Rasanya ia setinggi gedung itu.