CERITA BERGAMBARDuri dan Biji Cahaya Bulan
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Duri dan Biji Cahaya Bulan

Duri si landak kecil punya tugas penting di Taman Malam. Setiap petang, di bawah pohon ara tua, ia menghitung biji-biji cahaya biru yang kecil.
“Satu, dua, tiga...” kata Duri sambil menyentuh setiap biji dengan telapak kakinya. Jika kedua belas biji berkumpul, jalan-jalan taman akan bersinar untuk hewan-hewan malam.

Pada suatu petang yang berangin, Duri menghitung, “Sepuluh, sebelas...” Lalu ia berhenti. Biji cahaya yang kedua belas hilang!
Kilau biru kecil berkedip di dekat gerbang taman. Duri mengikutinya, melewati bunga-bunga matahari yang mengantuk, lalu ke bawah bangku. Di sana ada Pipi si tikus ladang, sedang mendorong biji cahaya di samping daun yang terlipat.
“Aku sedang membuat lampu kecil,” kata Pipi. “Liangku gelap sekali.”

Duri mengintip lubang gelap di bawah pagar semak. Lalu ia melihat jalan taman yang remang-remang. “Biji ini membantu semua orang menemukan jalan,” katanya. “Tapi kita bisa membuat lampu untukmu dengan cara lain.”
Mereka mencari bersama. Duri menemukan cangkang siput yang bening. Pipi menemukan tiga kerikil pucat dan daun lembut yang melengkung. Duri memasukkan kerikil ke dalam cangkang, lalu Pipi menyelipkan daunnya. Cangkang itu menangkap cahaya bulan dan menjadi lampu kecil berwarna perak.

Pipi membawa lampu itu ke dalam liangnya. Cahaya perak menari di dinding.
“Aku bisa melihat cangkir biji ekku!” cicit Pipi.

Duri menggulirkan biji cahaya itu perlahan kembali ke bawah pohon ara. “Dua belas,” hitungnya akhirnya.

Tak lama kemudian, jalan-jalan taman kembali berkilau biru. Di bawah pagar semak, lampu kecil Pipi bersinar perak.
Duri tersenyum saat berjalan, mengikuti satu cahaya, lalu cahaya yang lain.