Semua ceritaDuri dan Biji Cahaya Bulan
Duri berdiri di dekat biji-biji biru bercahaya di jalan taman, sementara Pipi mengintip dari liangnya di pagar semak di samping lampu cangkang perak.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Duri dan Biji Cahaya Bulan

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Duri dan Biji Cahaya Bulan

Duri, landak kecil berwarna cokelat kemerahan dengan rompi hijau, menyentuh kumpulan biji biru bercahaya di bawah pohon ara besar. Gerbang taman biru tampak di belakangnya.

Duri si landak kecil punya tugas penting di Taman Malam. Setiap petang, di bawah pohon ara tua, ia menghitung biji-biji cahaya biru yang kecil.

“Satu, dua, tiga...” kata Duri sambil menyentuh setiap biji dengan telapak kakinya. Jika kedua belas biji berkumpul, jalan-jalan taman akan bersinar untuk hewan-hewan malam.

Duri melihat biji-biji cahaya biru di jalan taman, sementara Pipi, tikus kecil biru keabu-abuan, mendorong satu biji bercahaya di bawah bangku dekat gerbang.

Pada suatu petang yang berangin, Duri menghitung, “Sepuluh, sebelas...” Lalu ia berhenti. Biji cahaya yang kedua belas hilang!

Kilau biru kecil berkedip di dekat gerbang taman. Duri mengikutinya, melewati bunga-bunga matahari yang mengantuk, lalu ke bawah bangku. Di sana ada Pipi si tikus ladang, sedang mendorong biji cahaya di samping daun yang terlipat.

“Aku sedang membuat lampu kecil,” kata Pipi. “Liangku gelap sekali.”

Duri dan Pipi duduk di luar liang gelap di bawah pagar semak, memasukkan kerikil pucat dan daun hijau ke dalam cangkang siput bening yang bercahaya perak.

Duri mengintip lubang gelap di bawah pagar semak. Lalu ia melihat jalan taman yang remang-remang. “Biji ini membantu semua orang menemukan jalan,” katanya. “Tapi kita bisa membuat lampu untukmu dengan cara lain.”

Mereka mencari bersama. Duri menemukan cangkang siput yang bening. Pipi menemukan tiga kerikil pucat dan daun lembut yang melengkung. Duri memasukkan kerikil ke dalam cangkang, lalu Pipi menyelipkan daunnya. Cangkang itu menangkap cahaya bulan dan menjadi lampu kecil berwarna perak.

Di dalam liang bundar yang gelap, Pipi memegang lampu cangkang siput perak yang bercahaya dan tersenyum ke arah cahaya terang di dinding. Sebuah cangkir biji ek berada di sampingnya.

Pipi membawa lampu itu ke dalam liangnya. Cahaya perak menari di dinding.

“Aku bisa melihat cangkir biji ekku!” cicit Pipi.

Di bawah pohon ara, Duri mengulurkan kaki ke arah kumpulan lengkap dua belas biji biru bercahaya di tanah biru tua.

Duri menggulirkan biji cahaya itu perlahan kembali ke bawah pohon ara. “Dua belas,” hitungnya akhirnya.

Duri berdiri di dekat biji-biji biru bercahaya di jalan taman, sementara Pipi mengintip dari liangnya di pagar semak di samping lampu cangkang perak.

Tak lama kemudian, jalan-jalan taman kembali berkilau biru. Di bawah pagar semak, lampu kecil Pipi bersinar perak.

Duri tersenyum saat berjalan, mengikuti satu cahaya, lalu cahaya yang lain.