CERITA BERGAMBARCangkir Teh yang Menumbuhkan Pintu
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Cangkir Teh yang Menumbuhkan Pintu

Pada sore yang berangin, Raka menemukan cangkir teh biru-putih di belakang pot-pot bunga di rumah kaca Bibi Lila. Di dalamnya ada satu kacang polong hijau terang.
“Boleh aku menanamnya?” tanya Raka.
Bibi Lila tersenyum. “Boleh. Tapi cangkir itu belum pernah menumbuhkan sesuatu yang biasa.”
Raka mengisi cangkir dengan tanah hitam, memasukkan kacang polong, lalu meneteskan tiga tetes air. Ia menaruhnya di rak hangat dekat tanaman tomat.

Keesokan paginya, tunas keriting muncul dari tanah. Saat siang, tunas itu sudah menjulur melewati bibir cangkir. Menjelang makan malam, pintu bundar kecil muncul di sisi cangkir.
Tok, tok, tok.
Raka mendekat. “Siapa di sana?”
Pintu kecil itu terbuka. Seekor kumbang bertopi kuning berdiri di dalamnya. Di belakangnya terbentang terowongan hijau panjang, dengan lampu berbentuk kacang polong di langit-langitnya.

“Aku Piko, penjaga cangkir,” kata kumbang itu. “Lampuku padam. Angin meniup pergi cahayanya.”
“Ke mana perginya?” tanya Raka.
Piko menunjuk ke ujung terowongan. Di sana, awan abu-abu kecil sedang cegukan. Setiap cegukan mengembuskan kilau hijau dari sisinya.
Raka merangkak melewati pintu. Di dalam cangkir, ia menjadi sekecil Piko. Mereka berjalan bersama menuju awan itu.

“Hik! Aku tidak bisa berhenti!” kata awan. “Aku menelan terlalu banyak serbuk bunga yang menggelitik.”
Raka melihat daun lembut di lantai. Ia menggulungnya menjadi tabung kecil, lalu menaruhnya di bawah hidung awan.
“Cium pelan-pelan,” katanya.
Awan itu mengendus. Lalu ia bersin sangat besar. “HACII!”
Kilau hijau melesat di terowongan dan masuk ke setiap lampu kacang polong. Semua lampu menyala hijau terang.

Piko bersorak. Ia memberi Raka lampu kacang polong sebesar kelereng.
Raka merangkak keluar lewat pintu kecil tepat saat Bibi Lila datang membawa penyiram tanaman. Cangkir itu sudah kecil lagi. Tunasnya melilit gagang cangkir, dan pintu kecilnya hilang.

Malam itu, Raka menaruh lampu kacang di samping tempat tidurnya. Lampu itu bersinar lembut sampai pagi, hijau seperti daun baru.