Semua ceritaCangkir Teh yang Menumbuhkan Pintu
Raka mengintip cangkir biru-putih yang memiliki pintu kecil terbuka. Piko, kumbang bertopi kuning, berdiri di dalamnya di depan terowongan hijau berdaun.CERITA BERGAMBAR
Dunia keajaiban

Cangkir Teh yang Menumbuhkan Pintu

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Cangkir Teh yang Menumbuhkan Pintu

Di rumah kaca yang terang, Raka berlutut di dekat rak kayu dan menjatuhkan kacang polong hijau ke tanah dalam cangkir biru-putih, sementara Bibi Lila tersenyum di antara tanaman tomat.

Pada sore yang berangin, Raka menemukan cangkir teh biru-putih di belakang pot-pot bunga di rumah kaca Bibi Lila. Di dalamnya ada satu kacang polong hijau terang.

“Boleh aku menanamnya?” tanya Raka.

Bibi Lila tersenyum. “Boleh. Tapi cangkir itu belum pernah menumbuhkan sesuatu yang biasa.”

Raka mengisi cangkir dengan tanah hitam, memasukkan kacang polong, lalu meneteskan tiga tetes air. Ia menaruhnya di rak hangat dekat tanaman tomat.

Raka mengintip cangkir biru-putih yang memiliki pintu kecil terbuka. Piko, kumbang bertopi kuning, berdiri di dalamnya di depan terowongan hijau berdaun.

Keesokan paginya, tunas keriting muncul dari tanah. Saat siang, tunas itu sudah menjulur melewati bibir cangkir. Menjelang makan malam, pintu bundar kecil muncul di sisi cangkir.

Tok, tok, tok.

Raka mendekat. “Siapa di sana?”

Pintu kecil itu terbuka. Seekor kumbang bertopi kuning berdiri di dalamnya. Di belakangnya terbentang terowongan hijau panjang, dengan lampu berbentuk kacang polong di langit-langitnya.

Raka yang kecil dan Piko berjalan melalui terowongan hijau berdaun di bawah lampu berbentuk kacang polong. Raka menunjuk awan abu-abu kecil dan kilau hijau di depan mereka.

“Aku Piko, penjaga cangkir,” kata kumbang itu. “Lampuku padam. Angin meniup pergi cahayanya.”

“Ke mana perginya?” tanya Raka.

Piko menunjuk ke ujung terowongan. Di sana, awan abu-abu kecil sedang cegukan. Setiap cegukan mengembuskan kilau hijau dari sisinya.

Raka merangkak melewati pintu. Di dalam cangkir, ia menjadi sekecil Piko. Mereka berjalan bersama menuju awan itu.

Raka berjongkok di terowongan hijau dan dengan lembut memegang daun yang digulung di bawah hidung awan abu-abu montok, sementara Piko melihat di dekatnya.

“Hik! Aku tidak bisa berhenti!” kata awan. “Aku menelan terlalu banyak serbuk bunga yang menggelitik.”

Raka melihat daun lembut di lantai. Ia menggulungnya menjadi tabung kecil, lalu menaruhnya di bawah hidung awan.

“Cium pelan-pelan,” katanya.

Awan itu mengendus. Lalu ia bersin sangat besar. “HACII!”

Kilau hijau melesat di terowongan dan masuk ke setiap lampu kacang polong. Semua lampu menyala hijau terang.

Di terowongan hijau yang bercahaya, Piko bertopi kuning memberikan lampu kacang kecil yang bersinar kepada Raka, sementara awan kecil yang gembira melayang lebih jauh di jalan.

Piko bersorak. Ia memberi Raka lampu kacang polong sebesar kelereng.

Raka merangkak keluar lewat pintu kecil tepat saat Bibi Lila datang membawa penyiram tanaman. Cangkir itu sudah kecil lagi. Tunasnya melilit gagang cangkir, dan pintu kecilnya hilang.

Raka tidur di bawah selimut hijau kebiruan di kamar yang diterangi bulan, sementara lampu kacang hijau kecil menyala di meja samping tempat tidur.

Malam itu, Raka menaruh lampu kacang di samping tempat tidurnya. Lampu itu bersinar lembut sampai pagi, hijau seperti daun baru.