Semua ceritaBangku yang Menyimpan Tempat
Kakek dan Nara duduk bersama di bangku hijau yang sudah diputar, memandang bus, tiga merpati di dekat genangan, dan bayi yang menunjuk dari kereta bayi.CERITA BERGAMBAR
Persahabatan dan Kebaikan

Bangku yang Menyimpan Tempat

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Bangku yang Menyimpan Tempat

Nara berdiri di samping bangku hijau di halte bus. Bangku berpapan tiga itu menghadap dinding bata merah, dan papan kecilnya bertuliskan “PLEASE SIT.”

Setiap pagi, Nara melewati bangku hijau kecil di halte bus. Bangku itu punya tiga papan kayu, kaki besi melengkung, dan tulisan: SILAKAN DUDUK.

Tapi tak ada yang duduk di sana. Bangku itu menghadap dinding bata.

“Suatu hari nanti,” kata Nara pada bangku itu, “aku akan membalikkanmu.”

Kakek duduk di bangku hijau yang menghadap dinding bata, sementara Nara berlutut di belakangnya dan menunjuk baut-baut di trotoar.

Sore itu, Nara membawakan roti isi untuk Kakek di halte. Kakek duduk di bangku itu sambil mengembuskan napas panjang.

“Ah,” kata Kakek. “Kakek bisa mendengar merpati, tapi tidak bisa melihatnya.”

Nara melihat ke belakang bangku. Ada empat baut besar yang menahannya di trotoar. Ia tak bisa membalikkan bangku itu sendirian.

Nara menempelkan tulisan “TURN THE BENCH, PLEASE” di dinding bata. Seorang anak berjas hujan kuning, tukang roti yang membawa roti, dan orang tua dengan kereta bayi memperhatikan.

Pagi berikutnya, Nara membuat tulisan: TOLONG BALIKKAN BANGKU INI. Ia menempelkannya di dinding bata.

Seorang anak berjas hujan kuning membacanya. “Kenapa?” tanyanya.

“Supaya kita bisa melihat jalan,” jawab Nara.

“Kalau begitu, aku bisa melihat bus datang,” kata tukang roti yang membawa roti.

“Dan bayiku bisa melihat pohon,” kata seorang ibu yang mendorong kereta bayi.

Nara dan Kakek menunjukkan gambar besar kepada petugas kota yang tersenyum di mejanya. Gambar itu memperlihatkan bangku hijau menghadap jalan, dengan bus, merpati, pohon, dan Kakek.

Nara menggambar bangku yang menghadap jalan. Semua orang di halte menambahkan gambar: merpati, bus, pohon, dan Kakek yang melambaikan tangan.

Mereka membawa gambar itu ke kantor kecil di pojok jalan, tempat petugas kota bekerja.

Petugas itu memperhatikan gambar mereka. “Bangku itu hanya melihat dinding yang membosankan,” katanya.

Dua pekerja mengangkat dan memutar bangku hijau menjauh dari dinding bata, sementara Nara, Kakek, dan para tetangga menonton dari dekat.

Hari Sabtu, dua pekerja datang membawa alat-alat berkilau. Nara, Kakek, anak berjas hujan, tukang roti, dan keluarga dengan kereta bayi menonton dari jauh.

Kling. Kleng. Angkat. Putar.

Akhirnya, bangku hijau kecil itu menghadap ke jalan.

Kakek dan Nara duduk bersama di bangku hijau yang sudah diputar, memandang bus, tiga merpati di dekat genangan, dan bayi yang menunjuk dari kereta bayi.

Kakek duduk lebih dulu. Di seberang jalan, tiga merpati berjalan-jalan di dekat genangan. Sebuah bus muncul dari tikungan. Bayi itu menunjuk daun merah yang menari tertiup angin.

Nara duduk di samping Kakek. Bangku itu hangat terkena matahari.

Tulisannya masih berbunyi: SILAKAN DUDUK.

Nara tersenyum. Kini, tulisan itu seolah berkata, “Ayo melihat bersama.”