Semua ceritaWulan dan Kincir Angin di Jendela
Pak Beni menunjuk bendera hijau bergambar kacang, sementara Wulan mengisi bungkus kertas dari keranjang benih kacang di bawah jendela dan kincir angin.CERITA BERGAMBAR
Perancang Cilik

Wulan dan Kincir Angin di Jendela

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Wulan dan Kincir Angin di Jendela

Wulan meraih label kertas yang tertiup angin dari tiga keranjang benih menuju jendela biru yang terbuka.

Wulan punya toko benih kecil di ujung lorong pasar. Ia menjual benih bunga matahari yang bulat, benih labu bergaris, dan benih cabai mungil.

Setiap pagi, Wulan membuka jendela agar udara segar masuk. Namun suatu pagi, angin berembus, “Wuusss!” Label-label kertas dari keranjang benih pun terbang.

“Aduh!” seru Wulan. “Jangan-jangan benih labu mendapat label cabai!”

Wulan duduk di samping keranjang benih bunga matahari, memandang kincir kertas yang berputar dekat jendela; tali dan batu tergeletak di lantai.

Wulan menutup jendela. Tak lama kemudian, tokonya terasa pengap. Ia ingin udara segar, tetapi ia juga ingin label-label itu tetap di tempatnya.

Pak Beni, tetangganya, datang membeli benih kacang. “Bagaimana kalau labelnya diikat?” tanyanya.

Wulan mencoba tali, tetapi angin menarik simpulnya sampai lepas. Ia mencoba batu-batu licin, tetapi pembeli tidak bisa membaca tulisan di bawahnya.

Wulan duduk di samping keranjang bunga matahari dan menengadah. Kincir kertas dari pesta pasar minggu lalu berputar pelan tertiup angin.

Wulan memasang kincir angin kertas warna-warni di ambang jendela, dengan tiga bendera kecil tergantung di bawahnya.

“Angin bisa memutar benda,” kata Wulan. “Mungkin angin juga bisa membantu!”

Ia mencari empat batang kayu tipis, sebuah gabus kecil, dan kertas warna-warni. Wulan membuat kincir angin kecil, lalu meletakkannya di ambang jendela. Di bawahnya, ia menggantung sederet bendera kertas mungil.

Di dekat jendela, Wulan menjepit bendera kuning pada tali di atas keranjang benih, sementara kincir angin berputar dan dua bendera lain sudah tergantung.

Saat Wulan membuka jendela, kincir itu berputar. Bendera-bendera kecil berkibar, tetapi tidak terbang lepas.

Wulan menjepit satu bendera di atas setiap keranjang benih.

Tiga keranjang benih memiliki bendera bertuliskan “Bunga Matahari”, “Labu”, dan “Kacang”; kincir angin kecil berputar di jendela biru yang terbuka.

Pada bendera kuning, Wulan menulis, “Bunga Matahari.” Pada bendera oranye, ia menulis, “Labu.” Pada bendera hijau, ia menulis, “Kacang.”

Kini jendela terbuka lebar lagi. Kincir angin berdengung lembut, dan bendera-bendera menari di atas keranjang agar semua orang dapat melihatnya.

Pak Beni menunjuk bendera hijau bergambar kacang, sementara Wulan mengisi bungkus kertas dari keranjang benih kacang di bawah jendela dan kincir angin.

Pak Beni menunjuk bendera hijau. “Benih kacang, ya,” katanya.

Wulan mengisi sebuah bungkus kertas dan tersenyum. Angin masih datang ke tokonya. Sekarang, angin membantu orang menemukan benih yang mereka cari.