CERITA BERGAMBARWulan dan Kincir Angin di Jendela
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Wulan dan Kincir Angin di Jendela

Wulan punya toko benih kecil di ujung lorong pasar. Ia menjual benih bunga matahari yang bulat, benih labu bergaris, dan benih cabai mungil.
Setiap pagi, Wulan membuka jendela agar udara segar masuk. Namun suatu pagi, angin berembus, “Wuusss!” Label-label kertas dari keranjang benih pun terbang.
“Aduh!” seru Wulan. “Jangan-jangan benih labu mendapat label cabai!”

Wulan menutup jendela. Tak lama kemudian, tokonya terasa pengap. Ia ingin udara segar, tetapi ia juga ingin label-label itu tetap di tempatnya.
Pak Beni, tetangganya, datang membeli benih kacang. “Bagaimana kalau labelnya diikat?” tanyanya.
Wulan mencoba tali, tetapi angin menarik simpulnya sampai lepas. Ia mencoba batu-batu licin, tetapi pembeli tidak bisa membaca tulisan di bawahnya.
Wulan duduk di samping keranjang bunga matahari dan menengadah. Kincir kertas dari pesta pasar minggu lalu berputar pelan tertiup angin.

“Angin bisa memutar benda,” kata Wulan. “Mungkin angin juga bisa membantu!”
Ia mencari empat batang kayu tipis, sebuah gabus kecil, dan kertas warna-warni. Wulan membuat kincir angin kecil, lalu meletakkannya di ambang jendela. Di bawahnya, ia menggantung sederet bendera kertas mungil.

Saat Wulan membuka jendela, kincir itu berputar. Bendera-bendera kecil berkibar, tetapi tidak terbang lepas.
Wulan menjepit satu bendera di atas setiap keranjang benih.

Pada bendera kuning, Wulan menulis, “Bunga Matahari.” Pada bendera oranye, ia menulis, “Labu.” Pada bendera hijau, ia menulis, “Kacang.”
Kini jendela terbuka lebar lagi. Kincir angin berdengung lembut, dan bendera-bendera menari di atas keranjang agar semua orang dapat melihatnya.

Pak Beni menunjuk bendera hijau. “Benih kacang, ya,” katanya.
Wulan mengisi sebuah bungkus kertas dan tersenyum. Angin masih datang ke tokonya. Sekarang, angin membantu orang menemukan benih yang mereka cari.