CERITA BERGAMBARTika dan Pasang Laut yang Kecil Sekali
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Tika dan Pasang Laut yang Kecil Sekali

Tika, kepiting kecil, tinggal di bawah jalan kayu di tepi laut. Setiap pagi, air pasang naik melewati batu-batu mengilap dan mengisi kolam-kolam kecil.
Namun suatu pagi, pasangnya kecil sekali. Air berhenti jauh di bawah batu-batu, dan matahari mulai menyusutkan kolam-kolam itu.
Tika bergegas ke kolam kesukaannya. Tetangganya, anemon laut ungu, menutup rapat lengan-lengannya yang lembut. Tiga ikan kecil berputar-putar di genangan yang lebarnya tidak lebih dari capit Tika.
“Airnya pergi,” kata Tika sambil mengeklikkan capit. “Kita perlu tempat teduh.”

Tika berjalan menyamping ke bawah jalan kayu. Pita-pita rumput laut hijau yang panjang tergeletak di pasir. Ia menarik satu pita. Tidak bergerak. Ia menarik yang lain. Terlalu berat.
Seekor burung trinil hinggap di dekatnya sambil membawa kerikil di paruhnya. “Kamu sedang apa?” tanyanya.
“Aku mau membuat tempat teduh untuk kolam,” kata Tika. “Maukah kamu membantu menarik rumput laut ini?”
Burung trinil meletakkan kerikilnya, lalu menjepit rumput laut dengan paruhnya. Tika menarik dengan kedua capitnya. Sreeet! Rumput laut itu bergeser di atas pasir.

Mereka membentangkan rumput laut itu di atas dua batu di samping kolam. Jadilah atap hijau yang sejuk dan bergoyang-goyang. Ikan-ikan kecil segera berenang ke bawahnya. Anemon laut perlahan membuka satu lengan, lalu dua.
“Air pasang masih jauh,” kata burung trinil.
Tika memandang kolam kecil itu. “Kalau begitu, kita bantu airnya bertahan.” Tika dan burung trinil membawa kerikil halus yang basah dari tepi laut. Di sekeliling kolam, mereka membuat dinding kecil agar airnya tidak merembes pergi.

Saat sore tiba, matahari mulai rendah. Jauh di laut, garis perak mulai membesar.
“Sssshhh,” air meluncur di atas pasir.

Akhirnya, air pasang sampai ke batu-batu dan mengalir ke setiap kolam. Tika berdiri di kerikil paling tinggi ketika ombak kecil melingkari kakinya.
Anemon laut ungu melambai dengan semua lengannya. Ikan-ikan kecil berkilat di air seperti uang logam.

Burung trinil mengambil kerikilnya lagi. “Atapmu ide yang bagus,” katanya.
Tika tersenyum dan menyelipkan sepotong rumput laut hijau terakhir di bawah cangkangnya. “Siapa tahu besok berguna lagi.”