Semua ceritaTika dan Gerobak yang Goyang
Di bazar sekolah, Pak Fino membuat kincir angin warna-warni di meja panjang bersama Doti, sementara Tika menunggu di dekatnya dengan alat-alat yang tersusun rapi.DUNIA KECIL MENANTIMU
Perancang Cilik

Tika dan Gerobak yang Goyang

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

4 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Tika dan Gerobak yang Goyang

Di bengkel yang terang, potongan kertas biru beterbangan dari pintu terbuka saat Pak Fino meraih ke atas dan Tika, gerobak alat merah, berada di dekatnya.

Tika adalah gerobak kecil berwarna merah dengan empat roda kayu. Setiap pagi, ia membawa alat-alat berkeliling Bengkel Sibuk: palu, kuas cat, dan sekotak sekrup mengilap. Ia suka bunyi roda-roda itu di lantai papan. Klater-klater!

Suatu hari yang berangin, hembusan angin masuk dari pintu yang terbuka. Potongan-potongan kertas warna-warni berputar-putar di dalam ruangan. “Aduh!” seru Pak Fino, pembuat mainan. “Kertas itu untuk kincir angin anak-anak. Besok ada bazar sekolah!”

Tika melewati tonjolan lantai saat sebuah kotak jatuh dari gerobaknya dan sekrup-sekrup berserakan ke arah kucing tidur di bawah meja kerja.

Tika segera meluncur mengejar kertas-kertas itu. Namun, ia berbelok terlalu cepat. Salah satu rodanya menghantam tonjolan pada lantai. Klonk! Kotak sekrupnya miring. Sekrup-sekrup bergulir ke bawah meja, ke bawah rak, bahkan masuk ke keranjang kucing yang sedang tidur.

Pegangan Tika terkulai. “Aku tidak bisa membawa barang dengan aman,” katanya pelan.

Pak Fino berlutut di samping Tika yang dimiringkan dan menunjuk rodanya yang rendah, sementara burung biru Doti terbang masuk dari jendela.

Pak Fino berlutut di sampingnya. “Mari kita periksa baik-baik.” Ia memiringkan Tika ke satu sisi. Ternyata satu roda lebih rendah daripada tiga roda lainnya. Pasak kayu kecil di tengah roda itu sudah aus dan licin.

Seekor burung biru bernama Doti terbang turun dari jendela. “Kalau dipasang pasak baru, apakah bisa?” tanyanya.

Tika bergoyang di atas rodanya saat Pak Fino bekerja di sampingnya dan Doti membawa cincin pipih dekat toples berisi benda-benda kecil.

Pak Fino mengambil sebatang kayu bulat pendek, lalu memasangnya. Tika didorong maju. Goyang, goyang. “Terlalu kurus,” kata Tika sambil oleng ke kanan dan kiri.

Doti mengambil cincin pipih dari toples kancing. Pak Fino menyelipkannya di antara roda dan sisi kayu Tika. Lalu ia memilih pasak yang lebih tebal. “Sekarang kita coba,” katanya.

Tika melaju mulus melewati tonjolan lantai dengan kotak sekrup penuh, sementara Pak Fino berjongkok di dekatnya dan Doti bersorak di atasnya.

Mula-mula, Tika membawa tiga pot cat melintasi lantai. Klater-klater. Tidak goyang! Lalu ia membawa palu dan kuas. Tetap tidak goyang. Terakhir, Pak Fino meletakkan kotak sekrup di dalamnya. Tika melewati tonjolan lantai tanpa menjatuhkan satu sekrup pun.

“Mantap!” ciap Doti. Roda Tika berbunyi riang.

Di bazar sekolah, Pak Fino membuat kincir angin warna-warni di meja panjang bersama Doti, sementara Tika menunggu di dekatnya dengan alat-alat yang tersusun rapi.

Mereka bertiga mengumpulkan potongan kertas dan membawanya ke meja kerja yang panjang. Pak Fino dan Doti membuat kincir angin merah, kuning, dan biru.

Keesokan harinya, angin sepoi-sepoi memutar kincir-kincir itu di bazar sekolah. Tika menunggu di dekatnya dengan kertas dan alat cadangan di gerobaknya yang rapi. Saat ada anak yang membutuhkan tongkat baru atau sekrup yang dikencangkan, Tika sudah siap—tegak dan mantap di atas keempat rodanya.