DUNIA KECIL MENANTIMURani dan Layang-Layang Keras Kepala
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Rani dan Layang-Layang Keras Kepala

Rani menemukan layang-layang merah tersangkut di rumput tinggi di dekat taman bermain. Ekor birunya yang panjang terlilit erat pada kaki bangku.
“Layang-layang siapa, ya?” tanya Rani. Layang-layang itu mengepak kecil. Plap!
Rani melepaskan ekornya dari bangku. Saat itu juga, angin kencang menangkap layang-layang itu. Layang-layang merah itu terbang naik—melewati perosotan, melewati bak pasir, lalu tersangkut di atap rendah gudang alat.

Rani berdiri di bawah gudang dan menengadah. Atapnya terlalu tinggi untuk dijangkau. “Turun, dong,” panggilnya.
Layang-layang itu hanya menarik-narik talinya. Plap-plap! Ekor birunya seperti menunjuk garu kuning besar yang bersandar di dekat pagar.
Rani membawa garu itu ke gudang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tetap saja kurang panjang. Temannya, Dika, datang membawa mi busa panjang dari kotak mainan.

“Kita rekatkan saja,” kata Dika.
Mereka membalut gagang garu dan mi busa dengan selotip perak yang lebar. Rani memegang satu ujung, Dika memegang ujung lainnya. Bersama-sama, mereka mengangkat alat panjang yang lentur itu.
Tok! Ujung mi busa menyentuh ekor layang-layang. Layang-layang itu meluncur turun dari atap, berputar di udara, lalu jatuh ke pelukan Rani.

Seorang anak laki-laki kecil berlari dari dekat ayunan. “Layang-layangku!” serunya. “Tadi ditarik angin.”
Rani menyerahkannya. “Ia sibuk sekali,” katanya.
Anak itu tersenyum dan mengulurkan talinya. “Mau menerbangkannya denganku?”

Rani dan Dika masing-masing memegang bagian ekor biru, sementara anak itu berlari melintasi rumput. Kali ini, layang-layang merah itu terbang tinggi tanpa tersangkut, menari-nari jauh di atas gudang alat.