Semua ceritaRani dan Layang-Layang Keras Kepala
Anak berambut keriting berlari melintasi taman bermain sambil menerbangkan layang-layang merah tinggi di atas gudang biru, sementara Rani dan Dika masing-masing memegang bagian ekor birunya yang panjang.DUNIA KECIL MENANTIMU
Perancang Cilik

Rani dan Layang-Layang Keras Kepala

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit5 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Rani dan Layang-Layang Keras Kepala

Rani berdiri di taman bermain berumput di samping gudang alat biru, menatap layang-layang merah berekor biru panjang yang tersangkut di atapnya. Perosotan, ayunan, dan bak pasir tampak di belakangnya.

Rani menemukan layang-layang merah tersangkut di rumput tinggi di dekat taman bermain. Ekor birunya yang panjang terlilit erat pada kaki bangku.

“Layang-layang siapa, ya?” tanya Rani. Layang-layang itu mengepak kecil. Plap!

Rani melepaskan ekornya dari bangku. Saat itu juga, angin kencang menangkap layang-layang itu. Layang-layang merah itu terbang naik—melewati perosotan, melewati bak pasir, lalu tersangkut di atap rendah gudang alat.

Dika membawa mi busa biru panjang menuju Rani saat mereka menatap layang-layang merah di atap gudang. Ekor birunya menjuntai di dekat garu kuning besar.

Rani berdiri di bawah gudang dan menengadah. Atapnya terlalu tinggi untuk dijangkau. “Turun, dong,” panggilnya.

Layang-layang itu hanya menarik-narik talinya. Plap-plap! Ekor birunya seperti menunjuk garu kuning besar yang bersandar di dekat pagar.

Rani membawa garu itu ke gudang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tetap saja kurang panjang. Temannya, Dika, datang membawa mi busa panjang dari kotak mainan.

Rani dan Dika mengangkat alat panjang dari gagang garu kuning dan mi busa biru ke arah layang-layang merah di atap gudang.

“Kita rekatkan saja,” kata Dika.

Mereka membalut gagang garu dan mi busa dengan selotip perak yang lebar. Rani memegang satu ujung, Dika memegang ujung lainnya. Bersama-sama, mereka mengangkat alat panjang yang lentur itu.

Tok! Ujung mi busa menyentuh ekor layang-layang. Layang-layang itu meluncur turun dari atap, berputar di udara, lalu jatuh ke pelukan Rani.

Rani menyerahkan layang-layang merah kepada pemiliknya yang berambut keriting dan tersenyum di taman bermain, sementara anak itu menawarkan talinya. Ekor biru layang-layang menjuntai di antara mereka.

Seorang anak laki-laki kecil berlari dari dekat ayunan. “Layang-layangku!” serunya. “Tadi ditarik angin.”

Rani menyerahkannya. “Ia sibuk sekali,” katanya.

Anak itu tersenyum dan mengulurkan talinya. “Mau menerbangkannya denganku?”

Anak berambut keriting berlari melintasi taman bermain sambil menerbangkan layang-layang merah tinggi di atas gudang biru, sementara Rani dan Dika masing-masing memegang bagian ekor birunya yang panjang.

Rani dan Dika masing-masing memegang bagian ekor biru, sementara anak itu berlari melintasi rumput. Kali ini, layang-layang merah itu terbang tinggi tanpa tersangkut, menari-nari jauh di atas gudang alat.