Semua ceritaRakoon Raka dan Kotak Surat di Bawah Bulan
Teman-teman hewan berkumpul di bawah bunga matahari tinggi saat Mita menggantung lentera; Raka, tupai, tikus tanah, dan burung hantu membawa hidangan pesta.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Rakoon Raka dan Kotak Surat di Bawah Bulan

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

4 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Rakoon Raka dan Kotak Surat di Bawah Bulan

Raka, rakun penjaga surat berpeci biru, memegang amplop berbintang biru di samping kotak surat merah yang terbuka, di bawah pohon ek tua dan bulan purnama.

Raka si rakun adalah penjaga surat malam di kota kecil yang rumah-rumahnya berada di atas pohon. Setiap sore, ia membuka kotak surat merah di samping pohon ek tua. Ia memilah surat dari baunya. Surat wangi lavender untuk Bu Tikus Tanah. Surat wangi pinus untuk keluarga tupai. Surat wangi mint untuk burung hantu pemilik kedai teh.

Pada suatu malam yang terang oleh bulan, Raka menemukan surat tanpa nama. Amplopnya penuh bintang biru kecil. Di dalamnya tertulis, “Temui aku saat tengah malam, di tempat bayangan menunjuk.”

Raka berjalan di rumput yang diterangi bulan dengan surat berbintang di tasnya, menuju kebun labu dan kubis di dekat kolam.

Raka melihat menara jam. Waktunya hampir tengah malam. “Surat ini untuk siapa, ya?” katanya. Ia memasukkan surat itu ke tas suratnya, lalu mengikuti bayangan panjang pohon ek.

Bayangan itu melintang di atas rumput sampai ke kolam. Di sana, ilalang membuat bayangan tipis yang bergoyang-goyang. Bayangan itu menunjuk ke kebun sayur. Raka bergegas melewati labu-labu yang tidur dan daun kubis yang berkilau keperakan terkena cahaya bulan.

Raka menunjukkan amplop berbintang biru kepada tikus kecil yang memegang topi kertas putih berbintang biru di samping kaleng penyiram.

Lalu Raka mendengar isak kecil dari belakang kaleng penyiram. Di sana duduk Mita, tikus muda. Di tangannya ada topi kertas dengan gambar satu bintang biru.

“Aku mau mengadakan pesta bulan,” kata Mita. “Aku ingin semua berkumpul di dekat bunga matahari yang tinggi. Tapi undanganku tertiup angin sebelum kutulis namanya. Sekarang tidak ada yang akan datang.”

Raka mengangkat surat berbintang itu. “Kurasa ini undanganmu.”

Mita memandang surat itu. “Tapi bagaimana mereka tahu harus ke mana?”

Mita meletakkan daun di samping batu-batu basah yang berkilau, sementara Raka membunyikan bel di tas suratnya; jalan bercahaya bulan menuju bunga matahari.

Tetes. Tetes. Tetes. Kaleng penyiram itu bocor ke deretan batu pipih. Di bawah cahaya bulan, batu-batu basah itu berkilau seperti panah perak kecil.

“Bayangan sudah membawa kita kemari,” kata Raka. “Sekarang kita buat panah untuk yang lain.”

Raka dan Mita menaruh daun-daun kering di samping batu-batu berkilau. Semua daun menunjuk ke arah bunga matahari tinggi. Raka membunyikan bel sepedanya sekali. Ting! Lalu dua kali. Ting-ting!

Teman-teman hewan berkumpul di bawah bunga matahari tinggi saat Mita menggantung lentera; Raka, tupai, tikus tanah, dan burung hantu membawa hidangan pesta.

Tak lama kemudian, hewan-hewan mengintip dari rumah mereka. Mereka mengikuti batu perak, daun yang menunjuk, dan bunyi bel yang riang. Keluarga tupai membawa kue biji pohon ek. Bu Tikus Tanah membawa roti lavender. Burung hantu dari kedai teh membawa teko kecil berisi teh mint.

Di dekat bunga matahari tinggi, Mita memakai topi kertasnya. Bunganya tertutup untuk malam, tetapi batangnya yang tinggi pas untuk menggantung lentera.

“Pesta ini menemukan kita,” kata Raka.

Mita menuangkan teh ke cangkir-cangkir kecil di meja daun, sementara Raka dan burung hantu melihat surat berbintang biru yang terbuka di bawah lentera dan bulan.

Mita tersenyum. Ia menuangkan teh ke dalam tutup-tutup botol kecil. Lalu semua berkumpul di bawah bulan untuk membaca surat berbintang itu. Di belakang surat, Raka sudah menulis kalimat baru: “Ikuti cahaya. Kamu diundang.”