Semua ceritaPipi dan Perahu Payung
Pipi melihat dari tepi rumput saat payung merahnya mengapung terbalik seperti mangkuk di kolam yang hujan. Di seberang air, seekor ibu bebek berdiri bersama anak-anak bebeknya di pulau kecil.DUNIA KECIL MENANTIMU
Sahabat hewan

Pipi dan Perahu Payung

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Pipi dan Perahu Payung

Saat hujan deras, Pipi, bebek kecil cokelat, berada di sarangnya di bawah payung merah besar dan melihat empat anak bebek kuning yang berdesakan di pulau rumput. Batu-batu pijakan tenggelam di bawah air kolam yang beriak.

Pipi adalah bebek kecil berwarna cokelat yang tinggal di tepi kolam. Di samping sarangnya berdiri payung merah bundar. Saat panas, payung itu membuat tempat teduh. Saat hujan, payung itu menjadi atap yang nyaman.

Suatu pagi, hujan turun deras. Plok, plok, plok, air hujan menghantam kolam. Pipi mengintip dari sarang dan melihat beberapa anak bebek berdesakan di pulau rumput kecil. Batu-batu pijakan menuju tepi kolam sudah tenggelam.

Pipi melihat dari tepi rumput saat payung merahnya mengapung terbalik seperti mangkuk di kolam yang hujan. Di seberang air, seekor ibu bebek berdiri bersama anak-anak bebeknya di pulau kecil.

“Kwek!” panggil ibu mereka dari tepi kolam. “Tetap rapat, ya!”

Pipi ingin menolong. Ia menarik sebatang ilalang panjang, tetapi ilalang itu melengkung lalu terlepas. Ia mendorong batang kayu yang mengapung, tetapi kayu itu tidak bergerak. Lalu angin kencang menangkap payung merahnya. Wusss! Payung itu terbalik dan mengapung di kolam seperti mangkuk bundar besar.

Pipi berkedip. “Itu bisa jadi perahu!”

Pipi duduk di dalam payung merah terbalik yang mengapung di kolam saat hujan dan memegang gagangnya yang melengkung. Sarang anyamannya yang kosong terlihat di tepi rumput di belakangnya.

Ia mencabut payung dari tempatnya dan menaruhnya terbalik di atas air. Payung itu mengapung pelan. Pipi naik ke dalamnya dan memegang gagangnya yang melengkung. Hujan menitik di kain merah di sekelilingnya.

Pipi menunggu di dalam perahu payung merah di samping pulau rumput dan mengulurkan sayap saat anak bebek kuning terkecil melangkah masuk. Tiga anak bebek lain menunggu di dekatnya.

Perahu payung melaju pelan ke pulau kecil. “Satu-satu, ya,” kata Pipi. Anak bebek yang paling kecil masuk lebih dulu. Lalu satu lagi. Tak lama kemudian, perahu kecil itu penuh bulu kuning yang lembut.

Pipi mengayuh dengan kaki berselaput di belakang perahu payung merah yang penuh anak bebek kuning. Air memercik di sekeliling perahu saat mereka menuju tepi rumput hijau.

Pipi mengayuh dengan kaki berselaputnya. Ciprat, ciprat. Perahunya bergoyang, tetapi tidak terbalik. Akhirnya, perahu itu menyentuh tepi kolam dengan pelan.

Setelah hujan, Pipi berdiri di samping sarangnya di bawah payung merah yang terbuka. Di dekatnya, ibu bebek cokelat besar membuka sayapnya untuk melindungi empat anak bebek kuning di tepi kolam yang cerah.

Anak-anak bebek segera berlari kepada ibu mereka. Sang ibu menyelipkan mereka satu per satu ke bawah sayapnya. Pipi mengibaskan air dari bulunya, lalu memandangi payung yang masih terbalik.

Hujan berhenti. Sebidang langit cerah tampak di atas kolam. Pipi membalikkan payungnya dan menaruhnya kembali di samping sarang. Payung itu bisa menjadi atap, tempat teduh, dan, saat kolam membutuhkannya, perahu merah yang sangat baik.