DUNIA KECIL MENANTIMUPipi dan Perahu Payung
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Pipi dan Perahu Payung

Pipi adalah bebek kecil berwarna cokelat yang tinggal di tepi kolam. Di samping sarangnya berdiri payung merah bundar. Saat panas, payung itu membuat tempat teduh. Saat hujan, payung itu menjadi atap yang nyaman.
Suatu pagi, hujan turun deras. Plok, plok, plok, air hujan menghantam kolam. Pipi mengintip dari sarang dan melihat beberapa anak bebek berdesakan di pulau rumput kecil. Batu-batu pijakan menuju tepi kolam sudah tenggelam.

“Kwek!” panggil ibu mereka dari tepi kolam. “Tetap rapat, ya!”
Pipi ingin menolong. Ia menarik sebatang ilalang panjang, tetapi ilalang itu melengkung lalu terlepas. Ia mendorong batang kayu yang mengapung, tetapi kayu itu tidak bergerak. Lalu angin kencang menangkap payung merahnya. Wusss! Payung itu terbalik dan mengapung di kolam seperti mangkuk bundar besar.
Pipi berkedip. “Itu bisa jadi perahu!”

Ia mencabut payung dari tempatnya dan menaruhnya terbalik di atas air. Payung itu mengapung pelan. Pipi naik ke dalamnya dan memegang gagangnya yang melengkung. Hujan menitik di kain merah di sekelilingnya.

Perahu payung melaju pelan ke pulau kecil. “Satu-satu, ya,” kata Pipi. Anak bebek yang paling kecil masuk lebih dulu. Lalu satu lagi. Tak lama kemudian, perahu kecil itu penuh bulu kuning yang lembut.

Pipi mengayuh dengan kaki berselaputnya. Ciprat, ciprat. Perahunya bergoyang, tetapi tidak terbalik. Akhirnya, perahu itu menyentuh tepi kolam dengan pelan.

Anak-anak bebek segera berlari kepada ibu mereka. Sang ibu menyelipkan mereka satu per satu ke bawah sayapnya. Pipi mengibaskan air dari bulunya, lalu memandangi payung yang masih terbalik.
Hujan berhenti. Sebidang langit cerah tampak di atas kolam. Pipi membalikkan payungnya dan menaruhnya kembali di samping sarang. Payung itu bisa menjadi atap, tempat teduh, dan, saat kolam membutuhkannya, perahu merah yang sangat baik.