CERITA BERGAMBARPina Pelikan dan Kantong Pagi
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Pina Pelikan dan Kantong Pagi

Pina, pelikan muda, bangun sebelum matahari terbit. Pelabuhan masih biru dan sunyi. Perahu-perahu nelayan bergoyang di samping dermaga kayu.
Pina mendengarkan bunyi-bunyi kecil: tali berderit, ikan mencemplung, dan camar mengantuk berkata, “Mrrp.” Setiap pagi, ia pura-pura menyimpan satu bunyi di kantong lembut bawah paruhnya. Pagi ini, ia memilih bunyi lonceng perahu pertama. “Kling!” bisiknya sambil menepuk kantongnya.

Lalu kabut tebal bergulung di atas air. Kabut menutupi dermaga, perahu-perahu, bahkan mercusuar merah yang terang. Pina hanya bisa melihat dua kaki berselaputnya.
“Kling?” bunyi lonceng perahu terdengar dari dalam kabut.
Sayap Pina bergetar. Ayahnya sedang melaut. Biasanya Ayah pulang saat mercusuar berkedip tiga kali. Namun sekarang mercusuar itu hilang di balik kabut.
Seekor kepiting kecil mengklikkan capit di dekatnya. “Kalau berkabut, semua bunyi terasa jauh,” katanya.

Pina membuka paruhnya lebar-lebar. “Kalau begitu, aku akan membuat bunyi kita lebih keras!” Ia mengeluarkan bunyi lonceng itu ke pelabuhan. “KLING!”
Camar mengantuk menjawab dari dalam kabut. Pina mengirim bunyinya juga. “Mrrp!” Lalu derit tali menyusul. “Eeeek!”
Kepiting-kepiting mengklikkan capit. Camar-camar memanggil. Seekor anjing laut menepuk air dengan siripnya. Tak lama kemudian, pelabuhan menyanyikan lagu yang ramai dan ramah.

Di tengah kabut, Ayah Pina mendengar lagu itu. Ia mengikuti bunyi lonceng, lalu panggilan camar, lalu cipratan anjing laut.
Akhirnya, ujung perahunya muncul di samping dermaga. Pina mengepakkan kedua sayapnya. “Ayah menemukan kami!”
Ayah tersenyum. “Ayah mendengar seluruh pelabuhan memanggil.”

Saat itu juga, kabut mulai menipis. Mercusuar merah berkedip sekali, dua kali, tiga kali. Cahaya pagi keemasan menyebar di atas air.
Pina mendengarkan dengan saksama. Bunyi ini tidak ia simpan. Semua orang di dermaga sedang tertawa, dan bunyi itu terlalu besar untuk satu kantong kecil.