Semua ceritaPina Pelikan dan Kantong Pagi
Pina mengepakkan sayap dengan gembira di dermaga kuning ketika ayahnya yang lebih besar, memakai topi rajut merah dan rompi biru, tiba dengan perahu nelayan biru menembus kabut.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Pina Pelikan dan Kantong Pagi

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit5 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Pina Pelikan dan Kantong Pagi

Di pelabuhan biru, Pina si pelikan putih kecil berdiri di dermaga kuning di samping perahu nelayan biru besar dan meraih lonceng gelapnya. Dua perahu, mercusuar merah, dan matahari kuning yang terbit tampak di kejauhan.

Pina, pelikan muda, bangun sebelum matahari terbit. Pelabuhan masih biru dan sunyi. Perahu-perahu nelayan bergoyang di samping dermaga kayu.

Pina mendengarkan bunyi-bunyi kecil: tali berderit, ikan mencemplung, dan camar mengantuk berkata, “Mrrp.” Setiap pagi, ia pura-pura menyimpan satu bunyi di kantong lembut bawah paruhnya. Pagi ini, ia memilih bunyi lonceng perahu pertama. “Kling!” bisiknya sambil menepuk kantongnya.

Pina berdiri dalam kabut putih pucat bersama kepiting merah kecil di dekat kakinya. Perahu biru dan mercusuar merah hanya tampak samar di belakang mereka.

Lalu kabut tebal bergulung di atas air. Kabut menutupi dermaga, perahu-perahu, bahkan mercusuar merah yang terang. Pina hanya bisa melihat dua kaki berselaputnya.

“Kling?” bunyi lonceng perahu terdengar dari dalam kabut.

Sayap Pina bergetar. Ayahnya sedang melaut. Biasanya Ayah pulang saat mercusuar berkedip tiga kali. Namun sekarang mercusuar itu hilang di balik kabut.

Seekor kepiting kecil mengklikkan capit di dekatnya. “Kalau berkabut, semua bunyi terasa jauh,” katanya.

Pina berseru dengan paruh kuning besarnya terbuka ketika bentuk-bentuk bunyi biru dan merah melengkung di atasnya. Kepiting merah yang tersenyum mengangkat capitnya, sementara seekor camar putih terbang di atas pelabuhan.

Pina membuka paruhnya lebar-lebar. “Kalau begitu, aku akan membuat bunyi kita lebih keras!” Ia mengeluarkan bunyi lonceng itu ke pelabuhan. “KLING!”

Camar mengantuk menjawab dari dalam kabut. Pina mengirim bunyinya juga. “Mrrp!” Lalu derit tali menyusul. “Eeeek!”

Kepiting-kepiting mengklikkan capit. Camar-camar memanggil. Seekor anjing laut menepuk air dengan siripnya. Tak lama kemudian, pelabuhan menyanyikan lagu yang ramai dan ramah.

Pina mengepakkan sayap dengan gembira di dermaga kuning ketika ayahnya yang lebih besar, memakai topi rajut merah dan rompi biru, tiba dengan perahu nelayan biru menembus kabut.

Di tengah kabut, Ayah Pina mendengar lagu itu. Ia mengikuti bunyi lonceng, lalu panggilan camar, lalu cipratan anjing laut.

Akhirnya, ujung perahunya muncul di samping dermaga. Pina mengepakkan kedua sayapnya. “Ayah menemukan kami!”

Ayah tersenyum. “Ayah mendengar seluruh pelabuhan memanggil.”

Dalam cahaya pagi keemasan, Pina dan ayahnya yang memakai topi merah tersenyum bersama di dermaga kuning, sementara kepiting merah mengangkat capit di dekat mereka. Air biru, perahu nelayan, dan mercusuar merah memenuhi pelabuhan di belakang mereka.

Saat itu juga, kabut mulai menipis. Mercusuar merah berkedip sekali, dua kali, tiga kali. Cahaya pagi keemasan menyebar di atas air.

Pina mendengarkan dengan saksama. Bunyi ini tidak ia simpan. Semua orang di dermaga sedang tertawa, dan bunyi itu terlalu besar untuk satu kantong kecil.