Semua ceritaPawai Mundur Lino
Lino naik di gerobak biru di samping keranjang kancing yang penuh dan melambaikan tangan saat penabuh drum dan penjaga kancing memimpin pawai di jalan.DUNIA KECIL MENANTIMU
Petualangan kecil

Pawai Mundur Lino

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Pawai Mundur Lino

Lino, siput kecil berwarna biru dengan cangkang koral, mengintip dari pot bunga besar saat penabuh drum, bendera kuning, dan gerobak kancing biru lewat.

Lino si siput terbangun oleh bunyi ramai di luar pot kebunnya. Tap-tap! Klotak-klotak! Pawai kota sedang melintas di jalan kecil.

Lino mengintip dari balik daun mint. Paling depan ada drum merah. Setelah itu, dua bendera kuning. Di paling belakang, sebuah gerobak kecil biru berguncang-guncang. Di dalamnya ada keranjang berisi kancing-kancing mengilap.

“Aku mau melihat pawai!” kata Lino. Ia meluncur turun dari pot lalu mengikuti gerobak itu. Tetapi Lino bergerak pelan, sedangkan pawai melaju cepat.

Gerobak biru miring di dekat bangku dan menumpahkan kancing-kancing warna-warni ke genangan dan jalan, sementara Lino melihat dengan terkejut.

Tiba-tiba gerobak biru itu melewati kerikil. Duk! Keranjangnya miring. Kancing-kancing pun terpental ke mana-mana—ke bawah bangku, ke dalam genangan, dan ke belakang sepatu bot peserta pawai.

Pawai langsung berhenti. “Aduh!” seru penjaga kancing. “Kancing-kancing itu membuat bunyi kring-kring dalam lagu kami!”

Di bawah bangku besar, Lino mendorong kancing hijau dengan cangkangnya sementara penjaga kancing meraih ke arahnya.

Lino melihat sebuah kancing hijau di bawah bangku yang rendah. Tubuhnya bisa masuk ke sana, sementara yang lain tidak. Ia meluncur ke bawah bangku dan mendorong kancing itu keluar dengan cangkangnya.

Lino meluncur melewati genangan biru dengan tiga kancing di jejak basahnya, sementara penabuh drum menunjuk dengan gembira.

Tiga kancing lagi ada di dalam genangan. Lino menyeberangi air, meninggalkan jejak basah yang berkilau. Satu kancing menempel pada jejaknya. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.

“Lihat Lino!” kata penabuh drum.

Penabuh drum dengan hati-hati mengangkat sepatu bot kuning untuk memperlihatkan kancing pucat terakhir di bawahnya, sementara Lino melihat dan penjaga kancing memegang keranjang.

Lino berputar dan meluncur kembali menyusuri jalan. Karena ia bergerak pelan, ia melihat setiap benda kecil yang berkilau: kancing biru di dekat batu, kancing merah di samping pot bunga, dan kancing emas di bawah daun.

Penjaga kancing memasukkan semuanya ke dalam keranjang. Kling! Kling! Kling! Tak lama kemudian, hanya tinggal satu kancing yang belum ditemukan.

Kancing perak itu menempel di bawah sepatu bot seorang peserta pawai.

“Permisi!” panggil Lino. Penabuh drum melihat ke bawah. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat sepatu botnya. Nah, itu dia kancing terakhir!

Lino naik di gerobak biru di samping keranjang kancing yang penuh dan melambaikan tangan saat penabuh drum dan penjaga kancing memimpin pawai di jalan.

Penjaga kancing memasukkannya ke keranjang. Kling-kling-kling! Lagu pawai pun dimulai lagi.

“Ikut kami, Lino!” panggil penabuh drum. Lino naik ke gerobak biru, duduk di samping keranjang kancing. Saat pawai bergerak maju, Lino menoleh ke jalan di belakang mereka dan melambaikan tangan kecilnya dengan gembira.