Semua ceritaPaksi dan Genderang di Bawah Bulan
Paksi memukul batang kayu berlubang dengan dua ranting, sementara Bimo mengangkat satu kaki untuk menginjaknya. Tiga batu menahan batang itu, dan dua katak melihat dari kolam di bawah.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Paksi dan Genderang di Bawah Bulan

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Paksi dan Genderang di Bawah Bulan

Paksi, rubah kecil abu-abu dengan syal kuning, memukul batang kayu berlubang dengan dua ranting di tepi kolam biru. Dua katak muncul dari air di dekat ilalang yang bergoyang.

Paksi adalah rubah kecil abu-abu yang tinggal di tepi kolam bundar. Setiap sore, ia memukul batang kayu berlubang dengan dua ranting. “Tak-tak-tak!”

Katak-katak menjawab dengan kroak, dan ilalang bergoyang mengikuti irama.

Paksi berdiri di samping batu abu-abu yang licin di kaki bukit kuning. Jejak kaki besar berwarna biru menuju Bimo, rusa besar muda yang menunggu di samping batang kayu berlubang.

Suatu malam, Paksi datang untuk bermain lalu berhenti mendadak. Batang kayu berlubangnya hilang.

Di tempatnya ada batu bundar yang licin. Di sampingnya, tiga jejak kaki besar melintasi rumput yang terkena cahaya bulan, lalu naik ke bukit di belakang kolam.

Paksi mengikuti jejak itu sampai ke puncak. Di sana, seekor rusa besar muda berdiri di samping batang kayu itu. Kakinya yang panjang gemetar sedikit.

Paksi memandang Bimo di atas bukit di samping batang kayu berlubang. Bimo mengangkat satu kaki dengan hati-hati, sementara kolam biru terlihat di bawah mereka.

“Kamu yang memindahkan genderangku?” tanya Paksi.

Rusa besar itu menundukkan kepala. “Namaku Bimo. Aku mendengar musikmu dan ingin ikut bermain. Tapi kalau aku menginjak batang ini, batangnya menggelinding.”

Paksi memandang lereng curam menuju kolam. “Batang ini perlu tempat yang aman,” katanya.

Bimo membawa dua batu abu-abu dengan mulutnya, sementara Paksi menata batu-batu di sekeliling batang kayu berlubang di puncak bukit yang berangin.

Bimo mendorong batang itu ke atas dengan hidungnya, sementara Paksi menekan dari sisi lain. Dorong, huf, dorong! Akhirnya, batang itu sampai kembali di puncak.

Lalu angin menyentuh batang itu pelan. Gelinding... gelinding...

“Tunggu!” seru Paksi. Ia menemukan batu-batu pipih, dan Bimo membawa dua batu besar dengan mulutnya yang lebar. Bersama-sama, mereka membuat penahan di sekeliling batang: satu batu di belakang, satu di kiri, dan satu di kanan.

Paksi memukul batang kayu berlubang dengan dua ranting, sementara Bimo mengangkat satu kaki untuk menginjaknya. Tiga batu menahan batang itu, dan dua katak melihat dari kolam di bawah.

Paksi mengangkat dua rantingnya. “Tak-tak-tak!” Bimo mengangkat satu kaki, lalu menginjak dengan hati-hati. “Bum!” Batang kayu itu tidak bergerak.

Di bawah bukit, katak-katak berkroak dan ilalang berbisik. Paksi memainkan irama cepat dan cerah. Di bawahnya, Bimo membuat bunyi bum yang lambat dan dalam.

Paksi dan Bimo duduk bersama di belakang batang kayu berlubang yang berada di antara tiga batu. Ranting Paksi terletak di atas batang kayu, dan dua katak mengapung di kolam biru di bawah.

Tak lama kemudian, bulan bersinar tinggi di atas bukit. Rubah dan rusa besar itu bermain sampai kolam seolah ikut berdengung.

Saat musik berhenti, batang kayu berlubang itu tetap aman di dalam lingkaran batu, siap dimainkan lagi besok malam.