DUNIA KECIL MENANTIMUNara dan Jendela yang Bersiul
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Nara dan Jendela yang Bersiul

Nara tinggal di rumah kuning yang tinggi. Di setiap lantai ada tiga jendela. Setiap pagi, Nara membuka semuanya lebar-lebar. Jendela dapur berbau roti panggang. Dari jendela kamar mandi, ia melihat burung merpati di atap. Dari jendela loteng, Nara bisa melihat toko roti, halte bus, dan hampir seluruh jalan.
Pada suatu sore yang berangin, terdengar bunyi dari atas. “Wiiiuu! Wiiiuu!”
Nara naik ke loteng. Jendelanya tertutup rapat, tetapi tetap bersiul. Tirai birunya mengembung lalu berkibar.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nara.
“Ada celah yang menggelitik,” si jendela bersiul. “Angin menyusup masuk, dan aku tidak bisa berhenti bernyanyi!”

Nara memeriksa bingkainya. Di bagian bawah ada retakan kecil. Sehelai daun cokelat kering tersangkut di sana. Setiap angin bertiup, daun itu bergetar. “Wiiiuu!”

Mula-mula, Nara mengambil kuas cat yang lembut dari kotak gambarnya. Ia menyapu daun itu pelan-pelan, tetapi daun itu tidak mau keluar. Lalu ia mencoba sendok dari dapur. Sendoknya terlalu besar. Sendok itu membentur kaca. Klink!
Nara segera menarik sendoknya. “Jangan berdenting lagi,” katanya. “Aku butuh sesuatu yang kecil dan lembut.”
Di keranjang jahit, ia menemukan sepotong benang wol merah. Ia membuat lingkaran kecil di salah satu ujungnya. Lingkaran itu ia selipkan di samping daun, lalu ia tarik pelan sekali.
Daun itu pun keluar. Siulan berhenti.

Loteng akhirnya sunyi. Nara tersenyum, lalu mendengar kepakan kecil di balik tirai.
Seekor ngengat mungil hinggap di ambang jendela. Satu sayap pucatnya tersangkut pada benang tirai yang terurai.
“Oh,” kata Nara. “Kamu ingin keluar.”

Dengan gunting yang aman untuk anak, Nara memotong benang yang terurai itu. Lalu ia membuka jendela selebar satu jari. Ngengat itu naik ke tangannya, seringan sobekan kertas, lalu terbang ke langit yang berangin.
Jendela loteng memberi satu siulan kecil yang gembira. “Wii!”

Nara tertawa dan menutupnya rapat. Di jalan, bel toko roti berbunyi dan bus bergemuruh lewat. Di loteng rumah kuning itu, tirai biru jendela kini diam.