DUNIA KECIL MENANTIMUNara dan Jembatan Kancing
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Nara dan Jembatan Kancing

Nara suka sekali melihat retakan panjang dan tipis di trotoar depan gedung apartemennya. Bagi bus mainan birunya, retakan itu seperti jurang kecil. Bus itu bisa melaju di satu sisi, tetapi tidak bisa menyeberang.
“Bum!” kata Nara setiap kali busnya sampai di retakan.
Pada hari Sabtu, Nara menyusun kancing-kancingnya: satu kancing kuning besar, tiga kancing hijau yang halus, dan satu kancing merah mengilap bertepi perak. “Aku akan membuat jembatan,” katanya.
Ia membentangkan kancing-kancing itu di atas retakan. Bus biru melaju ke atas kancing kuning, miring ke samping, lalu plup! Jatuh ke dalam pot bunga.
Nara mengambil bus itu. “Terlalu bergelombang.”
Ia menemukan dua lembar kardus pipih dari kotak sereal. Satu lembar menutup retakan dengan baik. Bus itu melaju di atasnya—sampai angin mengangkat salah satu sudut. Busnya meluncur mundur. “Bum!”
Nara duduk di anak tangga dan memandangi kancing-kancingnya. Kancing kuning besar itu punya empat lubang. “Lubang bisa menahan sesuatu,” katanya.
Nara meminta bantuan Ayah. Di dalam rumah, mereka membuat lubang-lubang kecil pada kardus dengan pelubang kertas. Nara memasukkan benang wol yang lembut melalui kardus dan kancing kuning. Di bagian bawah, ia mengikat dua pita kecil yang rapi.
Kancing kuning itu berada di atas seperti atap bundar yang cerah. Kardusnya tetap datar. Nara menjalankan bus biru itu.
Gemeruduk, gemeruduk, gemeruduk! Bus itu sampai di seberang.
Saat itu, tetangga Nara, Dito, keluar membawa mobil merah kecil. “Mobilku boleh mencoba?” tanyanya.
Nara memindahkan jembatan ke tengah retakan. “Boleh. Mobilnya jalan setelah bus.”
Bus biru menyeberang. Mobil merah menyeberang. Lalu Dito membawa bebek kayu kecil beroda. Bebek itu ikut menyeberang, dengan paruh kuningnya bergoyang-goyang.
Sekarang retakan itu bukan jurang lagi. Retakan itu menjadi tempat menyeberang, tempat bus, mobil, dan bebek menunggu di bawah atap kancing.
Nara melihat pita-pita benang di bawah jembatan. “Aku mencoba dua kali,” katanya.
“Dan memakai satu kancing yang hebat,” kata Dito.
Nara tersenyum lebar, lalu menjalankan busnya menyeberang sekali lagi.