CERITA BERGAMBARMita Tikus Tanah dan Bintang Siang Hari
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Mita Tikus Tanah dan Bintang Siang Hari

Mita, si tikus tanah, paling suka berada di kebun sebelum sarapan. Rumput masih basah. Batu-batu terasa sejuk. Di bawah pohon pir tua, tanah berbau hangat seperti roti baru matang.
Suatu pagi, Mita menyembulkan hidung dari terowongannya lalu berkedip. Titik-titik putih kecil memenuhi halaman rumput.
“Bintang!” cicitnya.
Namun langit biru terang. Bintang-bintang sungguhan sudah pulang.

Mita bergegas menemui Guntur si angsa yang sedang bermain air di kolam. “Apa bintang-bintang jatuh?”
Guntur menunduk memandangi titik-titik itu. “Honk! Bintang tidak mungkin sekecil ini.”
Mita mengikuti satu titik putih sampai ke kebun sayur. Seekor siput merayap di daun kubis. Sebuah titik putih menempel pada jejak lendirnya yang mengilap.
“Itu telur,” kata Siput. “Telur-telur siput kecil. Sarangku rusak karena hujan tadi malam.”

Mita memandang ke seluruh halaman. Telur-telur itu ada di dekat jalan setapak, di tepi kolam, dan di bawah pohon pir. Satu telur menggelinding menuju kaki Guntur yang besar dan berselaput.
“Berhenti!” teriak Mita.
Guntur diam membeku dengan satu kaki terangkat. Telur itu berhenti tepat sebelum menyentuh jarinya.
“Kita harus mencari tempat yang aman,” kata Mita.

Mita menggali lubang bulat kecil di tanah lembut dekat kebun kubis. Guntur membawa daun-daun kering dengan paruhnya. Siput membawa daun halus untuk menutup bagian atas sarang.
Lalu setetes hujan besar jatuh. Plop! Atap daun itu melengkung ke bawah.
“Atapku terlalu lemas,” kata Siput sedih.

Mita berpikir sebentar. Lalu ia menggali tiga lubang kecil di sekeliling sarang. Guntur menemukan tiga ranting pendek. Mita menancapkan ranting-ranting itu, lalu Guntur membentangkan daun di atasnya.
Plip. Plip. Hujan turun lagi.
Kali ini atap daun tetap tegak. Di bawahnya, telur-telur kecil itu tetap kering.

Sore hari, hujan berhenti. Cahaya matahari menembus daun-daun pohon pir. Telur-telur putih itu berkilau di bawah atap kecilnya.
“Jadi, mereka memang bintang siang hari,” kata Guntur.
Mita tersenyum sambil menepuk tanah di sekeliling sarang. “Iya,” katanya. “Tapi bintang-bintang ini nanti akan merayap.”