Semua ceritaMita Tikus Tanah dan Bintang Siang Hari
Mita, Guntur, dan Siput berkumpul di sekitar telur-telur putih yang kering di bawah atap daun kecil di kebun kubis yang cerah.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Mita Tikus Tanah dan Bintang Siang Hari

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Mita Tikus Tanah dan Bintang Siang Hari

Mita, tikus tanah kecil berwarna cokelat dengan syal oranye, memandang dari terowongannya ke halaman rumput yang dipenuhi telur putih kecil di bawah pohon pir.

Mita, si tikus tanah, paling suka berada di kebun sebelum sarapan. Rumput masih basah. Batu-batu terasa sejuk. Di bawah pohon pir tua, tanah berbau hangat seperti roti baru matang.

Suatu pagi, Mita menyembulkan hidung dari terowongannya lalu berkedip. Titik-titik putih kecil memenuhi halaman rumput.

“Bintang!” cicitnya.

Namun langit biru terang. Bintang-bintang sungguhan sudah pulang.

Mita dan seekor angsa putih besar melihat siput hijau di atas daun kubis, dengan satu telur putih kecil di jejak lendirnya yang mengilap.

Mita bergegas menemui Guntur si angsa yang sedang bermain air di kolam. “Apa bintang-bintang jatuh?”

Guntur menunduk memandangi titik-titik itu. “Honk! Bintang tidak mungkin sekecil ini.”

Mita mengikuti satu titik putih sampai ke kebun sayur. Seekor siput merayap di daun kubis. Sebuah titik putih menempel pada jejak lendirnya yang mengilap.

“Itu telur,” kata Siput. “Telur-telur siput kecil. Sarangku rusak karena hujan tadi malam.”

Mita mengangkat kedua kakinya saat Guntur si angsa membeku dengan satu kaki berselaput besar terangkat di atas telur putih kecil di rumput.

Mita memandang ke seluruh halaman. Telur-telur itu ada di dekat jalan setapak, di tepi kolam, dan di bawah pohon pir. Satu telur menggelinding menuju kaki Guntur yang besar dan berselaput.

“Berhenti!” teriak Mita.

Guntur diam membeku dengan satu kaki terangkat. Telur itu berhenti tepat sebelum menyentuh jarinya.

“Kita harus mencari tempat yang aman,” kata Mita.

Mita, Guntur, dan Siput melihat setetes hujan besar melengkungkan daun hijau di atas sarang kecil berisi telur-telur putih di kebun kubis.

Mita menggali lubang bulat kecil di tanah lembut dekat kebun kubis. Guntur membawa daun-daun kering dengan paruhnya. Siput membawa daun halus untuk menutup bagian atas sarang.

Lalu setetes hujan besar jatuh. Plop! Atap daun itu melengkung ke bawah.

“Atapku terlalu lemas,” kata Siput sedih.

Dalam hujan, Mita dan Guntur berdiri di dekat sarang telur Siput yang kini terlindungi oleh daun hijau yang ditopang ranting-ranting kecil.

Mita berpikir sebentar. Lalu ia menggali tiga lubang kecil di sekeliling sarang. Guntur menemukan tiga ranting pendek. Mita menancapkan ranting-ranting itu, lalu Guntur membentangkan daun di atasnya.

Plip. Plip. Hujan turun lagi.

Kali ini atap daun tetap tegak. Di bawahnya, telur-telur kecil itu tetap kering.

Mita, Guntur, dan Siput berkumpul di sekitar telur-telur putih yang kering di bawah atap daun kecil di kebun kubis yang cerah.

Sore hari, hujan berhenti. Cahaya matahari menembus daun-daun pohon pir. Telur-telur putih itu berkilau di bawah atap kecilnya.

“Jadi, mereka memang bintang siang hari,” kata Guntur.

Mita tersenyum sambil menepuk tanah di sekeliling sarang. “Iya,” katanya. “Tapi bintang-bintang ini nanti akan merayap.”