Semua ceritaMimi dan Drum yang Sangat Pelan
Mimi meletakkan dua daun di atas pemukul drum yang membentang melintasi genangan. Beberapa siput menahan jembatan itu atau menyeberang menuju taman bunga.DUNIA KECIL MENANTIMU
Sahabat hewan

Mimi dan Drum yang Sangat Pelan

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit5 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Mimi dan Drum yang Sangat Pelan

Mimi, tikus abu-abu kecil berjubah aprikot, bermain drum pirus dengan gembira di panggung kayu. Dua burung gereja melompat di dekatnya, dan air mancur memercik di alun-alun yang cerah.

Mimi si tikus suka sekali panggung musik tua di alun-alun kota. Setiap hari Sabtu, ia memainkan drum kecilnya di sana. Tap-tap, tum-tum! Burung gereja melompat mengikuti irama. Para penjaga toko bertepuk tangan. Bahkan air mancur seperti ikut bercipratan mengikuti bunyi drum.

Di bawah bangku kayu saat hujan, Mimi memegang kertas perak di samping drumnya. Dua siput menarik pemukul drum panjang melintasi genangan dengan jejak lendir yang mengilap.

Pada suatu Sabtu yang hujan, Mimi membuka kotak drumnya. Ia terkejut. Pemukul drumnya hilang.

Di dalam kotak itu ada secarik kertas perak. Di situ tertulis, “Ikuti bunyi yang paling pelan.”

Mimi mendengarkan. Hujan berbunyi tik-tik di atap panggung. Genangan air berbunyi plop. Sebuah gerobak berderak jauh di atas batu jalan. Lalu Mimi mendengarnya: kres... kres... kres...

Bunyi itu datang dari bawah bangku. Mimi merangkak ke sana dan melihat barisan siput. Mereka menarik pemukul drum Mimi dengan benang lendir yang panjang dan mengilap.

Mimi berlutut di tepi genangan hujan sambil membawa drumnya, dekat dua siput di tepi air. Pemukul drumnya tergeletak di tanah basah, dan taman bunga berada di seberang genangan.

“Tolong berhenti!” kata Mimi. “Itu pemukul drumku.”

Seekor siput kecil mengangkat kepalanya. “Kami harus pergi ke taman bunga,” katanya. “Hujan menghanyutkan jembatan daun kami. Pemukulmu cukup panjang untuk menyeberangi genangan.”

Mimi melihat genangan lebar di antara alun-alun dan taman bunga. Para siput tidak bisa menyeberang. Mimi ingin pemukul drumnya kembali. Lalu siput yang paling kecil bergoyang-goyang di tepi air.

“Kita buat jembatan bersama-sama,” kata Mimi.

Mimi meletakkan dua daun di atas pemukul drum yang membentang melintasi genangan. Beberapa siput menahan jembatan itu atau menyeberang menuju taman bunga.

Mimi membentangkan dua pemukul drum di atas genangan. Para siput menahannya dengan benang lendir mereka. Mimi menemukan dua daun lebar dan meletakkannya di atas pemukul itu. Jadilah jalan yang lembut.

Satu demi satu, siput-siput itu meluncur menyeberang. Siput paling kecil datang paling akhir. Saat sampai di taman, ia bergoyang senang.

Setelah hujan, Mimi memainkan drum pirusnya di panggung kayu. Di bawahnya, para siput mengetukkan kulit biji ek sementara burung gereja memperhatikan di dekat air mancur yang memercik.

“Terima kasih,” kata para siput. Mereka membersihkan pemukul drum Mimi sampai berkilau.

Hujan berhenti. Mimi naik ke panggung musik. Di bawahnya, para siput berkumpul sambil membawa topi kecil dari kulit biji ek.

Tap-tap, tum-tum! Mimi mulai bermain. Para siput mengetukkan topi mereka. Burung gereja berkicau. Air mancur berciprat.

Itulah kelompok musik paling pelan yang pernah dipimpin Mimi. Semua orang di alun-alun mendengarkan dengan sungguh-sungguh.