DUNIA KECIL MENANTIMUMimi dan Drum yang Sangat Pelan
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Mimi dan Drum yang Sangat Pelan

Mimi si tikus suka sekali panggung musik tua di alun-alun kota. Setiap hari Sabtu, ia memainkan drum kecilnya di sana. Tap-tap, tum-tum! Burung gereja melompat mengikuti irama. Para penjaga toko bertepuk tangan. Bahkan air mancur seperti ikut bercipratan mengikuti bunyi drum.

Pada suatu Sabtu yang hujan, Mimi membuka kotak drumnya. Ia terkejut. Pemukul drumnya hilang.
Di dalam kotak itu ada secarik kertas perak. Di situ tertulis, “Ikuti bunyi yang paling pelan.”
Mimi mendengarkan. Hujan berbunyi tik-tik di atap panggung. Genangan air berbunyi plop. Sebuah gerobak berderak jauh di atas batu jalan. Lalu Mimi mendengarnya: kres... kres... kres...
Bunyi itu datang dari bawah bangku. Mimi merangkak ke sana dan melihat barisan siput. Mereka menarik pemukul drum Mimi dengan benang lendir yang panjang dan mengilap.

“Tolong berhenti!” kata Mimi. “Itu pemukul drumku.”
Seekor siput kecil mengangkat kepalanya. “Kami harus pergi ke taman bunga,” katanya. “Hujan menghanyutkan jembatan daun kami. Pemukulmu cukup panjang untuk menyeberangi genangan.”
Mimi melihat genangan lebar di antara alun-alun dan taman bunga. Para siput tidak bisa menyeberang. Mimi ingin pemukul drumnya kembali. Lalu siput yang paling kecil bergoyang-goyang di tepi air.
“Kita buat jembatan bersama-sama,” kata Mimi.

Mimi membentangkan dua pemukul drum di atas genangan. Para siput menahannya dengan benang lendir mereka. Mimi menemukan dua daun lebar dan meletakkannya di atas pemukul itu. Jadilah jalan yang lembut.
Satu demi satu, siput-siput itu meluncur menyeberang. Siput paling kecil datang paling akhir. Saat sampai di taman, ia bergoyang senang.

“Terima kasih,” kata para siput. Mereka membersihkan pemukul drum Mimi sampai berkilau.
Hujan berhenti. Mimi naik ke panggung musik. Di bawahnya, para siput berkumpul sambil membawa topi kecil dari kulit biji ek.
Tap-tap, tum-tum! Mimi mulai bermain. Para siput mengetukkan topi mereka. Burung gereja berkicau. Air mancur berciprat.
Itulah kelompok musik paling pelan yang pernah dipimpin Mimi. Semua orang di alun-alun mendengarkan dengan sungguh-sungguh.