Semua ceritaMila dan Perahu Kulit Kayu
Mila memakai ranting untuk mendorong perahu kulit kayu melintasi genangan. Kumbang hijau memegang pegangan rumput saat riak air menyebar di samping perahu.CERITA BERGAMBAR
Petualangan kecil

Mila dan Perahu Kulit Kayu

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit5 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Mila dan Perahu Kulit Kayu

Mila berjongkok di tepi genangan biru besar, memandangi kumbang hijau kecil di pulau lumut. Daun kacang yang basah tumbuh di seberang air.

Setelah hujan deras, Mila menemukan genangan selebar sepatu bot merahnya. Di tengahnya ada pulau kecil dari lumut.

Seekor kumbang duduk cemas di atas lumut, melambai-lambaikan kakinya yang mengilap. “Aku mau ke kebun kacang,” katanya. “Lalu air ini datang.”

Mila berjongkok di tepi genangan. Di seberang, daun-daun kacang yang tinggi menetes di bawah matahari. “Kamu butuh perahu,” katanya.

Mila berlutut di tepi genangan dan mengarahkan perahu kecil dari kulit kayu dengan sehelai rumput panjang. Pulau lumut tampak di seberang air.

Mila mencari-cari. Daun yang jatuh terlalu lemas. Kerikil terlalu berat. Di bawah pagar semak, ia menemukan sepotong kulit kayu kecil yang melengkung seperti perahu.

Mila meletakkannya di atas air. Kulit kayu itu mengapung, tetapi berputar-putar. “Belum siap,” katanya.

Ia meletakkan sehelai rumput panjang melintang sebagai pegangan kecil. Lalu, dengan ranting, ia mengarahkan perahu itu ke pulau lumut.

Mila memakai ranting untuk mendorong perahu kulit kayu melintasi genangan. Kumbang hijau memegang pegangan rumput saat riak air menyebar di samping perahu.

Kumbang naik ke perahu. Satu kaki mengilap, lalu kaki yang lain. Perahu itu miring sedikit.

Mila menahan napas. “Diam dulu, ya,” bisiknya.

Kumbang memegang rumput itu erat-erat, sementara Mila mendorong dengan ranting. Dorong, meluncur. Dorong, meluncur.

Lalu setetes air jatuh dari daun kacang. Plup! Riak air membuat perahu kecil itu bergoyang. Kumbang berpegangan erat, dan Mila menunggu sampai air tenang lagi.

Mila duduk di bawah daun kacang yang sangat besar sementara seekor kumbang hijau bergabung dengan enam kumbang kecil di sekitar satu kacang hijau bulat.

Akhirnya, perahu itu menyentuh tepi seberang dengan lembut. Kumbang turun ke lumpur di dekat kebun kacang.

“Terima kasih, Kapten Mila!” katanya. Ia bergegas ke bawah daun kacang, lalu mengintip keluar. “Mau lihat tempat tujuanku?”

Mila mengangguk dan mengikuti kumbang menyusuri jalan lumpur yang sempit. Di bawah daun kacang paling besar, enam kumbang kecil menunggu di samping satu kacang hijau bulat.

“Kami menyimpan ini untuk piknik,” kata kumbang. “Sekarang kami bisa makan bersama.”

Mila tersenyum. Ia tidak perlu kacang sekecil kumbang. Ia mendapat tempat duduk di bawah daun, dengan bunyi hujan yang menitik lembut di atasnya.

Mila dengan hati-hati meletakkan perahu kecil dari kulit kayu di atas dinding kebun rendah agar kering. Genangan kecil masih terlihat di belakangnya.

Saat matahari keluar, genangan itu makin kecil. Mila membawa perahu kulit kayu ke dinding kebun dan meletakkannya di sana agar kering.

Saat hujan turun lagi, Mila sudah tahu tempat mencarinya.