Semua ceritaMaya dan Peta Tombol Air
Maya, Bimo, dan Nenek Sari berkumpul di sekitar tiga tombol pancuran yang diberi penanda: gerigi biru, lingkaran kayu kuning, dan bintang ungu dalam lingkaran hijau. Seekor anjing bertelinga lemas minum dari mangkuk anjing yang terisi air.CERITA BERGAMBAR
Perancang Cilik

Maya dan Peta Tombol Air

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

4 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Maya dan Peta Tombol Air

Maya, mengenakan terusan biru kehijauan dan ikat kepala biru kehijauan, menekan salah satu dari tiga tombol perak yang sama pada pancuran minum baru di luar bengkel Ayah. Ada pancuran rendah, pancuran tinggi melengkung, dan mangkuk anjing di samping taman hijau.

Maya suka membantu Ayah di bengkel perbaikan yang ramai. Ia suka melihat toples berisi sekrup, gulungan selotip, dan bunyi tok-tok palu pada kayu. Di luar bengkel ada taman kecil dengan pancuran minum baru. Pancuran itu punya tiga tombol perak: satu untuk anak yang minum dari pancuran rendah, satu untuk orang yang minum dari pancuran tinggi, dan satu lagi untuk mengisi mangkuk anjing.

Bimo berbaju kuning dan Maya berdiri dekat pancuran, masing-masing menunjuk tombol-tombol perak yang halus dan sama, sementara air menetes dari pancuran tinggi.

Saat hari panas pertama tiba, banyak orang datang mencoba pancuran itu. Bimo kecil berdiri di depan tombol-tombol itu sambil mengernyit. “Aku tidak tahu tombol yang mana,” katanya. Ketiga tombol itu sama-sama licin dan dingin.

Maya ikut merabanya. Tek. Tek. Tek. “Benar,” katanya. “Rasanya sama semua.”

Maya dengan hati-hati memasang tutup botol biru bergerigi di samping sebuah tombol pancuran. Keping kayu datar dan bintang ungu sudah terpasang di samping tombol-tombol lainnya.

Ia mengambil sekotak benda aman: tutup botol bergerigi, keping kayu datar, dan bintang dari karet. “Bagaimana kalau kita menaruh bentuk yang berbeda di dekat setiap tombol?” kata Maya.

Maya menempelkan tutup bergerigi di samping tombol pancuran rendah. Keping kayu ditempelkan di samping tombol pancuran tinggi. Bintang karet ditempelkan di samping tombol mangkuk anjing.

Dengan mata terpejam, Bimo menekan penanda biru bergerigi pada pancuran sementara aliran air kecil memancar dari pancuran rendah. Maya dan Ayah tersenyum di belakangnya.

“Sekarang kita coba,” kata Ayah. Bimo menutup mata. Jarinyalah yang lebih dulu menemukan tutup bergerigi. Ia menekan tombolnya, dan air memancar pelan dari pancuran rendah. “Ini tombolku!” katanya sambil tersenyum lebar.

Maya, Bimo, dan Nenek Sari berkumpul di sekitar tiga tombol pancuran yang diberi penanda: gerigi biru, lingkaran kayu kuning, dan bintang ungu dalam lingkaran hijau. Seekor anjing bertelinga lemas minum dari mangkuk anjing yang terisi air.

Lalu Nenek Sari mencoba. Nenek bisa melihat bentuk-bentuk itu, tetapi ia menekan bintang, bukan keping kayu. “Saat matahari sangat terang, bentuknya susah kulihat,” katanya.

Maya mengangguk. “Bentuknya perlu bantuan lagi.” Ia mencari tiga potong selotip: biru, kuning, dan hijau. Selotip biru mengelilingi tutup bergerigi, kuning mengelilingi keping kayu, dan hijau mengelilingi bintang.

Kali ini Bimo memakai jarinya. Nenek Sari memakai warna. Seorang pelari tinggi memilih kuning. Seekor anjing bernama Ciprat menyentuh bintang hijau dengan hidungnya. Air pun mengalir ke mangkuk Ciprat dan memercik ke mana-mana.

Maya dan Ayah memandang dari bengkel menuju pancuran di taman. Di sampingnya, sebuah papan kecil menunjukkan gerigi biru, lingkaran kuning, dan bintang ungu berlingkar hijau, sementara air memercik.

Maya membuat satu benda lagi: peta kecil pada papan di samping pancuran. Di sana ada gambar gerigi biru, lingkaran kuning, dan bintang hijau. Tulisannya berbunyi, “Pilih bentuk yang membantumu.” Menjelang sore, taman dipenuhi bunyi orang menyeruput dan air yang bercebur. Dari bengkelnya, Maya mendengar, “Tek, ciprat. Tek, ciprat.” Setiap bunyi berarti seseorang sudah menemukan air yang mereka perlukan.