CERITA BERGAMBARMaya dan Peta Tombol Air
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Maya dan Peta Tombol Air

Maya suka membantu Ayah di bengkel perbaikan yang ramai. Ia suka melihat toples berisi sekrup, gulungan selotip, dan bunyi tok-tok palu pada kayu. Di luar bengkel ada taman kecil dengan pancuran minum baru. Pancuran itu punya tiga tombol perak: satu untuk anak yang minum dari pancuran rendah, satu untuk orang yang minum dari pancuran tinggi, dan satu lagi untuk mengisi mangkuk anjing.

Saat hari panas pertama tiba, banyak orang datang mencoba pancuran itu. Bimo kecil berdiri di depan tombol-tombol itu sambil mengernyit. “Aku tidak tahu tombol yang mana,” katanya. Ketiga tombol itu sama-sama licin dan dingin.
Maya ikut merabanya. Tek. Tek. Tek. “Benar,” katanya. “Rasanya sama semua.”

Ia mengambil sekotak benda aman: tutup botol bergerigi, keping kayu datar, dan bintang dari karet. “Bagaimana kalau kita menaruh bentuk yang berbeda di dekat setiap tombol?” kata Maya.
Maya menempelkan tutup bergerigi di samping tombol pancuran rendah. Keping kayu ditempelkan di samping tombol pancuran tinggi. Bintang karet ditempelkan di samping tombol mangkuk anjing.

“Sekarang kita coba,” kata Ayah. Bimo menutup mata. Jarinyalah yang lebih dulu menemukan tutup bergerigi. Ia menekan tombolnya, dan air memancar pelan dari pancuran rendah. “Ini tombolku!” katanya sambil tersenyum lebar.

Lalu Nenek Sari mencoba. Nenek bisa melihat bentuk-bentuk itu, tetapi ia menekan bintang, bukan keping kayu. “Saat matahari sangat terang, bentuknya susah kulihat,” katanya.
Maya mengangguk. “Bentuknya perlu bantuan lagi.” Ia mencari tiga potong selotip: biru, kuning, dan hijau. Selotip biru mengelilingi tutup bergerigi, kuning mengelilingi keping kayu, dan hijau mengelilingi bintang.
Kali ini Bimo memakai jarinya. Nenek Sari memakai warna. Seorang pelari tinggi memilih kuning. Seekor anjing bernama Ciprat menyentuh bintang hijau dengan hidungnya. Air pun mengalir ke mangkuk Ciprat dan memercik ke mana-mana.

Maya membuat satu benda lagi: peta kecil pada papan di samping pancuran. Di sana ada gambar gerigi biru, lingkaran kuning, dan bintang hijau. Tulisannya berbunyi, “Pilih bentuk yang membantumu.” Menjelang sore, taman dipenuhi bunyi orang menyeruput dan air yang bercebur. Dari bengkelnya, Maya mendengar, “Tek, ciprat. Tek, ciprat.” Setiap bunyi berarti seseorang sudah menemukan air yang mereka perlukan.