CERITA BERGAMBARLumut dan Piknik di Bawah Bukit
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Lumut dan Piknik di Bawah Bukit

Lumut, si tikus tanah kecil, sudah merencanakan pikniknya sepanjang minggu. Ia menyiapkan roti gulung keju yang bundar, irisan apel yang renyah, dan selimut merah berbintik putih. Siang nanti, teman-temannya akan datang: Kelinci Lala, Kura-kura Batu, dan Tupai Niko.
Namun, saat Lumut menjulurkan hidung dari bukitnya, hujan turun dari langit kelabu. Rumput menjadi becek. Tetes hujan melompat-lompat di atas kolam.
“Piknikku!” kata Lumut. Bahunya turun sedih.

Lala datang lebih dulu sambil membawa sekeranjang wortel. “Kita bisa membuat sup wortel,” katanya. “Cuaca hujan cocok untuk sup.”
Batu datang berikutnya, berjalan di bawah daun yang mengilap. Niko bergegas di belakangnya dengan cangkir biji ek di atas kepala. Mereka berdiri di dekat selimut Lumut yang basah.

Lumut menoleh ke terowongan gelap di belakangnya. Lalu ia teringat ruangan lebar di bawah bukit. Di sana ada batu-batu halus dan akar-akar tua. “Tunggu di sini!” katanya.
Di dalam, Lumut menggulingkan batu-batu hingga menjadi satu tumpukan. Ia membersihkan tanah dari akar panjang yang melengkung di langit-langit seperti dahan cokelat.
“Kami boleh membantu?” panggil Lala.
“Boleh!” jawab Lumut.

Lala membawa daun-daun kering untuk alas duduk yang empuk. Niko menyelipkan bunga-bunga kuning ke celah kecil di dinding. Batu membawa tiga batu pipih untuk meja mungil. Lumut membentangkan selimut merah di lantai.
Tak lama kemudian, ruangan di bawah bukit terasa hangat dan cerah. Di atas mereka, hujan berdetak pelan di tanah.

Mereka makan roti keju dan irisan apel. Niko menaruh cangkir biji eknya di meja batu milik Batu. Lala bercerita tentang kelinci yang mencoba melompati genangan, lalu mendarat di dalam ember.
Lumut tertawa sampai remah roti menggelitik hidungnya.
Lalu hujan berhenti. Seberkas sinar matahari masuk melalui pintu terowongan.
“Sekarang langit siap untuk piknik kita,” kata Batu.
Lumut melihat teman-temannya dan piknik hangat itu. “Dari tadi juga sudah siap,” katanya.

Mereka membawa sisa irisan apel ke luar dan memakannya di rumput basah yang berkilau. Di belakang mereka, di bawah bukit, selimut merah menunggu piknik saat hujan datang lagi.