Semua ceritaLumut dan Piknik di Bawah Bukit
Keempat sahabat duduk bersama di atas selimut merah berbintik di bawah bukit, menikmati roti keju dan irisan apel; cangkir biji ek Niko berada di atas meja-meja batu bertumpuk, dan seberkas sinar matahari putih menyinari Lumut.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Lumut dan Piknik di Bawah Bukit

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Lumut dan Piknik di Bawah Bukit

Lumut, tikus tanah abu-abu kecil dengan syal merah, memandang sedih dari terowongan bukitnya yang gelap ke arah selimut piknik merah-putih yang basah, roti keju, dan irisan apel di dekat kolam biru yang terkena hujan.

Lumut, si tikus tanah kecil, sudah merencanakan pikniknya sepanjang minggu. Ia menyiapkan roti gulung keju yang bundar, irisan apel yang renyah, dan selimut merah berbintik putih. Siang nanti, teman-temannya akan datang: Kelinci Lala, Kura-kura Batu, dan Tupai Niko.

Namun, saat Lumut menjulurkan hidung dari bukitnya, hujan turun dari langit kelabu. Rumput menjadi becek. Tetes hujan melompat-lompat di atas kolam.

“Piknikku!” kata Lumut. Bahunya turun sedih.

Di tengah hujan di luar bukit Lumut, Lala membawa mangkuk berisi wortel, Batu berteduh di bawah daun besar, dan Niko memegang cangkir biji ek di atas kepalanya, sementara Lumut berdiri di dekat selimut piknik yang basah.

Lala datang lebih dulu sambil membawa sekeranjang wortel. “Kita bisa membuat sup wortel,” katanya. “Cuaca hujan cocok untuk sup.”

Batu datang berikutnya, berjalan di bawah daun yang mengilap. Niko bergegas di belakangnya dengan cangkir biji ek di atas kepala. Mereka berdiri di dekat selimut Lumut yang basah.

Di dalam ruangan keemasan di bawah bukit, Lumut mendorong batu-batu halus berwarna biru dan mint menjadi satu tumpukan di bawah akar cokelat panjang, sementara Lala melambaikan tangan dari pintu terowongan yang berhujan.

Lumut menoleh ke terowongan gelap di belakangnya. Lalu ia teringat ruangan lebar di bawah bukit. Di sana ada batu-batu halus dan akar-akar tua. “Tunggu di sini!” katanya.

Di dalam, Lumut menggulingkan batu-batu hingga menjadi satu tumpukan. Ia membersihkan tanah dari akar panjang yang melengkung di langit-langit seperti dahan cokelat.

“Kami boleh membantu?” panggil Lala.

“Boleh!” jawab Lumut.

Lumut membentangkan selimut merah berbintik putih di lantai bawah tanah, sementara Lala menata daun, Niko menambahkan bunga kuning, dan Batu membawa tumpukan batu pipih.

Lala membawa daun-daun kering untuk alas duduk yang empuk. Niko menyelipkan bunga-bunga kuning ke celah kecil di dinding. Batu membawa tiga batu pipih untuk meja mungil. Lumut membentangkan selimut merah di lantai.

Tak lama kemudian, ruangan di bawah bukit terasa hangat dan cerah. Di atas mereka, hujan berdetak pelan di tanah.

Keempat sahabat duduk bersama di atas selimut merah berbintik di bawah bukit, menikmati roti keju dan irisan apel; cangkir biji ek Niko berada di atas meja-meja batu bertumpuk, dan seberkas sinar matahari putih menyinari Lumut.

Mereka makan roti keju dan irisan apel. Niko menaruh cangkir biji eknya di meja batu milik Batu. Lala bercerita tentang kelinci yang mencoba melompati genangan, lalu mendarat di dalam ember.

Lumut tertawa sampai remah roti menggelitik hidungnya.

Lalu hujan berhenti. Seberkas sinar matahari masuk melalui pintu terowongan.

“Sekarang langit siap untuk piknik kita,” kata Batu.

Lumut melihat teman-temannya dan piknik hangat itu. “Dari tadi juga sudah siap,” katanya.

Setelah hujan, Lumut, Lala, Batu, dan Niko berbagi irisan apel di rumput basah yang cerah dekat kolam biru, dengan selimut piknik merah terlihat di dalam bukit Lumut di belakang mereka.

Mereka membawa sisa irisan apel ke luar dan memakannya di rumput basah yang berkilau. Di belakang mereka, di bawah bukit, selimut merah menunggu piknik saat hujan datang lagi.