CERITA BERGAMBARLila dan Kebun Payung
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Lila dan Kebun Payung

Lila punya payung kuning dengan satu tulang yang bengkok. Saat hujan, sisi itu menjuntai di bahunya seperti telinga yang mengantuk.
Pada suatu pagi yang basah, Lila dan Kakek berjalan ke kebun bersama. Bedeng kebun terlalu becek untuk digali, jadi Kakek membuka gudang untuk menunggu di dalam.
Di dalam gudang, Lila menemukan enam payung tua dalam ember tinggi. Ada yang belang-belang, bergambar bebek kecil, dan kecil sekali seperti payung boneka.
“Mengapa kita menyimpan payung rusak?” tanya Lila.

Kakek menunjuk ke luar. Tiga burung gereja melompat-lompat di bawah para-para kacang yang menetes.
“Kadang-kadang, sudut yang kering itu berguna,” katanya.
Lila memandang tanah kosong di samping gudang. “Apa payung-payung ini bisa membuat sudut yang kering?”
Kakek tersenyum. “Mari kita coba.”

Mereka membawa payung-payung itu ke luar. Kakek menancapkan gagangnya ke dalam bak besar berisi pasir. Lila membuka payung belang lebih dulu. Payung itu miring ke samping, lalu payung bergambar bebek jatuh menimpanya. Plup!
“Itu belum jadi atap,” kata Lila sambil tertawa.

Mereka mencoba lagi. Kakek memegang payung-payung terbesar rendah-rendah sampai tepinya saling menyentuh. Lila menaruh payung kecil di bagian depan.
Lalu ia mengikat payung kuningnya pada gagang pintu gudang dengan seutas tali. Tulang yang bengkok membuat celah kecil di satu sisi.

Burung-burung gereja itu mendekat. Seekor melompat masuk ke bawah payung. Dua lainnya ikut menyelip di belakangnya.
Air hujan meluncur dari tepi payung dan menitik ke tanah di sekeliling tempat berteduh kecil mereka yang kering.

Tak lama kemudian, seekor kepik merayap ke pot tanaman yang kering. Seekor siput bersembunyi di bawah daun. Lila duduk di atas ember terbalik dan memperhatikan tamu-tamu kecil yang sibuk.
Saat hujan berhenti, matahari membuat tetes-tetes air berkilau di setiap payung. Lila menutup payung kuningnya dengan hati-hati.
“Telinganya yang mengantuk itu jadi pintu,” kata Kakek.
Lila melihat tempat berteduh kecil itu, penuh ciap-ciap dan langkah mungil. “Kalau begitu, ini payung yang sangat bagus,” katanya.