Semua ceritaLani dan Surat Gelembung
Lani mengantar surat gelembung kepada Kakek Raya, ikan pari abu-abu besar yang tersenyum di samping pintu bundarnya yang biru; surat terbuka itu menunjukkan dua ikan pari bermain ciprat-cipratan di bawah matahari kuning.DUNIA KECIL MENANTIMU
Petualangan kecil

Lani dan Surat Gelembung

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

4 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Lani dan Surat Gelembung

Lani, gurita kecil ungu berkacamata bulat biru dan bertas kuning, memegang gelembung perak berisi surat bercap di meja pos karang merah.

Lani adalah gurita kecil yang bekerja di kantor pos karang yang terang. Delapan lengannya selalu sibuk. Dua lengan membubuhkan cap pada cangkang. Dua lengan mengikat pita rumput laut. Dua lengan memilah surat. Dua lagi memegang kacamata bulatnya saat ia membaca tulisan kecil.

Suatu pagi, sebuah gelembung perak mengapung masuk lewat pintu depan. Di dalamnya ada surat bercap garis-garis biru. Surat itu untuk Kakek Raya, ikan pari yang tinggal di balik Hutan Kelp.

“Biar aku yang mengantar!” kata Lani. Ia menyelipkan gelembung itu dengan aman di bawah satu lengan. “Aku tahu jalannya.”

Lani memegang surat gelembung perak di samping batu abu-abu, dikelilingi kelp hijau besar yang berkelok di hutan yang membingungkan.

Di luar, air laut bergoyang pelan. Lani melewati toko roti kerang, tempat remah-remah hangat melayang dari pintu. Ia berenang melewati tempat pemberhentian kuda laut yang mengantuk. Lalu sampailah ia di Hutan Kelp. Pita-pita hijau panjang melambai di atas kepalanya.

Namun hari itu hutan tampak berbeda. Arus kuat semalam telah memelintir kelp menjadi simpul-simpul besar. Lani mencoba jalan kiri. Jalan itu berakhir di cekungan pasir. Ia mencoba jalan kanan. Jalan itu justru membawanya kembali ke toko roti kerang.

Lani berhenti di samping batu sambil memegang kacamatanya. “Aduh,” katanya. “Sekarang aku tidak tahu jalannya.”

Kepiting merah kecil menunjuk ke atas dari batu abu-abu, sementara Lani melihat gelembung-gelembung biru naik di antara kelp hijau tinggi.

Seekor kepiting kecil muncul dari bawah batu. “Ikuti gelembung yang naik,” katanya. “Gelembung itu mengarah ke air hangat dekat rumah Kakek Raya.”

Lani mendongak. Gelembung-gelembung kecil menyelinap di antara daun kelp. Plip, plip, plip. Ia mengucapkan terima kasih kepada kepiting, lalu berenang pelan mengikuti mereka.

Lani menyelinap melalui lingkaran kelp hijau besar dan memeluk gelembung surat perak dengan lengannya.

Satu lingkaran kelp menutup jalannya. Lani menyelinap melalui celah kecil. Pita kelp lain menyentuh gelembung surat. Lani cepat menangkapnya dan memeluknya erat. “Jangan lepas hari ini,” katanya.

Lani mengantar surat gelembung kepada Kakek Raya, ikan pari abu-abu besar yang tersenyum di samping pintu bundarnya yang biru; surat terbuka itu menunjukkan dua ikan pari bermain ciprat-cipratan di bawah matahari kuning.

Akhirnya kelp semakin jarang. Di depan Lani ada batu abu-abu yang halus dengan pintu bundar. Kakek Raya beristirahat di sampingnya. Sayap lebarnya terlipat seperti selimut.

“Surat gelembung!” panggil Lani.

Kakek Raya membuka surat itu. Surat itu dari cucunya, Suri. Suri menggambar mereka bermain ciprat-cipratan di air yang disinari matahari. Kakek Raya tersenyum lebar sampai siripnya bergoyang senang.

Lani minum dari cangkir cangkang kecil dan menandai titik-titik gelembung biru pada peta jalur kelp hijau, sementara Kakek Raya tersenyum di samping pintu bundarnya yang biru.

“Mau minum teh rumput laut hangat?” tanya Kakek Raya.

“Mau, terima kasih,” kata Lani. “Sesudah itu, aku harus memberi tahu kantor pos tentang jalan baru ini.”

Sambil menyeruput teh dari cangkir cangkang kecil, Lani menggambar hutan yang berkelok-kelok di belakang peta lama. Ia memberi titik-titik biru untuk gelembung yang naik. Keesokan paginya, semua surat untuk Kakek Raya sampai ke pintu bundarnya tanpa tersesat.