DUNIA KECIL MENANTIMULani dan Surat Gelembung
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Lani dan Surat Gelembung

Lani adalah gurita kecil yang bekerja di kantor pos karang yang terang. Delapan lengannya selalu sibuk. Dua lengan membubuhkan cap pada cangkang. Dua lengan mengikat pita rumput laut. Dua lengan memilah surat. Dua lagi memegang kacamata bulatnya saat ia membaca tulisan kecil.
Suatu pagi, sebuah gelembung perak mengapung masuk lewat pintu depan. Di dalamnya ada surat bercap garis-garis biru. Surat itu untuk Kakek Raya, ikan pari yang tinggal di balik Hutan Kelp.
“Biar aku yang mengantar!” kata Lani. Ia menyelipkan gelembung itu dengan aman di bawah satu lengan. “Aku tahu jalannya.”

Di luar, air laut bergoyang pelan. Lani melewati toko roti kerang, tempat remah-remah hangat melayang dari pintu. Ia berenang melewati tempat pemberhentian kuda laut yang mengantuk. Lalu sampailah ia di Hutan Kelp. Pita-pita hijau panjang melambai di atas kepalanya.
Namun hari itu hutan tampak berbeda. Arus kuat semalam telah memelintir kelp menjadi simpul-simpul besar. Lani mencoba jalan kiri. Jalan itu berakhir di cekungan pasir. Ia mencoba jalan kanan. Jalan itu justru membawanya kembali ke toko roti kerang.
Lani berhenti di samping batu sambil memegang kacamatanya. “Aduh,” katanya. “Sekarang aku tidak tahu jalannya.”

Seekor kepiting kecil muncul dari bawah batu. “Ikuti gelembung yang naik,” katanya. “Gelembung itu mengarah ke air hangat dekat rumah Kakek Raya.”
Lani mendongak. Gelembung-gelembung kecil menyelinap di antara daun kelp. Plip, plip, plip. Ia mengucapkan terima kasih kepada kepiting, lalu berenang pelan mengikuti mereka.

Satu lingkaran kelp menutup jalannya. Lani menyelinap melalui celah kecil. Pita kelp lain menyentuh gelembung surat. Lani cepat menangkapnya dan memeluknya erat. “Jangan lepas hari ini,” katanya.

Akhirnya kelp semakin jarang. Di depan Lani ada batu abu-abu yang halus dengan pintu bundar. Kakek Raya beristirahat di sampingnya. Sayap lebarnya terlipat seperti selimut.
“Surat gelembung!” panggil Lani.
Kakek Raya membuka surat itu. Surat itu dari cucunya, Suri. Suri menggambar mereka bermain ciprat-cipratan di air yang disinari matahari. Kakek Raya tersenyum lebar sampai siripnya bergoyang senang.

“Mau minum teh rumput laut hangat?” tanya Kakek Raya.
“Mau, terima kasih,” kata Lani. “Sesudah itu, aku harus memberi tahu kantor pos tentang jalan baru ini.”
Sambil menyeruput teh dari cangkir cangkang kecil, Lani menggambar hutan yang berkelok-kelok di belakang peta lama. Ia memberi titik-titik biru untuk gelembung yang naik. Keesokan paginya, semua surat untuk Kakek Raya sampai ke pintu bundarnya tanpa tersesat.