Semua ceritaDoti dan Resep di Hari Hujan
Nia, Doti, dan Sam duduk di meja sambil memegang mangkuk sup. Di belakang mereka, Bu Bel mengaduk panci perak besar di dapur yang hangat.CERITA BERGAMBAR
Perancang Cilik

Doti dan Resep di Hari Hujan

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Doti dan Resep di Hari Hujan

Doti, robot kecil berwarna pirus dengan roda biru, memegang mangkuk merah di dapur yang sepi. Panci perak kecil berlubang dan sebuah pesan kosong ada di meja kayu dekat jendela yang berhujan.

Doti si robot tinggal di rumah kuning berpintu bulat biru. Saat hujan, ia biasa membuat sup bersama tetangganya, Bu Bel.

Pada suatu pagi hujan, Doti meluncur ke dapur Bu Bel membawa mangkuk merahnya. Dapurnya sepi. Di atas meja ada pesan: “Panci supku bocor. Aku pergi mencari yang baru.”

Bu Bel dan Doti melihat ke dalam panci perak yang sangat besar dengan pegangan besar di meja dapur. Hujan turun di luar jendela.

Doti melihat panci perak kecil itu. Ada lubang kecil di dekat dasarnya, dan air menetes ke lantai. “Kita tidak bisa memasak sup dengan panci itu hari ini,” kata Doti.

Tak lama kemudian Bu Bel pulang membawa panci baru yang mengilap. Panci itu lebar, dalam, dan punya dua pegangan besar. Bu Bel mengintip ke dalamnya. “Aduh! Panci ini terlalu besar untuk dua mangkuk sup.”

Bu Bel dan Doti melihat melalui jendela dapur yang berbintik hujan. Doti menunjuk ke arah Pak Pinus yang sedang menyapu di luar, sementara panci besar ada di meja.

Doti memandang dari jendela yang berbintik hujan. Di seberang jalan, Pak Pinus sedang menyapu terasnya. Di rumah sebelah, si kembar Nia dan Sam menempelkan hidung ke kaca.

“Mungkin panci ini pas untuk lebih banyak teman,” kata Doti.

Bu Bel tersenyum. “Kita adakan kumpul sup saat hujan!”

Saat hujan di depan rumah kuning berpintu bulat biru, Pak Pinus menawarkan tiga wortel kepada Doti. Doti memegang mangkuk merah di sampingnya.

Doti meluncur dari pintu ke pintu membawa mangkuk merahnya. “Mari makan sup,” katanya kepada para tetangga. “Kalau ada, bawalah satu bahan sederhana.”

Pak Pinus membawa tiga wortel. Nia dan Sam membawa sekantong kecil kacang polong. Bu Hijau membawa mi dalam bungkus kertas, dan Pak Lo membawa satu bawang bulat. Mereka mengibaskan tetes hujan dari jas, lalu masuk ramai-ramai ke dapur Bu Bel yang hangat.

Bu Bel memegang bawang di atas panci perak yang mengepul, sementara Doti menuangkan mi dan sayuran dari mangkuk merahnya. Nia melihat dengan gembira di dekat kompor.

Bu Bel mengisi panci besar dengan air. Doti membantu memasukkan wortel, kacang polong, mi, dan bawang. Tak lama kemudian sup itu mendidih pelan.

Sambil menunggu, para tetangga menata mangkuk dan sendok di meja. “Harumnya enak sekali!” kata Nia.

“Seperti hari hujan yang berubah jadi pesta,” kata Sam.

Nia, Doti, dan Sam duduk di meja sambil memegang mangkuk sup. Di belakang mereka, Bu Bel mengaduk panci perak besar di dapur yang hangat.

Saat makan siang, Bu Bel menuangkan sup ke mangkuk demi mangkuk. Doti duduk bersama teman-temannya sambil memegang mangkuk merahnya yang penuh.

Ternyata panci baru yang besar itu pas untuk semua. Di luar jendela, hujan masih mengetuk pelan.