Semua ceritaBram dan Perahu Tutup Botol
Bram dan Pipi melihat perahu tutup botol merah mereka dengan layar daun meluncur lurus di sepanjang tepi kolam.CERITA BERGAMBAR
Perancang Cilik

Bram dan Perahu Tutup Botol

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

3 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Bram dan Perahu Tutup Botol

Bram, seekor luak berwarna koral dengan syal biru panjang, berjongkok di tepi kolam dan melihat tutup botol merah mengilap di rumput.

Bram si luak menemukan tutup botol merah mengilap di tepi kolam taman. Bentuknya bulat seperti piring kecil dan merah cerah seperti buah beri.

“Ini pasti jadi perahu bagus!” kata Bram. Ia meletakkannya di air. Plup! Tutup botol itu mengapung, tetapi berputar-putar.

Bram mengikat daun kuning besar pada ranting yang melintang di atas tutup botol merah, membuat perahu layar kecil di tepi kolam.

Bram bergegas pulang mengambil ranting kecil. Ia meletakkannya melintang di atas tutup botol. “Tiang layar!” katanya. Lalu ia mengikat daun lembut pada ranting itu dengan batang rumput.

Angin kecil mengembungkan layar daun itu. Namun perahunya tetap berputar-putar dekat tepi kolam.

“Aduh!” kata Bram. “Perahu ini belum mau melaju lurus.”

Bram dan Pipi si katak kuning memegang ujung-ujung syal biru panjang milik Bram saat syal itu berkibar menuju pohon willow di tepi kolam.

Saat itu, Pipi si katak muncul di sampingnya. Bram melihat kolam, lalu syal birunya yang panjang.

“Boleh pakai syalmu untuk melihat arah angin?” tanya Pipi.

Bram mengangkat satu ujung syal. Pipi memegang ujung lainnya di rumput. Syal biru itu berkibar ke arah pohon willow.

“Anginnya ke sana,” kata Bram. Ia menaruh perahu di tepi kolam yang jernih, tempat mereka berdua bisa menjangkaunya.

Pipi menunjuk ke arah perahu kecil saat Bram mengatur tiang ranting dan layar daun kuningnya di tepi air.

Pipi menunjuk dengan kaki berselaputnya. “Putar tiang layarnya sedikit.”

Bram memiringkan ranting itu agar layar daun menghadap syal yang berkibar.

Bram dan Pipi melihat perahu tutup botol merah mereka dengan layar daun meluncur lurus di sepanjang tepi kolam.

Mereka menaruh perahu itu di air lagi. Perahu itu bergoyang sekali, lalu meluncur di samping tepi rumput, tidak berputar-putar lagi.

“Perahunya melaju lurus!” kata Pipi. Ia dan Bram berjalan di tepi kolam, dekat dengan perahu mereka.

Bram memegang perahu tutup botol merah dengan layar daun dan cangkang biji ek kuning di dalamnya, sementara Pipi dengan gembira mengangkat bulu putih kecil.

Di ujung perjalanan pendeknya, Bram mengangkat perahu dari air. Layar daunnya basah, tetapi tutup merahnya masih berkilau.

“Perahu ini butuh penumpang,” kata Pipi. Bram memasukkan cangkang biji ek kuning ke dalamnya, lalu Pipi menemukan bulu putih kecil.

Bersama-sama, mereka melihat perahu itu meluncur mulus di sepanjang tepi kolam sekali lagi.

“Besok kita buat satu lagi,” kata Bram sambil melilitkan syal birunya ke leher.

“Dengan dua layar?” tanya Pipi.

Bram tertawa. “Dengan tiga!”