Semua ceritaBram dan Balon Biru Besar
Di pasar, burung putih bernyanyi di bawah balon biru raksasa berhias not musik putih, sementara Bram tersenyum di dekatnya dengan kuas terselip di belakang telinga.DUNIA KECIL MENANTIMU
Perancang Cilik

Bram dan Balon Biru Besar

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Bram dan Balon Biru Besar

Di Pasar Padang, Bram, tikus kecil abu-abu berbaju pelukis hijau, memandang ke atas sambil memegang kuas ke arah balon biru raksasa dengan tiga not musik putih.

Bram adalah tikus kecil abu-abu yang melukis papan tanda untuk Pasar Padang. Ia melukis apel merah bulat untuk kios buah dan matahari kuning untuk kios madu. Kuasnya kecil, tetapi huruf-huruf buatannya rapi.

Pada suatu pagi yang berangin, Bram menemukan balon biru besar di jalan setapak. Balon itu setengah terisi udara, masih bulat, dan lebih lebar daripada seluruh rumahnya. “Apa langit menjatuhkan blueberry?” cicitnya.

Bram berlari di jalan pasar mengejar balon biru yang menggelinding ke bawah bangku putih besar, dengan kios wortel dan kolam di belakangnya.

Ia menyentuhnya dengan kuas. Plop! Balon biru itu memantul sekali, lalu menggelinding menyusuri jalan.

“Tunggu!” Bram berlari mengejarnya. Balon itu melewati gerobak wortel, masuk ke bawah bangku, lalu menuju kolam bebek.

Di tepi kolam, burung putih tinggi memegang tali balon biru dengan lembut di paruhnya, sementara Bram berlutut di samping balon sambil memegang kuas.

Di dekat kolam berdiri seekor burung putih tinggi. Seutas tali biru menjuntai dari paruhnya. Wajahnya tampak cemas. Balon biru itu berhenti di rumput di sampingnya.

“Balonku tertiup angin,” kata burung itu. “Balon ini adalah papan tanda untuk pertunjukan musikku.”

Bram memperhatikan dengan saksama. Balon biru besar itu masih setengah penuh udara.

Bram memegang sedotan pucat di lubang balon biru yang kempis, sementara burung putih tinggi menunduk ke ujung sedotan yang lain.

“Kurasa kita bisa membuatnya bulat lagi,” kata Bram. Ia mengambil sedotan halus dari penjual buah. Dengan pelan, ia memasukkan satu ujung sedotan ke lubang balon dan mengikat tali balon di sekeliling sedotan. Lalu ujung sedotan yang lain ia arahkan ke paruh si burung.

Burung putih tinggi memegang tali balon biru besar dan bulat, sementara Bram menjangkau ke atas untuk melukis tiga not musik putih di balon itu di tepi kolam.

Burung itu meniup. Bram memegang erat. Balon itu makin lama makin besar—biru, bulat, dan cerah.

Bram melukis tiga not putih di sisinya: do, do, do.

Di pasar, burung putih bernyanyi di bawah balon biru raksasa berhias not musik putih, sementara Bram tersenyum di dekatnya dengan kuas terselip di belakang telinga.

Sore itu, burung putih bernyanyi di dekat Pasar Padang. Papan tanda balon birunya bergoyang di atas, seperti sepotong langit kecil. Bram duduk di depan dengan kuas terselip di belakang telinganya. Ia tersenyum melihat papan tanda terbesar yang pernah ia bantu buat.