DUNIA KECIL MENANTIMUBram dan Balon Biru Besar
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Bram dan Balon Biru Besar

Bram adalah tikus kecil abu-abu yang melukis papan tanda untuk Pasar Padang. Ia melukis apel merah bulat untuk kios buah dan matahari kuning untuk kios madu. Kuasnya kecil, tetapi huruf-huruf buatannya rapi.
Pada suatu pagi yang berangin, Bram menemukan balon biru besar di jalan setapak. Balon itu setengah terisi udara, masih bulat, dan lebih lebar daripada seluruh rumahnya. “Apa langit menjatuhkan blueberry?” cicitnya.

Ia menyentuhnya dengan kuas. Plop! Balon biru itu memantul sekali, lalu menggelinding menyusuri jalan.
“Tunggu!” Bram berlari mengejarnya. Balon itu melewati gerobak wortel, masuk ke bawah bangku, lalu menuju kolam bebek.

Di dekat kolam berdiri seekor burung putih tinggi. Seutas tali biru menjuntai dari paruhnya. Wajahnya tampak cemas. Balon biru itu berhenti di rumput di sampingnya.
“Balonku tertiup angin,” kata burung itu. “Balon ini adalah papan tanda untuk pertunjukan musikku.”
Bram memperhatikan dengan saksama. Balon biru besar itu masih setengah penuh udara.

“Kurasa kita bisa membuatnya bulat lagi,” kata Bram. Ia mengambil sedotan halus dari penjual buah. Dengan pelan, ia memasukkan satu ujung sedotan ke lubang balon dan mengikat tali balon di sekeliling sedotan. Lalu ujung sedotan yang lain ia arahkan ke paruh si burung.

Burung itu meniup. Bram memegang erat. Balon itu makin lama makin besar—biru, bulat, dan cerah.
Bram melukis tiga not putih di sisinya: do, do, do.

Sore itu, burung putih bernyanyi di dekat Pasar Padang. Papan tanda balon birunya bergoyang di atas, seperti sepotong langit kecil. Bram duduk di depan dengan kuas terselip di belakang telinganya. Ia tersenyum melihat papan tanda terbesar yang pernah ia bantu buat.