DUNIA KECIL MENANTIMUBimo dan Kantong Angin
Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.
Baca bersama atau dengarkan per halamanBaca seluruh cerita
Bimo dan Kantong Angin

Bimo adalah tikus kecil berwarna cokelat yang tinggal di bawah lantai toko mainan yang ramai. Setiap malam, saat toko sudah sunyi, ia mengumpulkan kancing yang jatuh, potongan benang lembut, dan remah biskuit dari kaleng di dekat meja kasir.
Pada suatu malam yang berangin, Bimo menemukan sesuatu yang baru: sekantong angin kecil terjebak di dalam kantong kertas. Kantong itu mengembung lalu meluncur di lantai. “Wusss!” bunyinya.

Bimo mengejarnya melewati kereta mainan, ke bawah kuda goyang merah, lalu ke belakang rak balok-balok yang tinggi. Kantong itu menabrak tumpukan perahu kayu kecil. Plup! Satu perahu jatuh ke mangkuk air milik kucing toko.
Perahu itu mengapung, tetapi layar kertasnya basah dan terkulai. Telinga Bimo ikut terkulai. “Perahu ini perlu layar yang kering,” katanya.

Ia bergegas pulang dan mengambil harta kesayangannya: sepotong kain biru dari pita lama. Dengan dua potong benang pendek, ia mengikat kain itu pada tiang kecil perahu. Lalu Bimo menaruh perahu itu perlahan di atas air.

Di dalam kantong kertas, angin kecil itu mengembus. “Wusss!” Layar biru mengembang. Perahu itu meluncur mengelilingi mangkuk, melewati kumis si kucing, lalu kembali dengan aman ke tepi.
Bimo bertepuk tangan dengan kaki depannya yang mungil. “Kamu bukan angin yang kabur,” katanya kepada kantong itu. “Kamu angin untuk berlayar!”

Sepanjang malam, Bimo membuat layar-layar kecil dari pita dan daun. Saat pagi tiba, banyak perahu cerah sudah menunggu di dekat jendela. Ketika pintu toko dibuka, angin lembut masuk. Semua layar berkibar, dan perahu-perahu kecil itu bergoyang di mangkuknya.

Penjaga toko berhenti dan tersenyum melihat armada kecil itu. Di bawah lantai, Bimo mendengarkan kantong anginnya mengeluarkan bunyi puas. “Wusss!”