Semua ceritaBimo dan Kantong Angin
Bimo bertepuk tangan di samping mangkuk air saat perahu berlatar layar biru berputar di air. Kucing abu-abu melihat kantong kertas mengembung di dekat wajahnya.DUNIA KECIL MENANTIMU
Sahabat hewan

Bimo dan Kantong Angin

Duduk nyaman, mendekat, dan biarkan ceritanya membawamu ke dunia baru.

3 menit6 halaman
Baca bersama atau dengarkan per halaman
Cerita terbaik adalah yang kita baca bersama.
Baca seluruh cerita

Bimo dan Kantong Angin

Bimo, tikus kecil berwarna cokelat, melihat kantong kertas abu-abu yang mengembung meluncur di lantai toko mainan. Kereta mainan biru dan kuda goyang merah ada di dekatnya.

Bimo adalah tikus kecil berwarna cokelat yang tinggal di bawah lantai toko mainan yang ramai. Setiap malam, saat toko sudah sunyi, ia mengumpulkan kancing yang jatuh, potongan benang lembut, dan remah biskuit dari kaleng di dekat meja kasir.

Pada suatu malam yang berangin, Bimo menemukan sesuatu yang baru: sekantong angin kecil terjebak di dalam kantong kertas. Kantong itu mengembung lalu meluncur di lantai. “Wusss!” bunyinya.

Bimo mengintip ke dalam mangkuk air besar pada perahu kecil dengan layar biru yang terkulai. Kucing toko abu-abu besar melihat dari sisi lain.

Bimo mengejarnya melewati kereta mainan, ke bawah kuda goyang merah, lalu ke belakang rak balok-balok yang tinggi. Kantong itu menabrak tumpukan perahu kayu kecil. Plup! Satu perahu jatuh ke mangkuk air milik kucing toko.

Perahu itu mengapung, tetapi layar kertasnya basah dan terkulai. Telinga Bimo ikut terkulai. “Perahu ini perlu layar yang kering,” katanya.

Bimo dengan hati-hati mengikat layar kain biru berbentuk persegi pada tiang perahu kayu kecil yang mengapung di mangkuk air.

Ia bergegas pulang dan mengambil harta kesayangannya: sepotong kain biru dari pita lama. Dengan dua potong benang pendek, ia mengikat kain itu pada tiang kecil perahu. Lalu Bimo menaruh perahu itu perlahan di atas air.

Bimo bertepuk tangan di samping mangkuk air saat perahu berlatar layar biru berputar di air. Kucing abu-abu melihat kantong kertas mengembung di dekat wajahnya.

Di dalam kantong kertas, angin kecil itu mengembus. “Wusss!” Layar biru mengembang. Perahu itu meluncur mengelilingi mangkuk, melewati kumis si kucing, lalu kembali dengan aman ke tepi.

Bimo bertepuk tangan dengan kaki depannya yang mungil. “Kamu bukan angin yang kabur,” katanya kepada kantong itu. “Kamu angin untuk berlayar!”

Bimo berdiri di samping mangkuk besar berisi lima perahu layar kecil berwarna biru, hijau, dan jingga kecokelatan. Potongan pita dan daun tergeletak di lantai di bawah jendela terang.

Sepanjang malam, Bimo membuat layar-layar kecil dari pita dan daun. Saat pagi tiba, banyak perahu cerah sudah menunggu di dekat jendela. Ketika pintu toko dibuka, angin lembut masuk. Semua layar berkibar, dan perahu-perahu kecil itu bergoyang di mangkuknya.

Seorang penjaga toko membungkuk melihat mangkuk berisi perahu layar kecil di atas lantai. Di bawah garis lantai, Bimo duduk di samping kantong kertas besar yang mengembung di ruang kecilnya.

Penjaga toko berhenti dan tersenyum melihat armada kecil itu. Di bawah lantai, Bimo mendengarkan kantong anginnya mengeluarkan bunyi puas. “Wusss!”