CERITA BERGAMBARBadu si Badger dan Sungai yang Mengalir ke Samping
Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.Baca seluruh cerita
Badu si Badger dan Sungai yang Mengalir ke Samping

Badu si badger suka menghitung saat berjalan. Tiga jamur merah. Empat batu licin. Lima tetes hujan gemuk di atas daun.
Pada suatu pagi yang cerah, Badu sampai di sungai kecil di belakang liang rumahnya. Biasanya sungai itu mengalir menuruni bukit menuju rumpun ilalang. Tetapi hari ini, airnya menyebar di atas rumput dan mengalir tipis melintasi jalan setapak.
“Itu bukan jalan sungai,” kata Badu. Ia melihat ke bawah bukit. Alur sungai yang biasa, di bawah jalan setapak, hampir kering.
Sekuntum bunga kuning hanyut melewati kaki Badu di air yang dangkal. Lalu sebuah perahu mainan kayu kecil melaju tegak, dengan haluannya di depan. Badu berlari kecil di tepi aliran baru itu sambil menghitung. Satu belokan. Dua pohon willow. Tiga batu pijakan yang licin.

Di puncak bukit ada kolam bundar. Di tengahnya berdiri bendungan dari ranting dan lumpur. Air menumpuk di belakang bendungan itu, lalu meluap dari sampingnya dan mengalir melintasi rumput.
Di atas bendungan, Bina si berang-berang mendorong sebatang ranting dengan hidungnya. “Ranting ini tidak mau pas,” katanya sambil terengah. “Aku membutuhkannya untuk kolam baruku.”
Badu memandang air yang tinggi, lalu alur sungai di bawah yang lambat dan hampir kering. “Bendunganmu menghalangi sungai,” katanya. “Airnya jadi tumpah ke aliran yang salah.”
Telinga Bina turun. “Aku hanya ingin tempat yang tenang untuk perahu-perahu mainanku.”

Badu menunjuk tanah berlumpur yang lebar di samping kolam. “Bagaimana kalau kolammu dibuat di sana?”

Bina berkedip. Lalu ia menarik satu ranting panjang dari bendungan. Byur! Air menerobos celah itu dan bergegas menuruni alur sungai menuju rumpun ilalang. Bunga kuning berputar, dan perahu kayu kecil itu melaju tegak dengan haluannya di depan di samping bunga itu.

Di rumpun ilalang di bawah kolam, bunga kuning itu mengapung bebas. Perahu kecil itu tersangkut pelan di antara dua batang ilalang hijau. Badu mengarungi air dangkal lalu mengangkatnya dengan kedua telapak kakinya. “Dapat!” katanya. Bina tersenyum dan membawa perahunya yang sudah kering ke tanah berlumpur.
Badu dan Bina membawa ranting-ranting ke tanah berlumpur. Bina membuat dinding kecil yang melengkung. Badu menekan lumpur lembut di bawahnya dengan telapak kakinya yang lebar. Tak lama kemudian, kolam kecil yang tenang terisi air di samping sungai.

Bina meletakkan perahu mainannya yang tadi diselamatkan di kolam. Perahu itu berputar pelan satu kali. Badu melihat sungai kembali mengalir menuruni bukit, seperti seharusnya.
“Satu sungai,” kata Badu. “Satu kolam.”
“Dan satu penolong yang hebat,” kata Bina.
Badu tersenyum saat pulang. Ia menghitung enam batu licin, tujuh jamur merah, dan satu perahu kecil yang mengapung tenang di kolamnya sendiri.