Semua ceritaBadu si Badger dan Sungai yang Mengalir ke Samping
Bina menarik ranting panjang dari bendungan, lalu air memercik menerobos ke arah bunga kuning dan perahu kayu kecil.CERITA BERGAMBAR
Sahabat hewan

Badu si Badger dan Sungai yang Mengalir ke Samping

Duduk yang nyaman, lalu mulai baca saat kamu siap.

4 menit6 halaman
Kamu juga bisa mendengarkan tiap halaman.
Mau baca tanpa pindah halaman? Buka cerita lengkap di bawah.
Baca seluruh cerita

Badu si Badger dan Sungai yang Mengalir ke Samping

Badu si badger berdiri di tepi aliran biru lebar yang melintasi rumput. Perahu kecil berwarna karat dan bunga kuning hanyut lewat, sementara alur sungai yang tipis dan kering berkelok di belakangnya.

Badu si badger suka menghitung saat berjalan. Tiga jamur merah. Empat batu licin. Lima tetes hujan gemuk di atas daun.

Pada suatu pagi yang cerah, Badu sampai di sungai kecil di belakang liang rumahnya. Biasanya sungai itu mengalir menuruni bukit menuju rumpun ilalang. Tetapi hari ini, airnya menyebar di atas rumput dan mengalir tipis melintasi jalan setapak.

“Itu bukan jalan sungai,” kata Badu. Ia melihat ke bawah bukit. Alur sungai yang biasa, di bawah jalan setapak, hampir kering.

Sekuntum bunga kuning hanyut melewati kaki Badu di air yang dangkal. Lalu sebuah perahu mainan kayu kecil melaju tegak, dengan haluannya di depan. Badu berlari kecil di tepi aliran baru itu sambil menghitung. Satu belokan. Dua pohon willow. Tiga batu pijakan yang licin.

Bina si berang-berang mendorong ranting panjang ke bendungan dari ranting dan lumpur di tepi kolam, sementara Badu menunjuk ke arah air.

Di puncak bukit ada kolam bundar. Di tengahnya berdiri bendungan dari ranting dan lumpur. Air menumpuk di belakang bendungan itu, lalu meluap dari sampingnya dan mengalir melintasi rumput.

Di atas bendungan, Bina si berang-berang mendorong sebatang ranting dengan hidungnya. “Ranting ini tidak mau pas,” katanya sambil terengah. “Aku membutuhkannya untuk kolam baruku.”

Badu memandang air yang tinggi, lalu alur sungai di bawah yang lambat dan hampir kering. “Bendunganmu menghalangi sungai,” katanya. “Airnya jadi tumpah ke aliran yang salah.”

Telinga Bina turun. “Aku hanya ingin tempat yang tenang untuk perahu-perahu mainanku.”

Bina memperhatikan Badu yang berdiri di kolam dangkal dekat tepi berlumpur dan bendungan ranting lama.

Badu menunjuk tanah berlumpur yang lebar di samping kolam. “Bagaimana kalau kolammu dibuat di sana?”

Bina menarik ranting panjang dari bendungan, lalu air memercik menerobos ke arah bunga kuning dan perahu kayu kecil.

Bina berkedip. Lalu ia menarik satu ranting panjang dari bendungan. Byur! Air menerobos celah itu dan bergegas menuruni alur sungai menuju rumpun ilalang. Bunga kuning berputar, dan perahu kayu kecil itu melaju tegak dengan haluannya di depan di samping bunga itu.

Badu berdiri di air dangkal sambil memegang perahu kecil berwarna karat milik Bina, sementara Bina menunggu di tepi berlumpur.

Di rumpun ilalang di bawah kolam, bunga kuning itu mengapung bebas. Perahu kecil itu tersangkut pelan di antara dua batang ilalang hijau. Badu mengarungi air dangkal lalu mengangkatnya dengan kedua telapak kakinya. “Dapat!” katanya. Bina tersenyum dan membawa perahunya yang sudah kering ke tanah berlumpur.

Badu dan Bina membawa ranting-ranting ke tanah berlumpur. Bina membuat dinding kecil yang melengkung. Badu menekan lumpur lembut di bawahnya dengan telapak kakinya yang lebar. Tak lama kemudian, kolam kecil yang tenang terisi air di samping sungai.

Bina duduk di tepi kolam tenang dengan perahu kecilnya mengapung di atasnya. Badu berjalan pergi melewati jamur dan batu, sementara sungai biru berkelok di belakang mereka.

Bina meletakkan perahu mainannya yang tadi diselamatkan di kolam. Perahu itu berputar pelan satu kali. Badu melihat sungai kembali mengalir menuruni bukit, seperti seharusnya.

“Satu sungai,” kata Badu. “Satu kolam.”

“Dan satu penolong yang hebat,” kata Bina.

Badu tersenyum saat pulang. Ia menghitung enam batu licin, tujuh jamur merah, dan satu perahu kecil yang mengapung tenang di kolamnya sendiri.